JANGAN BIARKAN DUNIA DIGITAL MENDIDIK ANAK KITA

Naskah Khutbah
Asdar
16 Apr 2026
JANGAN BIARKAN DUNIA DIGITAL MENDIDIK ANAK KITA

JUMAT, 28 Syawal 1447 H / 17 April 2026 M
 Oleh Rachmat Badani, Lc., M.A.

Dep. Dakwah DPD Wahdah Islamiyah Makassar

KHUTBAH PERTAMA

 

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ..

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار

أَيُّهَا النَّاسُ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...

Hadirin sekalian, marilah senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan sebenar-benar takwa, yaitu melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Semoga dengan ketakwaan, kita termasuk dalam golongan orang-orang yang beruntung di dunia dan akhirat. Salawat dan salam semoga senantiasa terhaturkan kepada baginda Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan para sahabatnya serta kepada setiap pengikutnya yang konsisten menjalankan syariatnya.

Jamaah sekalian, baru-baru ini, tepatnya pada tanggal 28 Maret 2026, Pemerintah Indonesia resmi memberlakukan pembatasan media sosial untuk anak di bawah 16 tahun berdasarkan Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 9 Tahun 2026. Kebijakan ini menonaktifkan akun pada platform berisiko tinggi seperti TikTok, Instagram, YouTube, dll untuk melindungi anak dari konten-konten negatif. Aturan ini merupakan turunan PP No 17 Tahun 2025 tentang perlindungan anak di ruang digital.

Mengapa? Karena pada hari ini kita hidup di zaman yang mengalami perubahan sangat cepat, terutama dalam bidang teknologi informasi. Media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia, tidak hanya bagi orang dewasa, bahkan telah merambah kepada anak-anak yang masih dalam usia pertumbuhan.

Fenomena ini bukan sekadar perubahan gaya hidup, tetapi telah menjadi tantangan serius dalam dunia pendidikan dan pembinaan akhlak generasi. Anak-anak yang dahulu tumbuh dengan interaksi langsung, kini banyak menghabiskan waktu dengan layar. Nilai-nilai yang mereka serap pun tidak lagi hanya berasal dari keluarga dan lingkungan sekitar, tetapi juga dari dunia digital yang luas, yang tidak semuanya baik dan sesuai dengan ajaran Islam. Dalam kondisi seperti ini, muncul kebutuhan mendesak untuk mengembalikan peran orang tua sebagai pendidik utama, sekaligus menjaga anak-anak dari pengaruh yang merusak akidah dan akhlak mereka.

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...

Perlu kita sadari bersama bahwa anak bukan sekadar anugerah yang membawa kebahagiaan, tetapi juga merupakan amanah besar dari Allah Ta’ala. Dalam perspektif syariat, amanah bukan sesuatu yang ringan. Ia adalah titipan yang akan dimintai pertanggungjawaban. Bahkan Allah menyebutkan bahwa amanah adalah sesuatu yang dahulu ditawarkan kepada langit, bumi, dan gunung, namun semuanya enggan memikulnya karena beratnya tanggung jawab tersebut. Maka ketika Allah menitipkan anak kepada kita, itu berarti Allah mempercayakan kepada kita tentang pendidikan akidah mereka, pembentukan akhlak mereka, bahkan arah kehidupan mereka. Seorang anak bisa menjadi jalan menuju surga bagi orang tuanya, tetapi juga bisa menjadi sebab datangnya penyesalan jika diabaikan pendidikannya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ

Terjemahnya: Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras. Mereka tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepadanya dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At-Tahrim: 6)

Ayat ini mengandung perintah yang sangat tegas dan mendalam. Para ulama tafsir menjelaskan bahwa makna “peliharalah” di sini bukan sekadar menjaga secara fisik, tetapi mencakup pengajaran ilmu agama, penanaman nilai-nilai keimanan, pendidikan akhlak dan menjauhkan mereka dari sebab-sebab maksiat. Artinya, menjaga keluarga dari api neraka bukan hanya dengan doa, tetapi dengan usaha nyata dalam pendidikan dan pengawasan.

Dalam konteks hari ini, termasuk di dalamnya adalah mengawasi apa yang dilihat anak, mengontrol apa yang mereka akses dan membimbing mereka dalam menggunakan teknologi. Karena bisa jadi, satu layar kecil di tangan anak kita, menjadi pintu besar menuju kebaikan atau justru menuju kerusakan.

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...

Di tengah kemajuan teknologi yang kita banggakan hari ini, ada satu kenyataan yang perlu kita renungkan dengan jujur: betapa sering kita begitu waspada terhadap bahaya di dunia nyata, namun justru lalai terhadap bahaya yang masuk melalui dunia digital. Kita merasa khawatir ketika anak keluar rumah sendirian, tetapi tidak merasa cemas ketika ia menjelajahi dunia maya tanpa batas. Kita takut anak berinteraksi dengan orang asing di jalan, namun dengan tenang membiarkannya berinteraksi dengan ribuan orang asing di media sosial.

