RAMADAN BUKAN HANYA TENTANG PUASA

Naskah Khutbah
Asdar
26 Feb 2026
RAMADAN BUKAN HANYA TENTANG PUASA

JUMAT, 9 Ramadan 1447 H / 27 Februari 2026 M
 Oleh Rachmat Badani, Lc., M.A.

Dep. Dakwah DPD Wahdah Islamiyah Makassar

KHUTBAH PERTAMA

 

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ..

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار

أَيُّهَا النَّاسُ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...

Saya berwasiat kepada diri saya dan kepada jamaah sekalian untuk senantiasa bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa. Takwa yang bukan hanya tampak pada gerakan tubuh dalam ibadah, tetapi hidup di dalam hati, memandu sikap, membentuk nurani, dan mengarahkan kepedulian kita kepada sesama manusia.

Kita berada di bulan Ramadan. Bulan yang setiap tahun kita temui. Namun pertanyaan yang harus kita ajukan kepada diri kita bukanlah “sudah berapa kali kita berpuasa?”, melainkan “apakah Ramadan benar-benar membentuk hati kita?”

Mari kita berhenti sejenak dan mentadabburi firman Allah Ta‘ālā::

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Terjemahnya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Perhatikan dengan hati yang jernih: Allah tidak mengatakan “agar kalian lapar”, Allah tidak mengatakan “agar kalian kuat menahan haus”, tetapi Allah mengatakan: لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ agar kalian menjadi manusia bertakwa. Ini menegaskan bahwa Ramadan bukan tujuan, puasa bukan puncak, dan lapar bukan inti. Intinya adalah takwa: hati yang sadar akan Allah dan tidak tega menyakiti manusia.

Tujuan Puasa: Takwa sebagai Kesadaran Hati

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah, Puasa mengajarkan kita sebuah kejujuran yang paling murni karena ia adalah ibadah yang sangat sunyi. Ketika tidak ada manusia yang melihat, tidak ada kamera, tidak ada pengawasan, dan tidak ada sanksi sosial, hanya iman yang menjaga kita. Inilah latihan paling dalam tentang makna takwa: kesadaran bahwa Allah melihat kita setiap saat, bahkan ketika kita merasa paling sendirian.

Dalam kondisi inilah hati seorang mukmin ditempa. Ia belajar bahwa ketaatan bukan karena takut kepada manusia, tetapi karena malu kepada Allah. Ia belajar bahwa meninggalkan sesuatu bukan karena tidak mampu, tetapi karena Allah melarangnya. Maka puasa bukan sekadar ibadah fisik, tetapi pendidikan hati dan nurani.

Jika kesadaran ini benar-benar hidup, maka ia tidak berhenti di siang hari Ramadan saja. Ia akan terbawa ke luar Ramadan, terbawa ke dunia nyata, ke dalam relasi kita dengan manusia. Orang yang terbiasa menahan diri dari makan dan minum yang halal karena Allah, seharusnya jauh lebih mudah baginya untuk menahan lisan dari menyakiti, menahan tangan dari berbuat zalim, dan menahan hati dari sikap meremehkan penderitaan orang lain.

Di sinilah takwa menemukan bentuk nyatanya. Takwa bukan hanya takut kepada dosa-dosa besar yang tampak, tetapi juga takut melukai hak manusia yang sering dianggap kecil. Takwa membuat seseorang berhenti sejenak sebelum berkata kasar, berpikir ulang sebelum berbuat curang, dan merasa gelisah ketika melihat penderitaan tetapi memilih diam.

Maka puasa yang tidak membuat kita lebih peka terhadap hak-hak manusia, hak untuk dihormati, hak untuk diperlakukan adil, hak untuk ditolong saat lemah adalah puasa yang belum mencapai tujuan terdalamnya. Ia mungkin sah secara hukum, tetapi belum sempurna secara makna. Sebab takwa yang diinginkan oleh Allah bukan hanya takwa yang tampak di sajadah, tetapi takwa yang hidup di tengah manusia.

Lapar: Cara Allah untuk Menghidupkan Empati

Hadirin yang dimuliakan Allah, lapar membuat semua manusia setara. Ketika perut kosong, tidak ada lagi perbedaan antara yang kaya dan yang miskin, antara yang berkedudukan dan yang sederhana. Semua merasakan kelemahan yang sama. Di saat itulah Allah sedang meruntuhkan ilusi kekuatan dan kesombongan manusia, agar hati kembali lembut dan mudah menerima kebenaran.

