MENATA HATI MENYAMBUT BULAN SUCI

Naskah Khutbah
Asdar
12 Feb 2026
MENATA HATI MENYAMBUT BULAN SUCI

JUMAT, 25 Syakban 1447 H / 13 Februari 2026 M
 Oleh Alif Jumai Rajab, Lc., M.Ag.

Dep. Dakwah DPD Wahdah Islamiyah Makassar

KHUTBAH PERTAMA

 

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ..

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار

أَيُّهَا النَّاسُ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...

Segala puji pada Allah, kita memuji-Nya, meminta pertolongan pada-Nya meminta ampunan pada-Nya. Kami berlindung dari kejelekan diri kami dan kejelekan amal kami. Siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Siapa yang disesatkan oleh Allah, tidak ada yang bisa memberi petunjuk padanya.

Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

Semoga shalawat tercurah pada Nabi kita Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, keluarga dan sahabat-Nya serta yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman.

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...

Madrasah agung yang dalam hitungan hari akan kembali membuka pintu-pintunya. Maka pertanyaannya: apakah kita akan termasuk di antara mereka yang diberi kesempatan untuk hidup hingga menjumpai madrasah itu dan turut memasukinya!

Dan apabila kita benar-benar memasukinya, akankah kita keluar sebagai orang-orang yang beruntung, atau justru termasuk golongan yang merugi?

Demikianlah dahulu para sahabat Nabi ﷺ, ketika berada di penghujung Ramadan, mereka berkata dengan penuh rasa takut dan harap:

"Wahai, seandainya kami mengetahui siapa di antara kami yang diterima amalnya, niscaya kami akan mengucapkan selamat kepadanya. Dan siapa di antara kami yang terhalang (tidak diterima), niscaya kami akan menghiburnya."

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...

Sesungguhnya madrasah itu adalah Madrasah Ramadan; madrasah ketakwaan dan Al-Qur’an, musim penuh rahmat dan ampunan, serta pembebasan dari api neraka.

Ia adalah sebuah daurah imaniyah, pelatihan keimanan, yang kita semua akan terdaftar di dalamnya. Di penghujungnya akan dibagikan “ijazah-ijazah”, namun ia bukan seperti pelatihan biasa, dan sertifikatnya pun bukan seperti sertifikat pada umumnya. Sertifikat itu adalah ridha Allah, ampunan-Nya, dan keselamatan dari api neraka.

Ramadan adalah pelatihan untuk membina kekuatan dan kesabaran: sabar menahan lapar dan dahaga, sabar menahan syahwat, dan sabar menahan amarah.

Ramadan juga mendidik kita untuk hidup teratur dan disiplin; ada waktu sahur, ada waktu berbuka. Ia menguatkan sisi ruhani kita dengan tilawah, qiyam, dzikir, dan doa. Bahkan ia juga membawa kebaikan bagi jasmani; sebagaimana dalam sebuah ungkapan disebutkan: “Berpuasalah kalian, niscaya kalian akan sehat.”

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...

Dan ketahuilah, bahwa ijazah kelulusan dari Madrasah Ramadan itu adalah ampunan atas seluruh dosa. Rasulullah ﷺ pernah mengaminkan doa Malaikat Jibril, dan di antara doanya:

ورَغِمَ أنفُ رجلٍ دخلَ علَيهِ رمضانُ ثمَّ انسلخَ قبلَ أن يُغفَرَ لَهُ

Artinya: "Celakalah seseorang yang didatangi bulan Ramadan, kemudian Ramadan berlalu sebelum dosa-dosanya diampuni" (HR. At Tirmidzi).

Allahu Akbar! Betapa meruginya orang yang melewati Ramadan, namun tidak meraih ampunan. Padahal pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.

Bahkan Nabi ﷺ juga bersabda:

رَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ لِمَا بَيْنَهُمَا إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ

Artinya: "Dari Ramadan ke Ramadan berikutnya adalah penghapus dosa-dosa di antara keduanya, selama dosa-dosa besar dijauhi." (HR. Muslim).

Artinya, seorang hamba dapat kembali setelah Ramadan dalam keadaan bersih, suci dari dosa, seakan-akan baru dilahirkan oleh ibunya.

