Jumat, 11 Syakban 1447 H / 30 Januari 2026 M
Oleh Ust. Abdullah Nazhim Hamid, S.T., Lc., M.Ag.
Dep. Dakwah DPD Wahdah Islamiyah Makassar
KHUTBAH PERTAMA
الحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ، الهَادِي إِلَى إِحْسَانِهِ، صَلَّى الله عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَأَعْوَانِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَقُولُواْ قَوۡلاً سَدِيدًا، يُصۡلِحۡ لَكُمۡ أَعۡمَٰلَكُمۡ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۗ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ فَازَ فَوۡزًا عَظِيمًا
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah ﷻ dengan sebenar-benarnya takwa. Takwa yang bukan hanya terlihat di masjid, tapi juga terasa di rumah, di pasar, dan di media sosial kita.
Baru saja kita melihat satu kasus yang cukup viral di medsos, yaitu adanya pedagang es kue jadul yang tertuduh membuat dagangannya dari bahan spons. Namun setelah dilakukan tes lab, ditemukan bahwa bahan yang digunakan ternyata aman dan layak pakai. Polisi dan pihak yang menuduh telah meminta maaf dan berupaya membersihkan nama sang pedangang karena berita ini sudah terlanjur viral di medsos.
Perkara semacam ini bukan kali pertama terjadi, kita sering melihat peristiwa serupa terjadi dan viral sehingga merugikan banyak pihak. Padahal hal ini terkait dengan harga diri dan nama baik seseorang yang seorang musim wajib untuk saling menjaganya.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah
Ramadan sudah di depan mata. Banyak orang sibuk menyiapkan menu sahur, tapi lupa menyiapkan akhlak. Sibuk mengecek jadwal imsak, tapi lalai mengecek lisan dan jempolnya. Padahal, sebelum puasa menahan lapar, Allah ingin kita belajar menahan dosa.
Rasulullah ﷺ telah mengingatkan kita dengan sebuah peringatan yang sangat tegas. Beliau bersabda:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. al-Bukhari)
Hadits ini, jamaah sekalian, mengguncang kesadaran kita. Karena Rasulullah ﷺ tidak sedang berbicara tentang orang yang tidak puasa, tetapi tentang orang yang berpuasa, namun puasanya kehilangan nilai di sisi Allah. Lapar dan hausnya ada, tetapi pahala puasanya terancam hilang.
Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan قَوْلَ الزُّورِ (qawl az-zūr) bukan hanya kebohongan yang diucapkan secara terang-terangan. Maknanya jauh lebih luas dan lebih halus. Ia mencakup setiap perkataan dan perbuatan yang menyimpang dari kebenaran, seperti fitnah, tuduhan tanpa bukti, merusak nama baik seseorang, serta menyebarkan kabar yang belum jelas kebenarannya.
Maka di zaman hari ini, qawl az-zūr tidak hanya keluar dari mulut, tetapi juga dari jempol dan layar gawai kita. Satu kalimat yang diketik tanpa ilmu, satu berita yang dibagikan tanpa tabayyun, bisa menjatuhkan kehormatan seorang muslim dan menghapus pahala puasa yang kita harapkan selama sebulan penuh.
Inilah sebabnya, jamaah rahimakumullah, menjaga lisan dan media sosial bukan perkara kecil. Ia adalah penentu apakah puasa kita benar-benar diterima, atau sekadar menahan lapar dan haus tanpa nilai di sisi Allah.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah
Kita hidup di sebuah zaman yang disebut sebagai zaman FOMO – Fear of Missing Out, rasa takut ketika merasa tertinggal dari apa yang sedang ramai dibicarakan. Banyak orang cemas bukan karena tidak paham kebenaran, tetapi karena takut tidak tahu isu terbaru. Takut tidak ikut berkomentar. Takut dianggap tidak update, tidak nyambung, dan tidak relevan di mata manusia.
Akhirnya, yang dicari bukan lagi kebenaran, melainkan eksistensi diri. Yang penting ikut bersuara, meskipun tidak tahu duduk persoalannya. Yang penting ikut membagikan, meskipun belum jelas benar atau salahnya. Padahal, dalam pandangan Allah, diam karena tidak tahu jauh lebih mulia daripada berbicara tanpa ilmu.
