RAMADAN DAN UJIAN AKHIR ZAMAN

Naskah Khutbah
Asdar
05 Mar 2026
RAMADAN DAN UJIAN AKHIR ZAMAN

JUMAT, 16 Ramadan 1447 H / 6 Maret 2026 M
 Oleh Dr. Muhammad Ihsan Zainuddin, Lc., M.Si.

Dep. Dakwah DPD Wahdah Islamiyah Makassar

KHUTBAH PERTAMA

 

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ..

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار

أَيُّهَا النَّاسُ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...

Sesungguhnya ujian terhadap agama dan iman di zaman ini benar-benar banyak. Seorang muslim membuka mata, ia melihat ujian terhadap agama dan imannya. Ia membuka layar ponsel, ia melihat ujian terhadap agama dan imannya. Ia duduk di majelis, ia mendengar ujian terhadap agama dan imannya. Bahkan banyak ujian terhadap agama dan iman itu datang dengan kemasan yang tampak “membela Islam”, tetapi justru mengikis iman dan akhlak dari dalam. Dan inilah yang Nabi ﷺ telah peringatkan dengan peringatan yang sangat keras. Beliau bersabda:

بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا… يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

Artinya: “Bersegeralah beramal sebelum datang fitnah (ujian terhadap agama dan iman) seperti potongan malam yang gelap; pagi beriman sore kafir… ia menjual agamanya demi sedikit keuntungan dunia.” (HR. Muslim).

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...

Perhatikan, Nabi ﷺ tidak mengatakan “ujian terhadap agama dan iman itu masih jauh”! Beliau menyuruh kita bersegera, artinya ujian terhadap agama dan iman itu dekat, cepat, dan bisa mengubah arah hidup seseorang dalam sekejap. Karena itu, Ramadan bukan sekadar bulan menahan lapar, tetapi bulan menguatkan benteng agar kita tidak dijatuhkan ujian terhadap agama dan iman.

Nabi ﷺ juga bersabda:

يَتَقَارَبُ الزَّمَانُ، وَيُقْبَضُ الْعِلْمُ، وَتَظْهَرُ الْفِتَنُ… وَيَكْثُرُ الْهَرْجُ قَالُوا: وَمَا الْهَرْجُ؟ قَالَ: الْقَتْلُ

Artinya: “Zaman terasa singkat, ilmu dicabut, ujian terhadap agama dan imannya bermunculan… dan banyak al-Harj.” Para sahabat bertanya: “Apa itu al-harj?” Beliau menjawab: “Pembunuhan.” (Muttafaqun ‘alaih).

Inilah yang kita saksikan: berita konflik, serangan, pemboman, dan pertumpahan darah. Dan kita sedang menyaksikan pula eskalasi perang yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Laporan-laporan internasional menyebut Israel dan Amerika melancarkan serangan besar terhadap target-target di Iran, dan Iran pun membalas dengan serangan rudal/drone, sementara dampaknya menjalar ke kawasan lainnya.

Lalu bagaimana sikap Ahlussunnah wal Jama’ah, khususnya di bulan Ramadan, ketika melihat perang yang oleh sebagian orang dipresentasikan sebagai “Islam melawan Zionis”, padahal pihak yang terlibat pun penuh kerumitan akidah, propaganda, dan kepentingan?

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...

Sikap Ahlussunnah dimulai dari tashfiyah—pemurnian aqidah: kita menimbang semua peristiwa dengan timbangan tauhid dan sunnah, bukan timbangan fanatisme, kebencian, atau euforia media.

Ahlussunnah meyakini: Israel dengan ideologi Zionisnya adalah pihak yang melakukan kezaliman besar, penindasan, dan agresi—ini kezaliman yang wajib kita ingkari sesuai kemampuan, dengan cara yang syar’i: doa, dukungan kemanusiaan, penyadaran yang benar, dan menolak narasi dusta.

Namun Ahlussunnah juga tidak menutup mata bahwa Iran adalah negara Syiah Rafidhah, yang memiliki penyimpangan akidah yang besar dari manhaj sahabat, dan selama puluhan tahun juga menimbulkan banyak ujian dan fitnah, serta kekacauan di banyak negeri kaum muslimin. Maka Ahlussunnah tidak menukar satu kebatilan dengan kebatilan yang lain. Kita tidak memutihkan kesesatan akidah hanya karena satu pihak sedang bermusuhan dengan musuh yang lain.