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...

Sungguh, Rasulullah ﷺ telah memberikan teladan kepada kita dalam menyambut Ramadan. Beliau tidak menunggu datangnya bulan suci itu tanpa persiapan, bahkan sejak bulan Sya’ban beliau telah mempersiapkan diri.

Dari Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata: Aku tidak pernah melihat Rasulullah ﷺ menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali Ramadan, dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa dibandingkan di bulan Sya’ban." (HR. Al-Bukhari).

Lihatlah, jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, bagaimana Nabi ﷺ memperbanyak puasa di bulan Sya‘ban sebagai bentuk latihan dan persiapan ruhani sebelum memasuki Ramadan. ﷺ

Seakan-akan Sya‘ban adalah pemanasan, dan Ramadan adalah perlombaannya. Sya‘ban adalah masa persiapan, dan Ramadan adalah masa panen.

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...

Tidaklah tersisa dari bulan Sya‘ban waktu yang panjang untuk kita berpuasa. Namun yang lebih penting dari itu adalah persiapan hati menyambut Ramadan, serta menata niat sejak sekarang untuk berpuasa dan menegakkan qiyam di bulan yang mulia itu.

Karena sesungguhnya seorang hamba dapat meraih dengan niatnya apa yang belum tentu ia raih dengan amalnya. Dan seorang muslim akan dituliskan baginya pahala atas apa yang ia niatkan dengan tulus, meskipun ia belum sempat melakukannya.

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...

Banyak cara yang bisa kita lakukan di waktu yang tersisa ini sebagai persiapan bertemu Ramadan;

Persiapan itu dilakukan dengan menjaga hubungan kita dengan Al-Qur’an.

Disebutkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa apabila telah masuk bulan Sya‘ban, kaum muslimin menekuni mushaf-mushaf mereka lalu membacanya. Mereka juga mengeluarkan zakat harta mereka, agar dapat membantu orang-orang lemah dan fakir dalam menyambut puasa Ramadan.

Bahkan salah seorang ulama salaf berkata: “Sya‘ban adalah bulannya para pembaca Al-Qur’an.”

Sesungguhnya tilawah Al-Qur’anul Karim adalah keberkahan dan penyucian jiwa. Ia adalah tazkiyah dan peradaban, kemuliaan dan ketinggian derajat di atas hawa nafsu. Dengan Al-Qur’an, seorang hamba meraih kebebasan sejati dan keberanian menghadapi godaan setan, baik dari golongan manusia maupun jin. Al-Qur’an mengangkat derajat pembacanya, menenangkan hatinya, dan menuntunnya menuju akhlak yang luhur.

Menyucikan jiwa dan membersihkan hati

Bulan Sya‘ban adalah bulan diangkatnya amal-amal kepada Allah. Rasulullah ﷺ bersabda: "Sya‘ban adalah bulan diangkatnya amal-amal kepada Rabb semesta alam." (HR. Ahmad, An-Nasa’i, dan Ibnu Khuzaimah).

Jika amal-amal kita diangkat, bahkan dicatat sebagai catatan tahunan, maka sudah sepatutnya seorang muslim berhati-hati dari segala sesuatu yang dapat menghalangi terangkatnya amal tersebut. Di antara penghalangnya adalah; Hasad dan dengki, kebencian dan permusuhan, saling memutuskan hubungan karena urusan dunia, dan perselisihan hanya karena kepentingan yang fana dan kenikmatan yang sementara.

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...

Sesungguhnya kita sangat membutuhkan qalbun salīm, hati yang selamat. Hati yang dahulu Nabi Ibrahim ‘alaihis salam memohon kepada Rabb-nya agar dapat menghadap-Nya. Beliau berdoa:

وَلَا تُخْزِنِي يَوْمَ يُبْعَثُونَ * يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ * إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

Terjemahnya: “Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan; yaitu hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi bermanfaat, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.” (QS. Asy-Syu‘ara: 87–89).

