JUMAT, 14 Syawal 1447 H / 3 April 2026 M
Oleh Alif Jumai Rajab, Lc., M.Ag.
Dep. Dakwah DPD Wahdah Islamiyah Makassar
KHUTBAH PERTAMA
إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ..
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار
أَيُّهَا النَّاسُ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
Segala puji pada Allah, kita memuji-Nya, meminta pertolongan pada-Nya meminta ampunan pada-Nya. Kami berlindung dari kejelekan diri kami dan kejelekan amal kami. Siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Siapa yang disesatkan oleh Allah, tidak ada yang bisa memberi petunjuk padanya.
Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.
Semoga shalawat tercurah pada Nabi kita Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, keluarga dan sahabat-Nya serta yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman.
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
Sesungguhnya takwa adalah wasiat Allah kepada orang-orang terdahulu dan juga kepada kita semua. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ
Terjemahnya: "Dan sungguh Kami telah mewasiatkan kepada orang-orang yang diberi Kitab sebelum kalian dan juga kepada kalian: bertakwalah kepada Allah." (QS. An-Nisā’: 131).
Dan di antara ayat yang paling mampu mengguncang hati, menyadarkan jiwa, dan menata ulang seluruh arah kehidupan manusia adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala;
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ* وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
Terjemahnya: "Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah ia persiapkan untuk hari esok (akhirat). Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan. Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang melupakan Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik." (QS. Al-Ḥasyr: 18–19).
Ini adalah ayat agung yang mengumpulkan tiga pilar kehidupan seorang mukmin: takwa, muhasabah (introspeksi), dan amal.
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
Sejak detik pertama kita dilahirkan ke dunia ini, sejatinya kita telah memulai perjalanan menuju Allah. Dan perjalanan itu tidak akan pernah berhenti, hingga kita berdiri di hadapan-Nya.
Betapapun panjang umur seseorang, betapapun banyak hari yang telah dilalui, sesungguhnya perjalanan itu jauh lebih singkat dari yang kita bayangkan. Karena setiap detik yang berlalu sejatinya sedang mendekatkan kita kepada pertemuan agung dengan Allah subhanahu wa ta’ala.
Namun, Jamaah yang dimuliakan Allah...
Masalahnya bukan pada panjang atau pendeknya perjalanan, masalah terbesar adalah kelalaian kita terhadap perjalanan itu sendiri.
Betapa banyak pemuda, hari-harinya berlalu sama seperti kemarin, tanpa pernah sadar, untuk apa ia hidup, ke mana ia akan pergi.
Betapa banyak orang, yang dahulu merasakan manisnya ketaatan di awal langkahnya, namun kini hatinya mulai dingin, semangatnya melemah, dan amalnya berkurang. Dan betapa banyak pula, orang yang datang ke masjid, lalu keluar darinya, namun hatinya tetap seperti semula tidak berubah, tidak terangkat derajatnya, dan tidak pula melangkah lebih dekat kepada Allah.
Betapa banyak orang yang dahulu istiqamah, ia mengatakan: “Dulu, di masa awal kami berhijrah, kami merasakan manisnya Al-Qur’an. Kami merasakan nikmatnya shalat. Kami merasakan lezatnya ketaatan…”
Namun, mengapa kini keadaan itu berubah?
Wahai kaum muslimin, Sebabnya adalah karena muhasabah telah melemah. Seorang hamba membiarkan hatinya berjalan tanpa evaluasi, tanpa introspeksi, tanpa perenungan.
Hati dibiarkan… hingga mengeras.
Iman dibiarkan… hingga meredup.
Oleh karena itu, Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, pernah berkata;
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَزِنُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا
Artinya: "Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang."
Ketaatan itu tidak akan bertahan tanpa jeda sejenak untuk kita merenung.
Hati tidak akan hidup tanpa sering ditinjau dan dibersihkan.
Dan iman… tidak akan tetap kuat tanpa terus diperbarui.
Maka jangan biarkan hari-hari berlalu tanpa muhasabah, jangan biarkan hati kita jauh tanpa kita sadari.
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
Kita menyaksikan hampir setiap hari para pemuda dipanggil pergi secara tiba-tiba. Seorang teman yang kemarin bersama kita, hari ini telah terbujur di bawah tanah.
Yang kemarin berjalan di samping kita, tiba-tiba malaikat maut lebih dahulu menjemputnya menuju takdirnya.
Namun yang mengherankan, bekas guncangan dari peristiwa-peristiwa ini sering kali tidak bertahan lama.
Seorang pemuda menangis, Ia bertaubat, Ia memperbaiki diri. Namun selang beberapa hari, lalu ia kembali kepada kelalaiannya yang dahulu.
Mengapa demikian?
Karena ia tidak benar-benar bermuhasabah terhadap dirinya. Sesungguhnya wafatnya teman sebaya adalah di antara peringatan paling kuat yang seharusnya membangunkan hati. Ia adalah pesan yang nyata: Bahwa kematian itu dekat, sangat dekat. Dan giliran kita, bisa jadi lebih dekat dari yang kita sangka.
Ma’asyirah muslimin semoga Allah merahmati kita semua...
Sesungguhnya kata para ulama hawa nafsu itu terbagi menjadi 3;
Nafsu yang selalu mengajak pada keburukan.
Allah subhanahu wa ta’ala mengabadikan sebuah pengakuan yang jujur dalam Al-Qur’an, melalui lisan istri Al-‘Aziz:
وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي
Terjemahnya: "Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya jiwa itu benar-benar selalu menyuruh kepada keburukan, kecuali yang dirahmati oleh Tuhanku." (QS. Yusuf: 53).
