AIR MATA PERPISAHAN DAN SENYUM KEMENANGAN

Naskah Khutbah
Asdar
19 Mar 2026
AIR MATA PERPISAHAN DAN SENYUM KEMENANGAN

JUMAT, 30 Ramadan 1447 H /20 Maret 2026 M
 Oleh Abdullah Nazhim Hamid, S.T., Lc., M.Ag.

Dep. Dakwah DPD Wahdah Islamiyah Makassar

KHUTBAH PERTAMA

 

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ..

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار

أَيُّهَا النَّاسُ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...

Hari ini bukan Jumat biasa, hari ini adalah Jumat perpisahan, perpisahan dengan bulan yang selama ini kita jalani, bukan sekadar hari biasa, tapi hari-hari penuh perjuangan

Coba kita putar kembali ingatan kita, beberapa hari yang lalu kita bangun di sepertiga malam dengan mata yang berat menahan kantuk demi sahur;

Kita berdiri dalam shalat, mungkin kaki kita Lelah, tapi kita tetap bertahan karena ingin dekat dengan Allah;

Kita menahan lapar, menahan haus, bahkan menahan emosi ketika ada yang menyakiti kita;

Kita membaca Al-Qur’an walau kadang terbata-bata, walau kadang harus melawan rasa malas, semua itu adalah perjuangan.

Dan hari ini, semua itu hampir menjadi kenangan.

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah.

Coba tanyakan pada hati kita, Kenapa ada rasa berat di dada ini? Kenapa ada rasa kehilangan yang tidak biasa? Karena kita sedang berpisah dengan bulan yang di dalamnya penuh keberkahan.

Hari ini, pintu itu akan kembali seperti semula, dan kita akan kembali menghadapi dunia yang penuh ujian…

Namun… Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah. 

Tidak semua orang merasakan hal yang sama hari ini, ada yang hari ini hatinya lembut, terharu, bahkan mungkin ingin menangis, karena merasa belum maksimal beribadah.

Tapi ada juga yang hari ini biasa saja, bahkan mungkin dalam hatinya berkata:“Alhamdulillah… akhirnya selesai juga…” Bukan karena rindu kepada Allah, tapi karena merasa bebas dari ibadah.  Tidak sempat membaca Al-Qur’an, tidak sempat shalat malam, tidak sempat menangis di hadapan Allah. Ramadan datang, tapi berlalu begitu saja, tanpa meninggalkan bekas

Kalau hari ini kita termasuk yang kedua, maka ini saatnya kita jujur. Kita telah melewatkan kesempatan terbesar dalam hidup kita. Karena belum tentu kita akan bertemu lagi dengan Ramadan berikutnya.

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah.

Maka hari ini, Mari kita duduk sejenak, bukan hanya dengan badan kita, tapi dengan hati kita, untuk bertanya dengan jujur: Apakah Ramadan ini benar-benar mengubah kita? Atau hanya sekadar lewat tanpa makna?

Setelah kita jujur bertanya pada diri kita di awal tadi, maka kini kita dihadapkan pada sebuah kenyataan yang tidak bisa kita hindari… bahwa di akhir Ramadan ini, manusia terbagi menjadi dua golongan.

Golongan pertama adalah mereka yang hidup hatinya. Mereka adalah orang-orang yang benar-benar merasakan makna Ramadan. Bagi mereka, Ramadan bukan sekadar rutinitas tahunan, bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi momentum perubahan hidup. Mereka ingat betul bagaimana mereka bangun di sepertiga malam dengan penuh harap, bagaimana air mata jatuh dalam sujud, bagaimana mereka memohon ampun atas dosa-dosa yang selama ini mereka lakukan. Dan ketika Ramadan hampir pergi, hati mereka terasa berat… seakan berkata: “Ya Allah, jangan jadikan ini Ramadan terakhirku.”

Kesedihan mereka bukan karena kehilangan suasana, bukan karena kehilangan kebersamaan, tapi karena mereka merasa kehilangan kesempatan besar untuk diampuni. Mereka telah beramal, mereka telah bersungguh-sungguh, namun hati mereka tetap diliputi rasa takut: apakah semua ini diterima oleh Allah?