Inilah hati yang bersih, hati yang selamat dari noda syirik, dari penyakit dengki, dari kebencian dan kedzaliman. Nabi ﷺ menyebut hati yang selamat itu sebagai qalbul makhmūm. Ketika beliau ditanya: “Siapakah manusia yang paling utama?” Beliau menjawab:

كُلُّ مَخْمُوْمِ الْقَلْبِ، صَدُوْقِ اللِّسَانِ

Artinya: “Setiap orang yang hatinya makhmūm dan lisannya jujur.”

Para sahabat bertanya: “Lisan yang jujur kami pahami, lalu apakah hati yang makhmūm itu?”

Beliau menjawab:

هُوَ التَّقِيُّ النَّقِيُّ، لَا إِثْمَ فِيْهِ وَلَا بَغْيَ، وَلَا غِلَّ وَلَا حَسَدَ

Artinya: “Yaitu hati yang bertakwa dan bersih; tidak ada dosa di dalamnya, tidak ada kezaliman, tidak ada kedengkian dan tidak pula hasad.” (HR. Ibnu Majah dengan sanad sahih).

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...

Tidak pantas seorang muslim menyambut Ramadan dengan hati yang penuh dendam dan kedengkian. Ramadan adalah bulan cahaya, maka jangan kita masuk ke dalamnya dengan hati yang gelap.

Meneguhkan persatuan dan mempererat kebersamaan

Di tengah berbagai peristiwa menyedihkan yang terjadi di negeri dan kawasan kita, yang terkadang dimaksudkan untuk menyibukkan kaum muslimin dari kewajiban agamanya dan dari orientasi akhiratnya, maka kewajiban kita saat ini adalah tidak larut dalam hiruk-pikuk kabar, analisis, dan perbincangan yang tiada akhir, hingga melalaikan kita dari tilawah Al-Qur’an, dari dzikir, dan dari ibadah.

Jangan sampai kita terpancing oleh upaya-upaya memecah belah masyarakat melalui teror, kekerasan, dan tindakan kriminal. Bukankah puasa telah mempersatukan kita? Bukankah Ramadan telah menyatukan saf kita? Lalu mengapa kita memilih perpecahan?

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...

Tidak boleh musuh-musuh Islam menyibukkan kita dari kewajiban dan sunnah-sunnah kita; dari puasa kita, qiyam kita, sedekah kita, dan amal-amal saleh kita. Justru sebaliknya, dalam keadaan sulit dan genting, yang semestinya terjadi adalah manusia semakin kembali kepada Rabb-nya, semakin tunduk dan berdoa kepada-Nya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ

Terjemahnya: “Siapakah yang mengabulkan doa orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan menghilangkan kesusahan, serta menjadikan kalian sebagai khalifah di bumi? Apakah ada tuhan selain Allah? Sedikit sekali kalian mengambil pelajaran.” (QS. An-Naml ayat 62).

Dan firman-Nya:

قُلْ مَنْ يُنَجِّيكُمْ مِنْ ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ تَدْعُونَهُ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً

Terjemahnya: “Katakanlah: Siapakah yang menyelamatkan kalian dari kegelapan di darat dan di laut, yang kalian berdoa kepada-Nya dengan penuh kerendahan hati dan secara tersembunyi?” (QS. Al-An‘am ayat 63).

Adapun orang-orang beriman, mereka mengenal Allah subhanahu wa ta’ala dalam keadaan lapang maupun sempit. Mereka dekat dengan-Nya di waktu tenang, sehingga Allah menolong mereka di waktu genting.

Rasulullah ﷺ bersabda:

تَعَرَّفْ إِلَى اللهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ

“Kenalilah Allah di waktu lapang, niscaya Dia akan mengenalmu di waktu sempit.” (HR. Ahmad).

Dan dalam hadis yang lain, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَسْتَجِيْبَ اللهُ لَهُ عِنْدَ الشَّدَائِدِ وَالْكُرَبِ، فَلْيُكْثِرِ الدُّعَاءَ فِي الرَّخَاءِ

“Barang siapa yang ingin Allah mengabulkan doanya ketika kesulitan dan kesempitan, maka hendaklah ia memperbanyak doa di waktu lapang.” (HR. Tirmidzi dan Hakim, dan beliau mensahihkannya).