Dalam lapar, seseorang lebih mudah merasakan derita orang lain. Ia mulai memahami bahwa kelaparan bukan sekadar kata, tetapi rasa yang menyakitkan. Maka lapar dalam puasa sejatinya adalah jembatan rasa, jembatan yang menghubungkan kenyang kita dengan lapar orang lain, agar jarak empati itu menjadi dekat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ الَّذِي يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ

Artinya: “Bukanlah seorang mukmin orang yang kenyang sementara tetangganya kelaparan di sampingnya.” (HR. al-Baihaqi)

Hadis Rasulullah ﷺ ini menegaskan bahwa iman bukan hanya soal banyaknya ibadah, tetapi kepekaan hati. Seseorang bisa rajin shalat dan puasa, tetapi ketika ia membiarkan tetangganya kelaparan, Rasulullah ﷺ mengatakan bahwa iman itu belum utuh. Ini adalah peringatan yang sangat halus, tetapi tajam: ketidakpedulian sosial adalah cacat dalam iman.

Puasa yang benar seharusnya membuat kita lebih mudah menoleh ke sekitar, lebih cepat tergerak untuk berbagi, dan lebih gelisah ketika melihat penderitaan. Jika lapar yang kita rasakan seharian justru berakhir dengan sikap acuh, dengan pemborosan saat berbuka, atau dengan hati yang tetap keras, maka puasa itu belum menjalankan fungsinya sebagai pendidikan empati.

Ramadan datang agar lapar yang kita rasakan tidak berhenti di perut, tetapi naik ke hati, lalu bergerak ke tangan menjadi sedekah, menjadi perhatian, dan menjadi keberpihakan kepada mereka yang lemah. Inilah makna puasa yang hidup, puasa yang menghidupkan nurani, dan puasa yang melahirkan kemanusiaan.

Kesalehan Sosial: Ibadah yang Mengalir

Perhatikan betapa indah cara Allah mendidik hamba-Nya di bulan Ramadan. Di satu sisi, Allah memerintahkan kita menahan diri: menahan makan, menahan minum, menahan syahwat. Namun di sisi lain, Allah justru membuka pintu selebar-lebarnya untuk memberi, berbagi, dan mengalirkan kebaikan kepada orang lain. Seakan Allah ingin mengatakan kepada kita: ibadah yang benar bukan hanya tentang menahan, tetapi juga tentang mengulurkan tangan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ، غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

Artinya: “Barang siapa memberi makan orang yang berpuasa (untuk berbuka), maka baginya pahala seperti pahala orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi sedikit pun pahala orang yang berpuasa itu.” (HR. Tirmidzi).

Hadis Rasulullah ﷺ ini memperlihatkan logika kasih sayang Allah yang luar biasa. Allah tidak mengurangi pahala orang yang berpuasa, tetapi melipatgandakan pahala orang yang peduli. Dengan memberi makan orang yang berpuasa, seseorang seolah ikut berpuasa bersamanya, ikut merasakan kelelahan, ikut menuai pahala, dan ikut menghadirkan kebahagiaan saat berbuka. Inilah ibadah yang mengalir: pahalanya tidak terhenti pada satu orang, tetapi meluas kepada banyak hati.

Kesalehan sosial inilah ruh Ramadan. Allah tidak ingin ibadah kita menjadi ibadah yang dingin dan egois, yang hanya sibuk dengan keselamatan diri sendiri. Ramadan datang untuk mematahkan sikap individualistik, agar kita belajar bahwa kedekatan dengan Allah selalu beriringan dengan kedekatan kepada manusia. Semakin dekat seseorang kepada Allah, seharusnya semakin ringan tangannya untuk memberi dan semakin peka hatinya terhadap kebutuhan orang lain.

Maka, ketika Ramadan justru berubah menjadi bulan konsumsi berlebihan, bulan pamer hidangan, dan bulan menutup mata dari penderitaan sekitar, saat itulah pesan besar Ramadan sedang kita abaikan. Padahal, bisa jadi satu piring makanan yang kita bagikan, satu sedekah yang kita sisihkan, atau satu perhatian yang kita berikan kepada yang membutuhkan, lebih berat nilainya di sisi Allah daripada ibadah yang kita nikmati sendirian.

Ramadan mendidik kita untuk memahami bahwa ibadah yang paling hidup adalah ibadah yang menjadi manfaat, ibadah yang keluar dari sajadah lalu menyentuh kehidupan manusia. Inilah kesalehan sosial: ibadah yang tidak berhenti di masjid, tetapi mengalir ke rumah-rumah, ke tetangga, dan ke hati-hati yang sedang membutuhkan.