Allah berfirman:

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ

Terjemahnya: “Dan orang-orang yang beramal, sementara hati mereka penuh rasa takut.” (QS. Al-Mu’minun: 60)

Ketika Aisyah radhiyallahu ‘anha bertanya tentang ayat ini, apakah yang dimaksud adalah orang-orang yang berbuat dosa besar, maka Rasulullah ﷺ menjawab:

لَا يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ، وَلَكِنَّهُمُ الَّذِينَ يَصُومُونَ وَيُصَلُّونَ وَيَتَصَدَّقُونَ، وَهُمْ يَخَافُونَ أَنْ لَا يُتَقَبَّلَ مِنْهُمْ

Artinya: “Tidak wahai putri as-Shiddiq, justru mereka adalah orang-orang yang berpuasa, yang shalat, yang bersedekah namun tetap takut amalnya tidak diterima.” (HR. Tirmidzi).

Inilah tanda hati yang mengenal Allah… semakin dekat kepada-Nya, semakin besar rasa takut dan harapnya.

Namun jamaah sekalian, di sisi lain ada golongan kedua yang harus kita waspadai. Mereka adalah orang-orang yang juga tersenyum di akhir Ramadan, namun senyumnya bukan karena kemenangan, melainkan karena kelegaan. Bagi mereka, Ramadan terasa seperti beban. Mereka merasa berat bangun sahur, berat menahan diri, berat menjaga lisan dan pandangan. Sehingga ketika Ramadan berakhir, yang muncul dalam hati mereka adalah perasaan lega: “Akhirnya selesai juga.”

Ramadan datang kepada mereka, namun berlalu tanpa meninggalkan bekas. Tidak ada perubahan, tidak ada penyesalan, tidak ada tekad untuk menjadi lebih baik. Padahal Rasulullah ﷺ telah memperingatkan dengan tegas:

رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ

Artinya: “Celakalah seseorang yang mendapati Ramadan, lalu Ramadan berlalu sebelum dia diampuni.” (HR. Tirmidzi)

Bayangkan, Ramadan datang membawa ampunan, membawa rahmat, membawa kesempatan yang mungkin tidak akan terulang… namun kita biarkan ia pergi tanpa kita mengambil apa-apa darinya. Betapa besar kerugian itu.

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah.

Hari ini mungkin semua orang tampak bahagia. Namun hakikatnya, ada dua jenis kegembiraan yang sangat berbeda. Ada kegembiraan seorang mukmin, yaitu kegembiraan karena telah diberi taufiq untuk beribadah, kegembiraan karena berharap pahala dari Allah, sebagaimana firman-Nya:

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا

Terjemahnya: “Katakanlah, dengan karunia dan rahmat-Nya, maka dengan itulah mereka bergembira.” (QS Yunus: 58).

Namun ada juga kegembiraan orang yang lalai, yaitu kegembiraan karena terbebas dari ibadah, kegembiraan karena bisa kembali kepada kebiasaan lamanya, kembali kepada maksiat yang dulu ia tinggalkan sementara. Secara lahir, mungkin sama-sama tersenyum, tetapi di sisi Allah, nilainya sangat berbeda.

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...

Perlu kita sadari, bahwa setelah Ramadan ini, ujian yang sebenarnya justru dimulai. Jika selama Ramadan syaitan dibelenggu, maka setelahnya ia akan kembali dilepaskan. Godaan akan kembali datang, bahkan bisa jadi lebih kuat dari sebelumnya. Lingkungan akan kembali seperti semula. Di sinilah akan terlihat siapa yang benar-benar berubah dan siapa yang hanya ikut suasana Ramadan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus walaupun sedikit.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Maka ukuran keberhasilan Ramadan kita bukan pada seberapa banyak amal yang kita lakukan selama sebulan ini, tetapi pada apa yang tetap kita jaga setelah Ramadan pergi.

Bayangkan Ramadan itu seperti tempat latihan bagi jiwa kita. Selama sebulan kita melatih iman, melatih kesabaran, melatih kedisiplinan. Namun setelah itu, manusia terbagi menjadi dua: ada yang melanjutkan latihannya sehingga hasilnya terlihat, dan ada yang berhenti total sehingga kembali seperti semula. Jangan sampai kita termasuk yang kedua.

Karena itu, ingatlah satu hal yang sangat penting…

Jangan sampai kita hanya menjadi hamba Ramadan, yang rajin beribadah hanya ketika Ramadan datang. Tapi jadilah hamba Allah, yang tetap taat baik di dalam Ramadan maupun di luar Ramadan. Karena Ramadan akan pergi… namun Allah tetap ada, mengawasi kita, menunggu amal-amal kita, dan menilai keistiqamahan kita.

