Terhenti, Berpikir dan Memilih

Muslimah
Muhammad Lutfi
19 Dec 2020
Terhenti, Berpikir dan Memilih

Ragaku belum lupa dengan hangatnya buaian

Akalku masih sampai tuk mengenang teman sepermainan

Bibirku pun masih mampu mengisahkan ragam  pilu dan kebahagiaan disekolahan

Ternyata, aku telah tumbuh dewasa dibawah asuhan Puan dan Tuan

Langkahku bahkan hampir sampai pada tujuan

Namun, hatiku enggan beranjak akibat sebuah keraguan

Padahal Puan dan Tuan telah menantiku digerbang kesuksesan

Dengan binar senyum kebahagiaan

Tapi aku memilih menitihkan air mata penyesalan


Mengapa tidak ?

Usia yang kuterima telah beranjak bahkan lebih dari kata dewasa

Sang pemilikku pun bahkan tak mengenal usia tuk memanggilku pulang kekampung halaman

Namun, lihatlah bekalku yang tak kunjung terisi penuh

Bahkan hampir habis karena hiruk pikuk kelalaian yang kadang tak terbantahkan

Sungguh, betapa payah diriku wahai Rabb pemilik kehidupan


Bumi kau biarkan berputar pada porosnya

Mengubah siang dan  malam dengan begitu apiknya

Terus berganti seakan tanpa henti mengisyaratkan kepada penghuninya

Bahwa kelak ia juga akan berhenti atas izin pemiliknya

Begitupun dengan diriku ini

Tapi ia berbeda, Ia taat

Tanpa penyesalan ia akan selamat


Namun, apa kabar dengan diriku?

Apakah yang kuperbuat ini telah benar?

Ya… ,mungkin dunia akan menjawabku dengan benar

Tapi, apakah kampung akhirat akan menjamin kiprahku dapat pula berbinar?

Sedang diriku buta ilmu agama yang seharusnya kujadikan sebagai pilar

Lalu apakah Rabbku dapat menerima kedatanganku kekampung halaman dengan tangan lebar?

Cemasku, kelak ku harus menjawab pertanyaan panjang lebar

Kau habiskan untuk apa waktumu wahai anak muda yang katanya terpelajar?

Apakah  kau akan menceritakan tawa, senda gurau dan kesenangan duniamu semata?

Apakah kau akan  menceritakan permainan dan kesibukan duniamu semata?


Ilmu dunia yang kau kecap saat ini mungkin akan melahirkanmu sebagai insan yang jauh lebih bermanfaat

Tapi, apakah kau tak ingin megecapnya dengan sedikit lebih manis karena kau barengi dengan ilmu agama ?

Mungkin, sontak kau akan bertanya

Setelah akal dan hatimu terbuka

Manakah yang perlu ku kecap?

Maka jawabnya singkat,

Kecaplah keduanya

Agar kau rasakan nikmat hikmah dari keduanya


Oleh: Andi Fadilah Farhana

Peserta Kelas Menulis Muslimah Wahdah Makassar