Di sinilah banyak umat Islam yang menjadi korban dari fitnah dan ujian terhadap agama dan iman itu: mereka mencampuradukkan kebenaran dan kebatilan.

Ada yang berkata: “Yang penting melawan Zionis!” lalu menutup mata dari kerusakan akidah dan kezaliman lain.

Ada yang berkata: “Yang penting anti-Syiah!” lalu terjatuh pada kezhaliman, hoaks, dan kebencian membabi buta. Ahlussunnah tidak begitu.

Ahlussunnah adalah umat yang adil: membenci kekufuran dan kezaliman, namun tidak keluar dari akhlak Islam; menolak kesesatan, namun tetap menjaga lisan dan tangan kita dari dosa.

Karena itu, dasar pertama menghadapi ujian terhadap agama dan imannya: kembali kepada tauhid dan qadar. Allah berfirman:

 مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ

Terjemahnya: “Tidak ada musibah yang menimpa kecuali dengan izin Allah. Siapa beriman kepada Allah, Allah akan memberi petunjuk pada hatinya.” (Surat At-Taghabun (64) ayat 11)

Berita perang, konflik, dan ancaman—semuanya mengguncang. Tetapi orang beriman punya “kompas”: yakin bahwa Allah mengatur segala sesuatu dengan hikmah, dan kewajiban kita adalah bertakwa, memperbaiki diri, dan mengambil sebab yang benar.

Dasar kedua: berlindung kepada Allah dari ujian terhadap agama dan imannya. Nabi ﷺ mengajarkan:

تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ

Artinya: “Mohon perlindunganlah kepada Allah dari berbagai ujian dalam agama, baik yang tampak maupun yang tidak.”  (HR. Muslim).

Maka di bulan Ramadan, perbanyak doa-doa keselamatan: “Ya Allah, lindungi kami dari ujian terhadap agama dan imannya yang tampak dan yang tersembunyi.” Perbanyak sujud, perbanyak istighfar. Karena ujian bukan hanya dalam wujud peluru dan bom; ujian yang paling mematikan adalah ujian yang merampas iman.

Dasar ketiga: ilmu syar’i dan merujuk kepada ulama rabbani. Ujian terhadap agama dan iman itu gelap; dan yang bisa meneranginya adalah ilmu. Tanpa ilmu, orang mudah jadi alat propaganda: mudah menelan kabar bohong, mudah mengkafirkan, mudah menuduh, mudah menghalalkan yang haram atas nama “perjuangan”. Padahal Nabi ﷺ menyebut dicabutnya ilmu adalah tanda fitnah di akhir zaman.

Maka Ramadan kita jadikan momentum kembali ke majelis ilmu: baca Qur’an dengan tafsir yang benar, dengar kajian aqidah yang lurus, pahami manhaj salaf agar kita tidak “tersedot arus”.

Dasar keempat: luzumul jama’ah—menjaga persatuan di atas Kitab dan Sunnah. Allah berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

Terjemahnya: “Dan berpegangteguhlah kalian dengan tali Allah dan janganlah berpecah-belah…” (Surat Ali-Imran (3) ayat 103)

Dan yang dimaksud dengan “Jamaah” adalah siapapun yang istiqamah di atas manhaj Ahlussunnah. Karena itu, jangan jadikan perang “di luar sana” sebagai pemicu perpecahan “di dalam sini”: saling menuduh, saling mencela, saling mengkafirkan, saling memutus. Itu kemenangan bagi setan.

Dasar kelima: menjauhi ujian terhadap agama dan imannya dan tidak menjemputnya. Nabi ﷺ bersabda:

سَتَكُونُ فِتَنٌ… مَنْ تَشَرَّفَ لَهَا تَسْتَشْرِفْهُ.

Artinya: “Akan terjadi banyak fitnah (ujian dalam agama)…dan siapa yang ‘menjulurkan diri’ ke dalam fitnah, maka fitnah itu akan menyeretnya.” (Muttafaq ‘alaih).

Hari ini banyak orang “menjulurkan diri” ke ujian terhadap agama dan imannya lewat komentar, share, provokasi, dan debat kusir tanpa ilmu, atau hanya berdasarkan emosi belaka tanpa tabayyun dan verifikasi.