Peringatan Rasulullah tentang Puasa yang Hampa

Rasulullah ﷺ bersabda:

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ

Artinya: “Betapa banyak orang yang berpuasa, namun ia tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar.” (HR. An-Nasai)

Hadis ini terasa singkat, tetapi maknanya sangat dalam dan mengguncang. Rasulullah ﷺ seakan ingin memperingatkan kita bahwa tidak semua puasa bernilai di sisi Allah, meskipun secara lahiriah ia tampak sah. Ada puasa yang benar secara hukum, tetapi kosong secara ruhani. Ada puasa yang melelahkan tubuh, tetapi tidak menyentuh hati.

Puasa yang hampa adalah puasa yang hanya berhenti di perut, tidak naik ke hati. Mulut menahan makan dan minum, tetapi lisan masih mudah menyakiti. Tangan menahan suapan, tetapi masih ringan berbuat zalim. Perut lapar, tetapi hati tetap keras dan tidak terusik oleh penderitaan orang lain. Inilah puasa yang dikhawatirkan oleh Rasulullah ﷺ puasa yang tidak meninggalkan bekas apa pun selain rasa lapar dan dahaga.

Ramadan datang bukan untuk sekadar mengubah jadwal makan kita, tetapi mengubah arah hidup kita. Ia datang untuk melembutkan hati yang keras, membersihkan jiwa yang penuh ego, dan membangunkan nurani yang tertidur. Jika setelah berpuasa kita masih mudah marah, masih tega meremehkan orang lain, masih nyaman hidup tanpa peduli pada yang lemah, maka puasa itu perlu kita evaluasi, bukan puas kita banggakan.

Hadis ini juga mengajarkan kepada kita untuk tidak merasa aman dengan ibadah lahiriah semata. Sebab ukuran keberhasilan puasa bukan seberapa kuat kita menahan lapar, tetapi seberapa jauh puasa itu mengubah akhlak kita. Puasa yang hidup akan melahirkan kesabaran dalam konflik, kelembutan dalam perbedaan, dan kepekaan dalam melihat penderitaan.

Maka benar ketika dikatakan bahwa Ramadan datang bukan hanya untuk mengosongkan perut, tetapi untuk menghidupkan hati. Perut boleh lapar, tetapi hati harus kenyang dengan empati. Tubuh boleh letih, tetapi jiwa harus tumbuh dalam takwa. Inilah puasa yang diharapkan oleh Allah dan yang ditakuti untuk kita sia-siakan oleh Rasulullah ﷺ.

Umat sebagai Satu Tubuh

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ الْوَاحِدِ

Artinya: “Perumpamaan kaum mukminin dalam cinta, kasih sayang, dan empati mereka adalah seperti satu tubuh.” (HR. Muslim).

Hadis Rasulullah ﷺ ini bukan sekadar gambaran indah tentang ukhuwah, tetapi standar iman. Ketika Nabi ﷺ menyamakan kaum mukminin dengan satu tubuh, itu berarti iman tidak memberi ruang bagi sikap acuh. Dalam satu tubuh, tidak ada anggota yang berkata, “itu bukan urusanku”. Rasa sakit pada satu bagian akan segera dirasakan oleh seluruh tubuh, meskipun letaknya jauh.

Inilah yang seharusnya terjadi pada hati seorang mukmin. Ketika saudara kita di Palestina hidup di bawah penjajahan dan kekerasan, ketika saudara kita di Sudan terusir dari rumahnya, kehilangan keluarga, dan hidup di pengungsian, maka iman menuntut hati kita untuk ikut terluka. Bukan sekadar tahu, bukan sekadar membaca berita, tetapi benar-benar merasa.

Allah Ta‘ālā berfirman:

وَمَا لَكُمْ لَا تُقَاتِلُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَالْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاۤءِ وَالْوِلْدَانِ الَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَآ اَخْرِجْنَا مِنْ هٰذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ اَهْلُهَاۚ وَاجْعَلْ لَّنَا مِنْ لَّدُنْكَ وَلِيًّاۚ وَاجْعَلْ لَّنَا مِنْ لَّدُنْكَ نَصِيْرًا

Terjemahnya: Mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah dari (kalangan) laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang berdoa, “Wahai Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Makkah) yang penduduknya zalim. Berilah kami pelindung dari sisi-Mu dan berilah kami penolong dari sisi-Mu.” (QS. an-Nisā’: 75).