Padahal, bahaya di dunia digital tidak selalu tampak di permukaan. Ia masuk secara perlahan, membentuk cara berpikir tanpa disadari. Anak-anak yang belum matang akalnya bisa terpapar berbagai pemikiran yang menyimpang, nilai-nilai yang bertentangan dengan ajaran Islam, serta gaya hidup yang menjauhkan mereka dari kesederhanaan dan ketaatan. Apa yang awalnya hanya tontonan ringan, perlahan berubah menjadi sesuatu yang dianggap benar dan layak diikuti.

Lebih dari itu, media sosial juga membawa dampak pada akhlak anak. Mereka menyaksikan ucapan-ucapan kasar, kebiasaan mencela, hingga perilaku yang tidak mencerminkan adab seorang muslim. Dan kita mengetahui bahwa anak adalah peniru yang sangat cepat. Apa yang sering ia lihat, itulah yang akan ia lakukan. Maka tidak mengherankan jika perlahan kita melihat perubahan pada sikap mereka, lisan yang semakin tidak terjaga, adab yang mulai luntur, dan rasa hormat yang semakin berkurang.

Di sisi lain, media sosial dirancang untuk membuat penggunanya terus kembali. Tanpa disadari, anak menjadi sulit melepaskan diri dari layar. Waktu yang seharusnya digunakan untuk belajar, membaca Al-Qur’an, atau berinteraksi dengan keluarga, habis untuk menggulir konten tanpa makna. Ironinya, alat yang awalnya diberikan dengan harapan membantu pendidikan, justru menjadi penghalang terbesar bagi ilmu dan ibadah.

Tidak berhenti di situ, tekanan psikologis pun mulai muncul. Anak-anak membandingkan dirinya dengan apa yang mereka lihat di media sosial seperti kehidupan yang tampak sempurna, pencapaian yang tampak luar biasa. Dari sinilah tumbuh rasa kurang percaya diri, kecemasan, bahkan tekanan batin yang tidak selalu terlihat oleh orang tua. Sebagian mereka menjadi gelisah tanpa sebab yang jelas, padahal akarnya tersembunyi dalam kebiasaan digital yang tidak terkendali.

Dan yang paling mengkhawatirkan, media sosial bisa menjadi pintu terbukanya berbagai bentuk kemaksiatan. Dalam kesendirian, tanpa pengawasan, anak dapat mengakses hal-hal yang tidak pantas, menjalin interaksi yang tidak sehat, dan melakukan hal-hal yang tidak berani ia lakukan di dunia nyata. Semua itu terjadi dalam diam tanpa terlihat oleh manusia namun tidak pernah luput dari pengawasan Allah Ta’ala.

Inilah realitas yang harus kita hadapi. Media sosial bukan sekadar alat, melainkan telah menjadi lingkungan baru yang sangat kuat pengaruhnya dalam membentuk pola pikir, akhlak, bahkan keimanan anak-anak kita. Jika lingkungan ini tidak kita kendalikan, maka perlahan ia akan mengambil alih peran kita sebagai pendidik. Dan ketika itu terjadi, kita tidak hanya kehilangan kendali atas apa yang dipegang oleh tangan anak kita, tetapi juga kehilangan arah dari masa depan mereka.

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...

Jika demikian besarnya dampak yang ditimbulkan oleh media sosial terhadap anak-anak kita, maka pertanyaan yang harus kita ajukan kepada diri sendiri adalah: di manakah posisi kita sebagai orang tua? Apakah kita benar-benar menjalankan amanah ini, atau justru tanpa sadar kita telah menyerahkan pendidikan anak kepada dunia yang tidak kita kenal?

Sesungguhnya, tanggung jawab orang tua dalam Islam bukan hanya memberi makan, pakaian, dan pendidikan formal. Lebih dari itu, orang tua adalah penjaga akidah, pembentuk akhlak, dan pengarah kehidupan anak. Setiap fase pertumbuhan anak membutuhkan kehadiran, perhatian, dan bimbingan yang nyata bukan sekadar fasilitas.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengingatkan dalam hadisnya:

كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا

Terjemahnya: Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang pemimpin (imam) adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Dan seorang perempuan adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. (HR. Bukhari)

Maka seorang ayah dan ibu tidak hanya akan ditanya tentang keberhasilan duniawi anaknya, tetapi juga tentang keimanan, ibadah, dan akhlaknya. Apakah ia tumbuh mengenal Allah, atau justru lebih mengenal dunia digital daripada Tuhannya?

Di sinilah letak pentingnya kesadaran bahwa memberikan akses teknologi kepada anak bukanlah sekadar keputusan praktis, tetapi keputusan yang mengandung konsekuensi moral dan agama. Memberikan perangkat tanpa batasan berarti membuka pintu tanpa penjagaan. Membiarkan tanpa pengawasan berarti menyerahkan anak kepada arus yang tidak kita kendalikan.