Bulan Ramadan mestinya menahan kita melakukan itu. Kalau lisan kita saja disuruh menahan kata-kata kotor ketika berpuasa, apalagi menahan kata-kata yang mengobarkan kebencian dan menyebar hoaks.

Maka, jamaah sekalian…

Kaitkan semua ini dengan Ramadan. Ramadan adalah bulan taqwa. Allah berfirman:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Puasa melatih kita menahan diri dari yang halal demi Allah, maka lebih pantas lagi kita menahan diri dari yang haram demi Allah: hoaks, ghibah, ujian terhadap agama dan imannya, menghina, dan menyalakan api permusuhan.

Ramadan adalah bulan Al-Qur’an. Ramadan adalah bulan qiyam. Ramadan adalah bulan doa. Maka jadikan peristiwa-peristiwa besar di dunia sebagai pengingat untuk kembali kepada Allah, bukan menjadi sebab kita jatuh dalam dosa.

Di akhir khutbah ini, saya ingatkan amalan praktis di bulan Ramadan saat ujian terhadap agama dan imannya besar:

Perbanyak doa perlindungan ujian terhadap agama dan imannya, perbanyak istighfar. Perbanyak shalat malam—karena Nabi ﷺ bersabda:

الْعِبَادَةُ فِي الْهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إِلَيَّ

“Ibadah di masa kekacauan dan pembunuhan seperti hijrah kepadaku.” (HR. Muslim)

 Artinya: nilainya besar, karena banyak orang lalai saat ujian terhadap agama dan imannya.

Jaga lisan dan jempol. Tabayyun sebelum menyebar berita. Jangan jadi corong propaganda fitnah dan kebatilan. Dan perbanyak sedekah untuk korban-korban sipil dan bantuan kemanusiaan melalui jalur yang amanah.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ.

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لله عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِه، وَأَشهَدُ أَن لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِه، وأَشهدُ أنَّ نَبِيَّنَا مُحمَّدًا عَبدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلى رِضْوَانِه.

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...

Di khutbah pertama kita telah menegaskan: bahwa ujian terhadap agama dan iman kita di akhir zaman ini akan  semakin banyak, dan salah satu bentuknya adalah ketika kita dihadapkan pada pertumpahan darah, propaganda, dan penyimpangan dalam berIslam.

Maka di khutbah kedua ini, kita akan menegaskan seperti apa kita Ahlussunnah menyikapi fitnah dan ujian besar itu—tanpa kehilangan iman, tanpa kehilangan akhlak, dan tanpa keluar dari manhaj.

Pertama, Ahlussunnah menjaga lisan saat ujian dan fitnah itu terjadi. Di masa fitnah, terutama di akhir zaman ini, banyak orang tergelincir lisan dan opini yang dibiarkan liar. Terutama dengan bebasnya kita bermedsos-ria, sehingga semaunya berkomentar dan beropini. Nabi ﷺ bersabda:

وَكُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ: دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ

“Dan setiap muslim itu haram/tidak boleh dilecehkan darah, harta dan harga dirinya oleh (sesama) muslim.”  (HR. Muslim).

Maka jangan jadikan berita perang -misalnya- sebagai pembenaran untuk menumpahkan dosa: menuduh sembarang orang sebagai “antek zionis”, memaki, merendahkan, atau menyebarkan aib.

Jangan pula menjadikan konflik sebagai alasan untuk menghina kaum tertentu, apalagi menggeneralisasi kebencian kepada pihak lain, bahkan meskipun ia menyimpang dari kebenaran. Islam mengajarkan keadilan. Kita menolak kezaliman Zionisme sebagai ideologi dan praktik penjajahan, namun kita tetap terikat dengan adab Islam: tidak zalim, tidak berdusta, tidak menghalalkan yang haram.

Ingat pesan Nabi ﷺ kepada ‘Uqbah bin ‘Amir tentang bagaimana seharusnya menghadapi situasi fitnah dan chaos:

أَمْسِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ، وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ، وَابْكِ عَلَى خَطِيئَتِكَ

 “Tahan lisanmu, cukupkan dirimu di rumahmu, dan tangisilah dosamu.”  (HR. Tirmidzi, dishahihkan Al-Albani).