Ayat ini memperlihatkan bagaimana Al-Qur’an memihak dengan sangat jelas kepada mereka yang tertindas. Perhatikan doa yang diabadikan Allah dalam ayat ini: doa orang-orang lemah, laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang tidak meminta kekuasaan, tidak meminta kemewahan, tetapi hanya memohon keselamatan, perlindungan, dan penolong. Dan Allah mengabadikan doa mereka dalam Al-Qur’an agar nurani orang beriman tidak pernah lupa.

Jamaah sekalian, ayat ini tidak selalu bermakna angkat senjata, tetapi bermakna angkat nurani dan keberpihakan. Dalam konteks kita hari ini, pembelaan terhadap saudara-saudara kita yang tertindas diwujudkan dengan tidak bersikap netral terhadap kezaliman, tidak membenarkan penindasan, dan tidak membiarkan hati kita terbiasa dengan penderitaan yang terus berulang.

Ramadan datang untuk menajamkan kepekaan ini. Di saat kita merasakan lapar beberapa jam, saudara-saudara kita di Palestina dan Sudan merasakan lapar yang berkepanjangan. Di saat kita berbuka dengan rasa syukur, mereka berbuka dengan rasa takut dan kehilangan. Ramadan mengajarkan bahwa kenyang kita tidak boleh mematikan empati, dan aman kita tidak boleh membuat kita lupa.

Mungkin kita tidak mampu hadir di medan konflik, tetapi iman tidak pernah membiarkan kita tanpa peran. Doa yang tulus, terutama di waktu-waktu mustajab Ramadan; sedekah dan bantuan kemanusiaan sesuai kemampuan; serta sikap dan narasi yang adil, yang tidak menormalisasi kezaliman, semua itu adalah bentuk pembelaan yang nyata di sisi Allah.

Minimal, wahai jamaah sekalian, jangan biarkan hati kita mati. Jangan sampai penderitaan umat hanya menjadi berita yang lewat, sementara hati kita tetap tenang dan dingin. Karena ketika seorang mukmin tidak lagi terganggu oleh kezaliman yang menimpa saudaranya, saat itulah sabda Rasulullah ﷺ tentang satu tubuh kehilangan maknanya dalam diri kita.

Semoga Allah menjadikan Ramadan ini sebagai bulan yang membangunkan kembali nurani umat, melembutkan hati kita, dan meneguhkan keberpihakan kita kepada keadilan dan kemanusiaan, di mana pun saudara-saudara kita berada.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ.

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لله عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِه، وَأَشهَدُ أَن لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِه، وأَشهدُ أنَّ نَبِيَّنَا مُحمَّدًا عَبدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلى رِضْوَانِه.

Apa yang telah kita renungkan pada khutbah pertama mengantarkan kita pada satu kesimpulan besar: Ramadan bukan sekadar ibadah menahan lapar, tetapi proses pembentukan hati dan nurani. Puasa diturunkan bukan untuk menguji kekuatan fisik kita, melainkan untuk melahirkan takwa yang hidup. Takwa yang membuat kita jujur saat sendiri, lembut dalam bersikap, dan peka terhadap penderitaan sesama.

Lapar yang kita rasakan di siang hari Ramadan adalah cara Allah mengajarkan empati. Ia seharusnya menggerakkan hati kita untuk peduli, mendorong tangan kita untuk berbagi, dan membangunkan kesadaran bahwa ibadah tidak berhenti di sajadah, tetapi mengalir menjadi kesalehan sosial. Karena itu Rasulullah ﷺ mengingatkan, puasa yang tidak mengubah akhlak dan kepedulian hanyalah lapar yang sia-sia.

Maka Ramadan yang benar adalah Ramadan yang menghidupkan hati, bukan hanya mengosongkan perut; Ramadan yang mendekatkan kita kepada Allah sekaligus mendekatkan kita kepada manusia. Dari sinilah kita memahami bahwa takwa sejati selalu berbuah empati, dan ibadah yang diterima selalu meninggalkan jejak kebaikan bagi sesama.

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah, 

Pada akhir khutbah ini, izinkan kami untuk mengingatkan diri pribadi dan kepada para jamaah sekalian untuk memperbanyak dua buah ibadah kepada Allah pada hari jum’at. Pertama, mari memperbanyak doa kita kepada Allah, karena telah diriwayatkan dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa pada hari jumat terdapat satu waktu yang singkat, tidaklah seorang muslim memanjatkan doa kepada Allah pada waktu tersebut melainkan doanya pasti akan diijabah. Kedua, mari memperbanyak salawat dan salam kita kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana firman Allah:

إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ

اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.


Download PDFnya di https://bit.ly/RamadanBukanHanyaTentangPuasa