BERTETANGGA, ANTARA TUNTUTAN DAN IBADAH

Naskah Khutbah
Asdar
30 Apr 2026
BERTETANGGA, ANTARA TUNTUTAN DAN IBADAH

JUMAT, 13 Zulkaidah 1447 H / 1 Mei 2026 M
 Oleh Dr. Maulana La Eda, B.A., M.A.

Dep. Dakwah DPD Wahdah Islamiyah Makassar

KHUTBAH PERTAMA

 

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ..

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار

أَيُّهَا النَّاسُ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...

Seorang muslim senantiasa ada dalam balutan takwa dan kebahagiaan ketika ia ikhlas datang ke masjid agar bisa mempersembahkan pada Allah takbir terbaik, rukuk terindah, dan sujud terkhusyuk. Karena hidayah itulah karunia terbesar yang Allah Ta’ala anugerahkan kepada umat manusia. Sebab itu, marilah pada momen yang berkah ini, kita bergembira sembari menghaturkan puji syukur kepada Allah yang telah memberi kita hidayah sehingga bisa hadir di masjid yang berkah ini demi menjalankan kewajiban salat Jumat. Allah berfirman:

قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْاۗ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ

Artinya: “Katakanlah, “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya (berupa hidayah), hendaklah mereka (umat Islam) bergembira. Itu lebih baik daripada (harta dan kesenangan dunia) yang mereka kumpulkan.” (QS Yunus: 58).

Marilah kita semua merespon hidayah Allah ini dengan terus meningkatkan takwa kita kepada-Nya.

Secara sederhana, takwa terbagi dalam dua unsur, yaitu ibadah yang baik dan akhlak yang mulia. Kapan salah satu unsur ini tidak ada dalam diri seorang muslim, maka dia tidak berhak menyandang status takwa, sampai keduanya terpatri dalam dirinya.

Akan tetapi, kebanyakan kita menganggap takwa itu adalah hanya rajin berpuasa, salat, zikir, ngaji, dan ibadah-ibadah lainnya, dan melupakan bahwa akhlak dan moral juga merupakan bagian penting dari takwa.

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...

Suatu hari Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam ditanya,

“Wahai Rasulullah, ada wanita yang rajin shalat malam, berpuasa siang hari, dan rajin bersedekah, tetapi dia sering menyakiti tetangga dengan lisannya”.

Beliau bersabda, “Ia tidak baik, dia adalah penghuni neraka”.

Beliau lantas ditanya lagi, “Wahai Rasulullah, ada juga wanita yang hanya shalat lima waktu dan bersedekah dengan roti kering (murahan), tetapi dia tidak menyakiti tetangganya”.

Beliau bersabda, “Ia merupakan penghuni surga.” (HR Ahmad: 9675 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dengan sanad hasan).

Lihatlah… wahai kaum muslimin… bagaimana seorang wanita dalam hadis ini memiliki banyak shalat, puasa, dan amal-amal saleh lainnya, namun karena ia menyakiti tentangganya, maka akibat perbuatannya yang mungkin tidak disangka oleh banyak orang adalah "ia menjadi penghuni neraka." Seharusnya, shalat, puasa, dan amal-amal shaleh lainnya bisa memperbaiki dirinya, hingga menjadi pribadi yang memiliki moral terpuji terhadap orang lain, terutama tetangganya. Namun, ketika hal ini tidak terwujud dalam dirinya, maka ia diancam Rasulullah ﷺ untuk masuk neraka.

Sebaliknya, wanita lain yang hanya shalat lima waktu dan tidak banyak mengerjakan shalat-shalat sunah, juga puasa sunah atau amal-amal sunah lainnya, namun karena ia memiliki moral yang baik, yaitu memuliakan tetangga dan tidak menyakitinya, maka balasan yang pantas baginya adalah surga.

Kisah ini memberikan pelajaran akan urgennya moral dan akhlak mulia. Bahkan, Rasulullah ﷺ menjadikan keindahan moral ini sebagai standar kemuliaan seorang insan di mata Allah, sama dengan urgensi rajin beribadah. Beliau bersabda.

إِنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحْسَنَكُمْ أَخْلَاقًا

Artinya: “Sesunguhnya yang paling baik di antara kalian (menurut Allah) adalah orang yang paling baik akhlaknya.” (HR Bukhari: 3559).

Akhlak mulia terhadap tetangga bukan sekadar adat istiadat dan tuntutan hidup bermasyarakat. Lebih dari itu, ia adalah ibadah yang menyempurnakan iman dan kemuliaan pribadi seorang muslim; karena imannya tak akan sempurna sampai dirinya memuliakan tetangganya. Rasulullah ﷺ bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤمِنُ بِاللهِ وَاْليَومِ الآخِرِ فَلاَ يُؤْذِ جَارَهُ

Artinya”Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah ia menyakiti tetangganya.” (HR Bukhari: 6018 dan Muslim: 47)

Hadis ini bermakna, siapa saja yang ingin sempurna imannya kepada Allah dan selamat pada hari kiamat, maka wajib menghargai dan memuliakan tetangganya.

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...

Lantas, bagaimana cara memuliakan tetangga-tetangga kita?

Para ulama menyebutkan bahwa akhlak mulia kepada orang lain, terutama tetangga, adalah dengan memperhatikan 3 asas akhlak mulia:

Asas yang pertama adalah: Kafful-Adza (Tidak Mengganggu Mereka)

Mengganggu tetangga, dengan cara apa pun, adalah dosa, meskipun pelakunya merasa hal itu sepele. Bahkan, menyetel rekaman mengaji Al-Quran besar-besar hingga mengganggu istrahat mereka adalah dosa. Apalagi kalau yang diputar dengan suara besar adalah musik, maka sungguh dosanya berlipat. Selain musik itu haram, juga mengganggu tetangga adalah haram. Termasuk juga parkir sembarangan yang menghalangi tetangga, karaoke berlebihan, dan penggunaan motor bogar yang berbunyi keras, itu bernilai dosa kalau sampai mengganggu tetangga dan memekakkan telinga orang lain. Karena seorang muslim dituntut peka terhadap kenyamanan orang lain, bukan hanya mengejar kepuasan pribadi. Untuk orang-orang seperti ini, Rasulullah ﷺ telah ancam dengan sabdanya:

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ: مَنْ لاَ يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ

Artinya: “Tidak akan masuk surga orang yang tetangganya merasa resah dengan gangguannya.” (HR Muslim: 46)

Jika hal-hal seperti ini sudah diancam dengan neraka, maka apatah lagi kalau sampai membully mereka, memukul mereka, mencuri harta mereka, atau bahkan membunuh mereka. Ini adalah dosa yang sangat besar di sisi Allah. Karena itu, menahan diri dari menyakiti tetangga bukan sekadar adab biasa, tetapi bagian besar dari keimanan yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Adapun asas yang kedua: Badzlun-Nada (Berusaha Membantu Mereka)

Tidak cukup seorang muslim hanya menahan diri dari mengganggu, tetapi ia juga dituntut aktif menghadirkan manfaat. Berusaha memudahkan urusan para tetangga adalah amalan saleh yang sangat utama. Kalau mereka kekurangan, kita cukupi; kalau mereka kesusahan, kita mudahkan; kalau mereka ditimpa musibah, kita ringankan; dan kalau mereka bergembira, kita tambah kegembiraannya. Dengan hal ini, kita bisa menjadi manusia terbaik. Dalam hadis sahih dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,

خَيْرُ الْجِيرَانِ عِنْدَ اللَّهِ خَيْرُهُمْ لِجَارِهِ

Artinya: “Sebaik-baik tetangga di sisi Allah adalah yang paling baik terhadap tetangganya.” (HR Ahmad: 6566, dan Tirmizi: 1944).