Ini bukan berarti kita tidak peduli. Tapi kita peduli dengan cara yang benar: cara yang menyelamatkan agama dan keimanan kita.

Kedua, Ahlussunnah menolak propaganda yang mencampuradukkan aqidah. Di tengah perang Iran–Israel–Amerika, ada yang menggiring opini: seolah-olah ini “barisan Islam” versus “barisan kufur”.

Ahlussunnah menolak penyederhanaan yang menipu. Kita menilai dengan ilmu dan data: Zionisme dan agresinya adalah kezaliman yang nyata; Amerika secara politik dan militer mendukung Israel; dan Iran sebagai Syiah Rafidhah memiliki penyimpangan aqidah yang besar, dan juga sebenarnya terlibat dalam kerjasama dengan Amerika dalam menguasai Irak dan Afganistan di masa lalu.

Konflik antar negara tidak otomatis membuat salah satu pihak menjadi “pejuang agama” yang suci. Banyak agenda dunia dan kepentingan kekuasaan. Analisis semacam ini disampaikan juga oleh banyak lembaga riset keamanan dan kebijakan yang menggambarkan konflik ini sebagai operasi militer yang luas dengan dampak regional, bukan semata “perang agama” sederhana.

Maka sikap Ahlussunnah: kita tidak memberikan wala’ (loyalitas agama) kepada proyek akidah yang menyelisihi sunnah. Namun pada saat yang sama, kita tetap menolong yang dizalimi dan membenci kezaliman siapa pun pelakunya. Kita membela hak kaum muslimin yang tertindas, mendoakan keselamatan warga sipil, dan membantu kemanusiaan—tanpa menjadi pengikut propaganda “Si paling membela Palestina” misalnya.

Ketiga, Ahlussunnah memperkuat amal, bukan memperkuat emosi.

Nabi ﷺ menyebut: ibadah di masa “harj”, di masa fitnah dan chaos itu nilai pahalanya seperti hijrah. Maka di bulan Ramadhan ini, saat berita perang memenuhi udara, kita hadapi dengan menambah sujud, tambah tilawah, tambah sedekah, tambah istighfar. Jangan malah tambah debat, tambah memaki, dan hal-hal tak berguna lainnya.

Keempat, Ahlussunnah bersikap tenang, tidak tergesa-gesa.

Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ

Artinya: Sesungguhnya kelemahlembutan itu tidak berada dalam sesuatu melainkan ia akan menghiasinya. (HR. Muslim).

Dan termasuk dalam bentuk “kelemahlembutan” bersikap dan merespon itu adalah bersikap santun dan tidak tergesa. Ujian dan fitnah dalam agama dan iman itu sering menang dan mengalahkan manusia karena manusia emosional dan tergesa-gesa. Maka di Ramadan, latih diri: menahan emosi, menahan jempol, menahan lisan.

Kelima, Ahlussunnah sabar dan yakin pada pertolongan Allah. Allah berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ

Terjemahnya: “Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar.”  (Surah al-Baqarah: 155).

Maka jangan putus asa. Jangan menggantungkan harapan kepada senjata, tokoh, atau negara. Gantungkan harapan kepada Allah. Tapi ingat: pertolongan Allah turun kepada hamba yang memperbaiki iman dan takwa, bukan kepada yang terus menumpuk dosa lalu berharap kemenangan.

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...

Maka perbanyaklah doa untuk keselamatan kaum muslimin dan tertahannya kezaliman, terutama pada waktu mustajab: saat sahur, menjelang berbuka, dan di sepertiga malam terakhir.

Perbanyaklah sedekah dan bantuan kemanusiaan melalui jalur Amanah sebagai bentuk kepedulian yang nyata.

Batasi konsumsi berita; ambil seperlunya, selebihnya isi dengan Al-Qur’an. Jangan sampai Ramadan habis untuk mengikuti “live update perang”, sementara mushaf kita berdebu.

Perkuat keluarga: jadikan rumah bercahaya dengan shalat jamaah, tilawah, dan doa. Ujian terhadap agama dan imannya besar di luar tidak boleh membuat rumah kita runtuh di dalam.

إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ

اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.


Download PDFnya di https://bit.ly/RamadanDanUjianAkhirZaman

Baca Juga