JUMAT, 7 Syawal 1447 H /27 Maret 2026 M
Oleh Muhammad Ode Wahyu, S.Pd., S.H.
Dep. Dakwah DPD Wahdah Islamiyah Makassar
KHUTBAH PERTAMA
إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ..
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار
أَيُّهَا النَّاسُ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
Sepekan Ramadan telah pergi meninggalkan kita. Semoga, amal-amal ibadah kita pada bulan tersebut diterima oleh Allah ta'ala. Meskipun bulan Ramadan telah berlalu, kita berharap bayang-bayangnya masih terasa, puasa, tarawih, tilawah, sahur dan berbagai ketaatan lainnya. Jika kita masih merasakannya, sehingga dapat memotivasi kita untuk terus beramal saleh, semoga menjadi pertanda bahwa Allah menerima ibadah kita pada bulan tersebut dan pertanda bahwa Allah -Ta'ala- mengampuni segala dosa-dosa kita.
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
Yang harus ada pada diri kita saat ini adalah keistiqamahan. Keistiqamahan untuk menjaga kebiasaan-kebiasaan baik kita pada bulan Ramadan. Kebiasaan dalam ketaatan yang begitu mudah kita lakukan, walau saat ini ujiannya mungkin jauh terasa berbeda, tapi bagi seorang yang ingin istiqamah menjalankan kebiasaan baiknya di bulan Ramadan, yang mendambakan hadiah surga dari Allah -Ta'ala-, padanya ada kesabaran. Ia terus siap merasakan pahitnya perjuangan melawan hawa nafsu yang senantiasa menghias keburukan hingga terasa indah dan menggoda dirinya untuk melakukannya.
Baginya, cukuplah ketundukan pada Allah dan harapan pada janji-janji Allah yang tidak pernah berdusta sebagai senjata untuk melawan hawa nafsu itu, bahwa siapa yang takut pada keududukan dan kebesaran Tuhannya serta menahan diri dari hawa nafsunya, maka balasannya adalah surga.
Allah -Ta'ala- berfirman:
وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى (40) فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى
Terjemahannya: "Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya)". (QS. An-Nazi'at: 40-41).
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
Sesungguhnya hawa nafsu dapat diredam hanya dengan meningkatkan rasa takut pada kedudukan dan kebesaran Allah, mengagungkan Allah dengan sebenar-benarnya pengagungan. Tanpa itu, seorang manusia tidak akan mampu mengendalikan hawa nafsunya. Hawa nafsu itu bahkan yang akan menguasai bahkan mengontrol dirinya pada perbuatan-perbuatan buruk. Wal'iyadzubillah.
Allah -Ta'ala- berfirman:
وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لأمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ
Terjemahannya: “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yusuf: 53).
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
Islam tidak mengajarkan kita untuk beribadah pada bulan Ramadan saja. Agama kita menuntut kita agar kita beribadah sepanjang hayat kita. Imam Bisyr al-Hafi -rahimahullah- berkata:
بِئْسَ القَوْمُ، لَا يَعْرِفُوْنَ لِلّٰهِ حَقًّا إِلَّا فِيْ شَهْرِ رَمَضَانَ! إِنَّ الصَّالِحَ الَّذِيْ يَتَعَبَّدُ وَيَجْتَهِدُ السَّنَةَ كُلَّهَا.
"Seburuk-buruk kaum adalah mereka yang tidak mengenal hak Allah (tidak beribadah) kecuali hanya di bulan Ramadan saja. Sesungguhnya orang yang saleh adalah ia yang beribadah dan bersungguh-sungguh (taat) di sepanjang tahun." (Lathif al-Ma'arif: 390).
Allah -Azza wajalla- berfirman:
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
Terjemahannya: "Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)." (QS. Al-Hijr: 99).
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
Kita sering mendengar orang-orang mengucapkan bahwa hari raya Idulfitri merupakan hari raya kemenangan. Tapi, jangan sampai kita tertipu dan terlalaikan oleh kalimat itu. Kita mengira, kita sudah benar-benar menang, sehingga kita hanya bersenang-senang dan tidak lagi merasa takut jika saja Allah ternyata tidak menerima amalan-amalan kita dan belum mengampuni dosa kita.