Maka tanggung jawab orang tua menuntut beberapa hal yang tidak bisa ditawar. Orang tua harus hadir sebagai pengawas yang bijak bukan sekadar melarang, tetapi memahami dan mengarahkan. Ia harus mengetahui apa yang dikonsumsi oleh anaknya, apa yang dilihat, didengar, dan siapa yang memengaruhi cara berpikirnya. Karena dari situlah terbentuk kepribadian anak.

Selain itu, orang tua juga dituntut untuk menanamkan nilai sejak dini. Anak yang dibekali dengan iman yang kuat akan memiliki filter dalam dirinya. Ia tidak mudah terpengaruh oleh apa yang dilihatnya, karena memiliki standar benar dan salah yang jelas. Namun iman tidak tumbuh dengan sendirinya; ia harus diajarkan, dibiasakan, dan dicontohkan.

Di sisi lain, keteladanan menjadi faktor yang sangat menentukan. Tidak mungkin seorang anak diminta menjauhi kecanduan gadget, sementara ia melihat orang tuanya sendiri tidak lepas dari layar. Tidak mungkin anak diminta menjaga lisannya di media sosial, sementara ia menyaksikan orang tuanya mudah berkomentar tanpa kendali. Anak belajar bukan hanya dari apa yang didengar, tetapi dari apa yang dilihat setiap hari.

Karena itu, membatasi penggunaan media sosial bagi anak bukanlah bentuk kekerasan atau pengekangan, tetapi justru bagian dari kasih sayang yang sejati. Sebagaimana kita tidak membiarkan anak bermain di tempat berbahaya, maka kita pun tidak boleh membiarkannya berada dalam lingkungan digital yang merusak.

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...

Pada akhirnya, kita harus menyadari bahwa mendidik anak di era ini memang lebih berat dibandingkan masa sebelumnya. Namun beratnya tanggung jawab ini tidak akan mengurangi pertanggungjawaban kita di hadapan Allah. Justru di tengah tantangan inilah keimanan dan kesungguhan kita diuji.

Maka jangan sampai kita termasuk orang tua yang menyesal di kemudian hari ketika anak telah tumbuh, tetapi kita terlambat menyadari bahwa kita telah kehilangan arah dalam membimbingnya. Jangan sampai kita sibuk memenuhi kebutuhan dunia mereka, tetapi lalai menyiapkan bekal akhirat mereka.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ.

 


 

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لله عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِه، وَأَشهَدُ أَن لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِه، وأَشهدُ أنَّ نَبِيَّنَا مُحمَّدًا عَبدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلى رِضْوَانِه.

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...

Mari sejenak kita berhenti dan bertanya kepada diri kita masing-masing—dengan jujur dan tanpa pembelaan: Ketika anak-anak kita sibuk dengan layar di tangan mereka, apakah kita benar-benar tahu ke mana mereka “pergi”? Apa yang mereka lihat? Apa yang mereka dengar? dan siapa yang diam-diam sedang membentuk cara berpikir mereka?

Betapa sering kita merasa tenang ketika anak berada di rumah, padahal hakikatnya ia sedang berada di dunia lain yang tidak kita awasi. Kita menyangka mereka aman, padahal belum tentu iman mereka aman. Kita merasa mereka dekat dengan kita, padahal hati dan pikiran mereka bisa jadi jauh terseret oleh arus yang tidak kita sadari.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, akan datang suatu hari ketika kita berdiri di hadapan Allah, sendirian, tanpa harta, tanpa jabatan, tanpa kedudukan. Pada hari itu, bukan hanya diri kita yang akan ditanya, tetapi juga tentang amanah yang pernah dititipkan kepada kita. Tentang anak-anak kita bagaimana kita menjaganya, bagaimana kita mendidiknya, dan ke mana kita arahkan hidup mereka.

Apa yang akan kita jawab jika anak kita tumbuh tanpa mengenal Al-Qur’an, tetapi akrab dengan media sosial? Apa yang akan kita katakan jika mereka lebih hafal tren dunia daripada ajaran agamanya? Dan apa yang akan kita sampaikan jika kelalaian kita hari ini menjadi sebab kerugian mereka di akhirat nanti?

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, kesempatan masih ada. Anak-anak kita masih di hadapan kita. Waktu belum sepenuhnya pergi. Maka jangan kita tunda untuk memperbaiki, jangan kita tunggu sampai penyesalan itu datang ketika semuanya sudah terlambat. Dekatkan mereka kepada Al-Qur’an sebelum dunia menjauhkan mereka darinya. Kenalkan mereka kepada Allah sebelum mereka mengenal dunia tanpa batas. Bimbing mereka dengan kesabaran, jaga mereka dengan kasih sayang, dan arahkan mereka dengan ilmu dan keteladanan.

Karena sejatinya, keberhasilan kita sebagai orang tua bukanlah ketika anak-anak kita sukses di dunia semata, tetapi ketika mereka tumbuh dalam keimanan, hidup dalam ketaatan, dan kelak menjadi sebab kita mendapatkan keselamatan di akhirat.

إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ

اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.


Download PDFnya di https://bit.ly/JanganBiarkanDuniaDigital

Baca Juga