Manfaat kebaikan ini tidak selalu harus besar. Menghadiahkannya makanan, membantu pekerjaan ringannya, menjaga rumahnya saat ditinggal, atau sekadar menyapanya dengan lembut, semuanya termasuk amal mulia. Sekecil apa pun bantuan kita pada mereka, baik materi atau nonmateri, hal itu sangat besar nilainya di hadapan Allah Ta’ala. Apalagi Rasulullah ﷺ telah menjanjikan:

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنيَا نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ اْلقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِيْ الدُّنْيَا وَالآَخِرَةِ

Artinya: “Siapa yang menghilangkan satu kesulitan seorang mukmin di dunia, niscaya Allah akan menghilangkan darinya satu kesulitan pada hari kiamat, dan siapa yang meringankan orang yang kesusahan, niscaya Allah akan meringankannya di dunia dan akhirat.” (HR Muslim: 2699, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu).

Sekecil apa pun bantuan itu, ia tetap dianggap sebagai amalan luar biasa, meskipun itu hanya berupa hadiah kuah makanan. Dalam kesempatan lain, Nabi kita sudah mengingatkan:

إِذَا طَبَخْتَ مَرَقَةً فَأَكْثِرْ مَاءَهَا وَتَعَاهَدْ جِـيْرَانَكَ

Artinya: “Kalau engkau memasak makanan berkuah, maka perbanyaklah kuahnya, dan bagilah ia ke para tetanggamu.” (HR Muslim: 2625 dari Abu Dzar al-Gifariy radhiyallahu ‘anhu).

Salah satu upaya membantu mereka adalah mendakwahi mereka agar menjadi insan-insan yang taat kepada Allah. Kalau mereka belum rajin salat dan ngaji, maka silakan diajak. Kalau masih suka bermaksiat, mari dinasihati sedikit demi sedikit dengan mengedepankan akhlak mulia, tutur kata yang lembut, dan pada momen yang tepat.

Lalu bagaimana dengan tetangga kita yang nonmuslim? Ya, mereka juga wajib dibantu bila mereka kesulitan, karena Islam memerintahkan memuliakan tetangga tanpa membatasi pada pemeluk agama tertentu. Selama bantuan padanya tidak berkaitan dengan perkara ibadah agamanya yang bersifat khusus, bantuan dan kebaikan tetap dianjurkan. Meskipun tentunya, tetangga muslim lebih besar haknya, karena selain ia tetangga, dia juga adalah saudara seiman.

Inilah keindahan Islam, sehingga banyak nonmuslim masuk Islam karena kemuliaan akhlak para tetangganya yang muslim.

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...

Hal ketiga yang menjadi asas akhlak mulia adalah: Thalaaqatul-Wajhi (Berwajah Ceria Pada Mereka)

Bertemu tetangga dan orang lain dengan wajah yang ceria dan penuh senyuman adalah amalan saleh. Bila kita tidak bisa membantunya, maka wajah ceria cukup sebagai ganti dari bantuan yang kita tak sanggupi itu, karena tersenyum pada orang lain merupakan faktor kegembiraan orang lain. Bahkan, ketika sedang membantunya pun, kita harus menampakkan wajah ceria yang menunjukkan keikhlasan, bukan sambil memasang wajah cemberut.

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...

Tidak semua orang mampu membantu dengan harta atau tenaga, tetapi setiap orang mampu menghadirkan kebaikan melalui ekspresi wajah yang ramah dan menyenangkan. Bahkan, seringkali itulah yang paling dibutuhkan, yaitu: perhatian dan kehangatan. Abu Dzarr al-Gifariy radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

تَبَسُّمُكَ في وَجْهِ أَخِيْكَ لَكَ صَدَقَةٌ

Artinya: “Senyumanmu di hadapan saudaramu adalah sedekah” (HR Tirmizi: 1956 dengan sanad hasan).