Imam Ibnu Rajab al-Hambali -rahimahullah- menuturkan:
رَأَى وَهْبُ بْنُ الْوَرْدِ قَوْمًا يَضْحَكُونَ فِي يَوْمِ عِيدٍ فَقَالَ: "إِنْ كَانَ هَؤُلَاءِ تُقُبِّلَ مِنْهُمْ صِيَامُهُمْ فَمَا هَذَا فِعْلُ الشَّاكِرِينَ، وَإِنْ كَانَ لَمْ يُتَقَبَّلْ مِنْهُمْ صِيَامُهُمْ فَمَا هَذَا فِعْلُ الْخَائِفِينَ."
“Wahb bin al-Ward melihat sekelompok orang tertawa-tawa (secara berlebihan) pada hari raya, lalu ia berkata: 'Jika mereka itu adalah orang-orang yang telah diterima ibadah puasanya, maka bukan begini cara bersyukurnya orang-orang yang bersyukur. Dan jika puasa mereka tidak diterima, maka bukan begini cara bersikapnya orang-orang yang sedang ketakutan.”
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
Kemenangan yang sesungguhnya adalah tatkala kita telah berhasil selamat dari neraka dan meraih surga. Lebaran atau hari raya hanyalah merupakan babak baru mempertahankan iman, menjaga ketaatan dan ibadah. Bukan akhir dari semua ibadah yang kita lakukan.
Sungguh, rugilah mereka yang berhenti dari ibadah-ibadah mereka lalu beralih pada berbagai kelalaian dan kemaksiatan. Sesungghnya hal itu merupakan tanda jika ada kesalahan dalam ibadahnya pada bulan Ramadan yang mungkin saja Allah tidak menerimanya dan tidak pula mengampuni dosa-dosanya. Wal'iyadzubillah.
Imam Ibnu Rajab –rahimahullah- berkata:
فَأَمَّا مُقَابَلَةُ نِعْمَةِ التَّوْفِيقِ كَصِيَامِ شَهْرِ رَمَضَانَ بِارْتِكَابِ الْمَعَاصِي بَعْدَهُ، فَهُوَ مِنْ فِعْلِ مَنْ بَدَّلَ نِعْمَةَ اللَّهِ كُفْرًا. فَإِنْ كَانَ قَدْ عَزَمَ فِي صِيَامِهِ عَلَى مُعَاوَدَةِ الْمَعَاصِي بَعْدَ انْقِضَاءِ الصِّيَامِ، فَصِيَامُهُ عَلَيْهِ مَرْدُودٌ، وَبَابُ الرَّحْمَةِ فِي وَجْهِهِ مَسْدُودٌ.
“Adapun membalas nikmat taufik seperti kemampuan menjalankan puasa Ramadan dengan melakukan kemaksiatan setelahnya, maka itu adalah perbuatan orang yang menukar nikmat Allah dengan kekufuran. Jika seseorang sejak masa puasanya sudah berniat untuk kembali bermaksiat setelah puasa usai, maka puasanya tertolak dan pintu rahmat tertutup baginya”.
Ka'ab berkata:
"مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَهُوَ يُحَدِّثُ نَفْسَهُ إِذَا أَفْطَرَ مِنْ رَمَضَانَ لَمْ يَعْصِ اللَّهَ؛ دَخَلَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ مَسْأَلَةٍ وَلَا حِسَابٍ. وَمَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَهُوَ يُحَدِّثُ نَفْسَهُ إِذَا أَفْطَرَ عَصَى رَبَّهُ؛ فَصِيَامُهُ عَلَيْهِ مَرْدُودٌ."
'Barangsiapa berpuasa Ramadan sambil membatin dalam dirinya bahwa setelah Ramadan usai ia tidak akan bermaksiat kepada Allah, maka ia akan masuk surga tanpa masalah dan tanpa hisab. Namun, barangsiapa berpuasa Ramadan sedangkan ia membatin dalam dirinya bahwa setelah berbuka (usai Ramadan) ia akan bermaksiat kepada Tuhannya, maka puasanya tertolak.” (Lathaif al-Ma’arif: 389-390).