Inilah hakikat jiwa kita, dialah sumber berbagai ujian dan petaka. Ia mendorong pemiliknya kepada syahwat, kelalaian, dan kemalasan dalam ketaatan.
Kemudian ada jiwa yang mencela (an-nafs al-lawwāmah), Jiwa yang sampai Allah bersumpah dengannya:
لَا أُقْسِمُ بِيَوْمِ الْقِيَامَةِ * وَلَا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ
Terjemahnya: "Aku bersumpah dengan hari Kiamat, dan Aku bersumpah dengan jiwa yang selalu mencela (dirinya)." (QS. Al-Qiyāmah: 1–2).
Inilah jiwa yang ketika berbuat dosa, ia menyesal. Ketika lalai, ia menangis. Ketika terjatuh, ia bangkit kembali dengan penuh harap kepada Allah. Dan inilah keadaan kebanyakan orang beriman.
Kemudian, ada jiwa yang tenang (an-nafs al-muṭma’innah), tujuan tertinggi bagi setiap hamba yang berjalan menuju Allah:
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ * ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً * فَادْخُلِي فِي عِبَادِي * وَادْخُلِي جَنَّتِي
"Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku." (QS. Al-Fajr: 27–30).
Namun ketahuilah, jiwa yang tenang bukanlah jiwa yang merasa cukup dengan amalnya. Bukan pula jiwa yang tertipu dengan ketaatannya. Ia justru semakin takut kepada Allah, semakin tunduk, semakin kembali (bertaubat), semakin bersungguh-sungguh dalam kebaikan.
Karena ketenangan sejati bukanlah berarti berhenti beramal, Tetapi buah dari ketenangan itu adalah amal yang terus hidup dan usaha yang tidak pernah berhenti.
Beginilah seharusnya seorang muslim hidup bersama amalnya, penuh kesadaran, penuh pengawasan terhadap dirinya.
Sebelum beramal, ia bertanya kepada dirinya: Apakah Allah ridha terhadap amalan ini?
Apakah sesuai dengan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam? Apakah amalan ini akan mendekatkanku kepada surga?
Saat beramal, ia menghadirkan keikhlasan dalam hatinya. Ia berhati-hati dari riya’, ingin dilihat manusia. Ia waspada dari ujub, merasa bangga dengan dirinya sendiri.
Setelah beramal, ia tidak langsung merasa puas, namun ia kembali bertanya kepada dirinya: Apakah shalatku benar-benar mengubah diriku? Apakah ayat-ayat yang kubaca menyentuh hatiku? Apakah aku keluar dari masjid dalam keadaan lebih baik daripada saat aku masuk?
Seperti inilah keadaan orang-orang shalih dahulu, dan seperti inilah seharusnya kita meneladani mereka.
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
Ada tiga perkara yang tanpanya muhasabah tidak akan pernah berhasil dan bermakna:
Pertama: Kita mengagungkan Allah dalam hati, mengenal keagungan-Nya, mengetahui keluasan ilmu-Nya, menyadari kekuasaan-Nya, dan tunduk kepada keperkasaan-Nya.
Kedua: Kita mengakui dosa dan kekurangan kita, sadar akan kelalaian, kesalahan, dan tidak menutup-nutupi aib diri kita di hadapan Allah.
Ketiga: Kita menghadirkan dalam hati kita cepatnya kefanaan dunia. Bahwa hari-hari ini begitu singkat. Sebentar lagi lembaran amal akan ditutup. Dan akan datang “kiamat kecil”, yaitu kematian yang tak bisa dihindari.
Barang siapa kehilangan salah satu dari tiga perkara ini, maka ia tidak akan pernah benar-benar memahami hakikat muhasabah.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لله عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِه، وَأَشهَدُ أَن لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِه، وأَشهدُ أنَّ نَبِيَّنَا مُحمَّدًا عَبدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلى رِضْوَانِه.
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
Marilah kita kembali bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benar takwa.
Di antara luka yang seharusnya hidup di hati kita adalah keadaan Masjidil Aqsha. Masjid yang diberkahi, namun hari ini diliputi nestapa.
Betapa menyedihkan, di saat bulan Ramadan, bulan ibadah, bulan sujud dan tangisan. Sebagian kaum muslimin tidak dapat melaksanakan ibadah dengan tenang di sana. Padahal ia adalah tanah para nabi, tempat yang dahulu dipenuhi dzikir, tilawah, dan qiyam.
Wahai kaum muslimin, Keadaan ini seharusnya membangunkan hati kita. Menghidupkan kembali kepedulian kita. Dan mengingatkan kita bahwa kita adalah satu tubuh.
Jika satu bagian terluka, maka yang lain ikut merasakan.
Maka janganlah kita lalai, jangan sampai hati kita keras, dan jangan sampai kita hanya menjadi penonton atas penderitaan saudara-saudara kita.
Perbanyaklah doa. Perkuatlah iman. Dan didiklah diri serta keluarga kita untuk tetap peduli terhadap urusan umat.
Semoga Allah memuliakan kembali kaum muslimin, mengangkat kesulitan dari saudara-saudara kita, dan mengembalikan kemuliaan kepada masjid-masjid kaum muslimin.
إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ
اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.
رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
Download PDFnya dihttps://bit.ly/HisablahDirimuSebelumHariHisab