Senyum bukan sekadar gerakan wajah, tetapi bahasa hati yang menghadirkan kenyamanan, menghilangkan kecanggungan, dan membuka jalan bagi hubungan yang lebih baik. Sebab itu, ia jangan dianggap remeh, apalagi seringkali kebencian dan permusuhan diawali oleh wajah masam atau bibir yang tak pernah senyum. Makanya, dalam hadis Abu Dzarr al-Gifariy yang lain, Nabi kita menasihati:

لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوْفِ شَيْئاً وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ.

Artinya: “Janganlah engkau meremehkan perbuatan baik meskipun kecil dan sepele, kendati hanya bertemu saudaramu dengan wajah berseri.” (HR Muslim 2626).

Hadis ini menanamkan cara pandang yang sangat mendasar dalam beramal, yaitu: kebaikan tidak diukur dari besar-kecilnya di mata manusia, tetapi dari ketulusan hati. Senyum yang tulus ketika berjumpa tetangga adalah awal keakraban. Senyuman inilah yang akan mendatangkan sapaan hangat, keakraban, tumbuhnya kenyamanan bertetangga, serta keamanan bermasyarakat yang menjadi salah satu faktor kebahagiaan terbesar.

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...

Marilah mengintropeksi diri kita. Sudahkah kita semua berakhlak mulia terhadap tetangga-tetangga kita? Sudahkah kita memenuhi hak-hak mereka? Bila iya, mari kita tingkatkan lagi. Namun, bila masih banyak kekurangan, mari kita perbaiki dan sempurnakan semampu kita dengan 3 asas akhlak mulia: pertama, kafful-adza, yaitu tidak mengganggu mereka; kedua, badzlun-nada, yaitu berusaha membantu mereka; dan ketiga, thalaaqatul-wajhi, yaitu berwajah ceria di hadapan mereka.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ.

 


 

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لله عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِه، وَأَشهَدُ أَن لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِه، وأَشهدُ أنَّ نَبِيَّنَا مُحمَّدًا عَبدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلى رِضْوَانِه.

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...

Doa dan selawat adalah senjata ampuh bagi setiap mukim, yang sangat dianjurkan pada hari Jumat. Maka marilah kita memperbanyaknya di hari Jumat ini, juga di hari-hari lainnya.

Tak ada mukmin yang merugi karena doa, bahkan sebaliknya, orang yang merugi adalah yang malas-malasan menengadahkan tangannya kepada Allah, yang berlalu siang dan malam tapi tidak pernah membisikkan satu doa pun kepada-Nya.

Setiap doa adalah keuntungan dan faktor keselamatan, karena Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidaklah seorang muslim memanjatkan doa melainkan Allah akan memberinya salah satu dari 3 perkara; 1) adakalanya segera dikabulkan doanya, 2) adakalanya doa itu disimpan untuknya di akhirat, 3) adakalanya ia dihindarkan dari keburukan yang semisal dengan apa yang ia minta.” (HR Ahmad: 11133 dengan sanad hasan).

Adapun shalawat, maka ia adalah zikir pemberi kebahagiaan, pemberi solusi dari kesulitan, penghapus dosa, pencetus rahmat, dan peninggi derajat hamba. Rasulullah ﷺ bersabda kepada Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu yang berencana memperbanyak shalawat:

إِذَنْ تُكْفَى هَمُّكَ وَيُكْفَرُ لَكَ ذَنْبُكَ

Artinya: “Kalau demikian, maka kesusahanmu akan dihilangkan dan dosamu akan diampuni.” (HR Tirmizi: 2457 dengan sanad hasan).

Maka marilah kita pada khutbah kedua ini, bershalawat dan memohon kepada Allah agar Dia memberikan kita semua hidayah untuk rajin beribadah dan berakhlak mulia, membahagiakan diri kita, tetangga kita, masyarakat kita, bangsa kita, dan umat kita, terutama saudara-saudari kita yang sedang tertindas di Bumi Palestina.

إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ

اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.


Download PDFnya di https://bit.ly/BertetanggaAntaraTuntutanDanIbadah

Baca Juga