Beginilah karakter orang beriman. Mereka tidak hanya berdoa ketika musibah datang, tetapi mereka telah lebih dahulu membangun kedekatan dengan Allah sebelum musibah itu tiba.

Lihatlah teladan Rasulullah ﷺ. Beliau menyatu dengan para sahabatnya dalam menghadapi musuh, sebagaimana dalam Perang Khandaq, Badar, dan Uhud. Namun di saat yang sama, beliau tidak pernah lalai dari mengingat Allah dan memohon pertolongan-Nya.

Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa beliau melihat Rasulullah ﷺ pada Perang Badar berada di dalam tenda komando, mengangkat kedua tangannya dengan penuh ketundukan seraya berdoa:

“Ya Allah, turunkanlah pertolongan-Mu yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, penuhilah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku.”

Beliau terus bermunajat dengan sungguh-sungguh hingga hampir terjatuh selendangnya dari kedua pundaknya.

Padahal beliau adalah Rasul yang telah dijanjikan kemenangan oleh Allah. Lalu bagaimana dengan kita, yang tidak memiliki jaminan seperti itu?

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang selalu mengingat-Nya dalam segala keadaan, dan yang ditolong-Nya di saat kesulitan.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ.

 

 

 

 


 

 

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لله عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِه، وَأَشهَدُ أَن لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِه، وأَشهدُ أنَّ نَبِيَّنَا مُحمَّدًا عَبدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلى رِضْوَانِه.

Setelah sebelas bulan kita jarang berlama-lama di masjid, setelah jarang mengkhatamkan Al-Qur’an, setelah berkurangnya shalat-shalat sunnah dan puasa-puasa sunnah, maka kini akan datang kepada kita bulan Ramadan yang penuh keberkahan.

Maka demi Allah, perhatikanlah penyucian jiwa kita. Perhatikanlah hati-hati kita. Karena dalam Islam, tidak ada sesuatu yang lebih utama untuk diperbaiki selain hati.

Allah ﷻ  berfirman:

قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ

Terjemahnya: “Katakanlah: Kalian belum beriman, tetapi katakanlah kami telah tunduk (Islam), karena iman itu belum masuk ke dalam hati kalian.” (QS. Al-Hujurat ayat 14).

Dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

أَلَا إِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ 

Artinya: “Ketahuilah, sesungguhnya dalam jasad ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh jasad; dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, itulah hati.”

Maka seluruh anggota tubuh berputar mengikuti hati. Jika hati lurus, luruslah amal. Jika hati rusak, rusaklah segalanya.

Pertanyaannya, wahai kaum Muslimin: Sudahkah kita menoleh kepada hati-hati kita?

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Hati itu adalah raja, dan anggota tubuh adalah tentaranya. Jika rajanya baik, maka baiklah tentaranya. Jika rajanya rusak, maka rusaklah tentaranya.”

Ibnu Qayyim rahimahullah juga menjelaskan, “Amalan hati adalah pokok yang menjadi tujuan utama. Adapun amalan anggota tubuh hanyalah pengikut dan penyempurna. Niat bagi amal seperti ruh bagi jasad. Jika ruh berpisah dari jasad, maka jasad itu mati. Demikian pula amal tanpa niat yang benar, hanyalah gerakan sia-sia.

Maka memahami hukum-hukum hati; ikhlas, tawakal, sabar, syukur, takut, dan harap. Itu lebih utama daripada sekadar memahami hukum-hukum anggota badan, karena amal lahiriah itu bercabang dari apa yang ada di dalam hati.

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...

Mari kita jadikan Ramadhan ini sebagai momentum memperbaiki hati: membersihkannya dari riya’, mengosongkannya dari hasad, menjauhkannya dari cinta dunia yang berlebihan, dan memenuhinya dengan keikhlasan serta kecintaan kepada Allah.

Semoga Allah memperbaiki hati-hati kita, karena jika hati kita baik, maka seluruh kehidupan kita akan menjadi baik.

إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ

اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.


Download PDFnya di https://bit.ly/MenataHatiMenyambutBulanSuci