Oleh karena itu, selagi Ramadan belum jauh meninggalkan kita, selama semangat ibadah pada bulan Ramadan juga belum redup, maka teruslah pertahankan semangat ibadah dan ketaatan, jangan berhenti dengan berakhirnya bulan Ramadan. Karena yang berhenti dari ibadah dan ketaatan hanyalah orang-orang merugi. Bukankah Allah -Ta'ala- berfirman:
وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3
Terjemahannya: "Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran." (QS. Al-Ashr: 1-3)
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
Sesungguhnya pada bulan Syawal ada satu amalan yang sangat dianjurkan untuk dilakukan yaitu berpuasa 6 hari pada bulan Syawal. Nabi -Shallallahu alaihi wasallam- bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَأَتْبَعَهُ بِسِتٍّ مِنْ شَوَّالٍ فَكَأَنَّمَا صَامَ الدَّهْرَ
“Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadan kemudian ia mengikutinya dengan puasa enam hari pada bulan Syawal, maka ia sama saja telah berpuasa setahun.” (HR. Muslim).
Pelaksanaannya bisa dilakukan pada hari apa saja selama berada di bulan Syawal. Boleh dilakukan secara berurutan dan boleh dilakukan dengan menggabungkan niat puasa Syawal dan puasa senin kamis, tapi tidak boleh menggabungkannya dengan niat puasa Qadha puasa Ramadan yang ditingglkan karena ada udzur di bulan Ramadan.
Para ulama mengatakan bahwa lebih utama mendahulukan qada puasa Ramadan daripada melaksanakan puasa Syawal. Sebab menqadha puasa hukumnya wajib sedangkan melaksanakan puasa Syawal hukumnya sunnah. Dan mendahulukan qada puasa Ramadan menjadikan seorang muslim lebih cepat terbebas dari hutang puasanya.
Imam Ibnu Rajab al-Hambali –rahimahullah- berkata:
فَمَنْ كَانَ عَلَيْهِ قَضَاءٌ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ؛ فَلْيَبْدَأْ بِقَضَائِهِ فِي شَوَّالٍ، فَإِنَّهُ أَسْرَعُ لِبَرَاءَةِ ذِمَّتِهِ، وَهُوَ أَوْلَى مِنَ التَّطَوُّعِ بِصِيَامِ سِتَّةٍ مِنْ شَوَّالٍ.
“Barangsiapa yang memiliki utang puasa dari bulan Ramadan, maka hendaklah ia memulai dengan mengqadhanya di bulan Syawal. Karena hal tersebut lebih cepat untuk membebaskan tanggungannya dari kewajiban, dan itu lebih utama daripada melakukan puasa sunah enam hari di bulan Syawal.” (Lathaif al-Ma’arif: 391).
Namun, jika bulan Syawal semakin sempit waktunya, maka dibolehkan mendahulukukan puasa Syawal sebelum melakukan qadha puasa Ramadan. Sebab ibadah yang waktunya sempit lebih di dahulukan dari ibadah yang memiliki waktu yang luas. Karena puasa Syawal hanya bisa dilakukan pada bulan Syawal saja sedangkan qada puasa dapat dilakukan pada bulan-bulan yang lain, maka dianjurkan melakukan puasa sunnah Syawal terlebih dahulu untuk mendapatkan keutamaannya lalu setelah itu melanjutkan dengan qada puasa setelahnya.
Semoga Allah senantiasa memberi kekuatan pada kita untuk beribadah kepada Allah dan istiqamah dalam ibadah kepadaNya hingga akhir hayat, aamiin...
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لله عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِه، وَأَشهَدُ أَن لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِه، وأَشهدُ أنَّ نَبِيَّنَا مُحمَّدًا عَبدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلى رِضْوَانِه.
Kaum muslimin yang berbahagia!
Di hari jumat yang mulia ini, marilah kita memperbanyak salawat dan salam kepada baginda Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana Allah dan malaikat juga bersalawat kepada beliau dan jangan lupakan doa-doa terbaik untuk saudara-saudara kita di Palestina khususnya Gaza yang sampai saat ini masih mengalami genosida dari biadab Israel.
إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ
اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.
رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
Download PDFnya di https://bit.ly/DalamBayangRamadan