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah.

Hari ini kita benar-benar berada di penghujung Ramadan. Beberapa jam lagi, atau mungkin esok hari, bulan yang penuh rahmat ini akan pergi meninggalkan kita. Dan setelah itu, tidak ada satu pun di antara kita yang bisa memastikan, apakah kita masih akan diberi kesempatan untuk bertemu kembali dengannya di tahun yang akan datang.

Betapa banyak orang yang tahun lalu masih bersama kita… mereka berpuasa, mereka berdiri dalam shalat tarawih, mereka membaca Al-Qur’an… namun hari ini mereka telah berada di alam kubur. Kesempatan itu telah tertutup bagi mereka. Sementara kita, hari ini, masih diberi waktu oleh Allah. Maka ini bukan sekadar momen perpisahan, tapi momen terakhir untuk memperbaiki apa yang belum sempat kita perbaiki.

Maka sebelum Ramadan benar-benar pergi, mari kita berhenti sejenak dan jujur pada diri kita. Sudahkah kita benar-benar bertaubat? Sudahkah kita menangisi dosa-dosa kita di hadapan Allah? Sudahkah kita memohon ampun dengan hati yang tunduk dan penuh penyesalan? Ataukah Ramadan ini berlalu begitu saja, seperti Ramadan-Ramadan sebelumnya… datang, lalu pergi… tanpa meninggalkan perubahan dalam hidup kita?

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...

Jika hari ini hati kita terasa sedih, terasa berat berpisah dengan Ramadan, bahkan mungkin ada air mata yang tertahan… maka itu adalah tanda kebaikan. Itu tanda bahwa hati kita masih hidup, masih memiliki hubungan dengan Allah, masih merasakan manisnya iman. Namun jika hati kita terasa biasa saja, tidak ada rasa kehilangan, tidak ada dorongan untuk berubah, maka hendaknya kita takut… karena bisa jadi kita termasuk orang yang tidak mendapatkan apa-apa dari Ramadan kecuali lapar dan haus.

Karena itu, mari kita akhiri Ramadan ini dengan sebuah tekad yang jujur. Tekad untuk tetap menjaga salat kita setelah Ramadan. Tekad untuk tetap membaca Al-Qur’an walaupun hanya sedikit. Tekad untuk tetap menjaga pandangan, menjaga lisan, dan menjauhi dosa-dosa yang selama ini kita tinggalkan. Jangan sampai kita menjadi orang yang kembali kepada keburukan setelah Allah selamatkan kita di bulan yang mulia ini.

Ingatlah, air mata yang mungkin kita rasakan hari ini, jika itu jujur karena Allah, maka itulah tanda bahwa kita sedang berada di jalan kemenangan. Bukan sekadar kemenangan karena datangnya hari raya, tetapi kemenangan karena berhasil mendekat kepada Allah, karena berhasil melewati satu fase penting dalam perjalanan iman kita.

Maka marilah kita tutup Ramadan ini dengan doa dan harapan:

اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَامَنَا، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْمَقْبُولِينَ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْمَحْرُومِينَ، وَلَا تَجْعَلْ هَذَا آخِرَ عَهْدِنَا بِرَمَضَانَ

Ya Allah, terimalah puasa dan ibadah kami, jadikan kami termasuk orang-orang yang Engkau terima, jangan Engkau jadikan kami termasuk orang-orang yang merugi, dan jangan Engkau jadikan ini sebagai Ramadan terakhir kami.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ.

  

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لله عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِه، وَأَشهَدُ أَن لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِه، وأَشهدُ أنَّ نَبِيَّنَا مُحمَّدًا عَبدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلى رِضْوَانِه.

Kaum muslimin yang berbahagia!

Di hari jumat yang mulia ini, marilah kita memperbanyak salawat dan salam kepada baginda Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana Allah dan malaikat juga bersalawat kepada beliau dan jangan lupakan doa-doa terbaik untuk saudara-saudara kita di Palestina khususnya Gaza yang sampai saat ini masih mengalami genosida dari biadab Israel.

إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ

اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.


Download PDFnya di https://bit.ly/AirMataPerpisahanSenyumKemenangan

Baca Juga