Allah ﷻ telah mengingatkan kita dengan sangat jelas:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak memiliki ilmu tentangnya.” (QS. Al-Isrā’: 36)
Ayat ini bukan hanya larangan mengikuti langkah kaki, tetapi juga larangan mengikuti arus opini, arus emosi, dan arus viral tanpa dasar ilmu. Seorang mukmin dituntut untuk tenang, berhati-hati, dan bertanggung jawab atas setiap kata dan tindakan, termasuk yang ia tulis dan bagikan di media sosial.
Allah ﷻ telah meletakkan standar yang sangat jelas. Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا
“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian suatu berita, maka telitilah.” (QS. Al-Hujurāt: 6)
Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa kehati-hatian lebih utama daripada kecepatan, dan kebenaran lebih mulia daripada sensasi. Seorang mukmin tidak tergesa-gesa, tidak mudah terpancing, dan tidak rela menjadi bagian dari penyebaran kebohongan, meskipun hanya dengan satu kali klik.
Karena sekali sebuah tuduhan terlanjur viral, kerusakannya bisa berlangsung lama. Nama baik seseorang bisa runtuh dalam hitungan menit, sementara klarifikasi sering kali datang terlambat dan kalah cepat dari fitnah. Inilah sebabnya, jamaah sekalian, Islam mengajarkan kita untuk berhenti sejenak, menimbang dengan ilmu, dan memastikan kebenaran sebelum lisan dan jempol kita bergerak.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah
Rasulullah ﷺ telah meletakkan prinsip agung dalam menjaga hubungan sesama kaum muslimin. Beliau bersabda:
كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ
“Setiap muslim atas muslim yang lain itu haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya.” (HR. Muslim)
Hadits ini menegaskan bahwa kehormatan seorang muslim berada pada kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah. Ia tidak boleh dirusak, direndahkan, atau diinjak-injak, baik dengan tangan, lisan, maupun tulisan. Di zaman hari ini, merusak kehormatan seseorang tidak selalu dengan kekerasan fisik. Cukup dengan satu video yang dibagikan, satu caption yang ditulis, atau satu pesan yang diteruskan, nama baik seseorang bisa runtuh dan luka itu bisa bertahan lama.
Dan perlu kita sadari bersama, jamaah sekalian, dosa yang berkaitan dengan hak sesama manusia tidak selesai hanya dengan istighfar kepada Allah. Ia menuntut penyelesaian kepada manusia yang dizalimi. Selama maaf belum diminta, selama hak belum dikembalikan, maka dosa itu masih menggantung, dan bisa merugikan kita di akhirat kelak.
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ؟
قَالُوا: الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ.
فَقَالَ: إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ،
وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا،
فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ،
فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ،
أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ، ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ
“Apakah kalian tahu siapa orang yang bangkrut itu?”
Para sahabat menjawab, “Orang yang bangkrut di antara kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak memiliki harta.”
Maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat. Namun ia juga datang dalam keadaan pernah mencaci orang ini, menuduh orang itu, memakan harta orang lain, menumpahkan darah, dan memukul orang lain.
Lalu diberikanlah pahala-pahalanya kepada orang-orang yang ia zalimi. Jika pahala-pahalanya telah habis sebelum semua kezaliman itu terbayar, maka dosa-dosa mereka diambil dan dibebankan kepadanya, kemudian ia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim)
Maka jamaah sekalian, mari kita bertanya kepada diri kita masing-masing:
mana yang sebenarnya lebih menakutkan bagi kita?
Apakah ketinggalan satu isu yang sedang trending hari ini,
atau ketinggalan amalan karena terhapus karena kelalaian kita di medsos?
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah
Musim hujan ini membersihkan bumi. Ramadan datang untuk membersihkan hati. Maka sebelum kita menahan lapar, tahanlah lisan. Sebelum kita menahan haus, jagalah jempol.,
Sebelum Ramadan benar-benar datang menyapa kita, mari sejenak kita berhenti dan bertanya dengan jujur kepada diri masing-masing. Media sosial yang selama ini kita gunakan, sejatinya menjadi apa bagi kita? Apakah ia telah berubah menjadi ladang pahala, tempat kita menebar kebaikan dan nasihat? Ataukah justru tanpa sadar menjadi ladang dosa, tempat kita menyebar prasangka, emosi, dan kezaliman?
Dan jika masih ada hati yang pernah kita lukai, masih ada nama baik yang pernah kita rusak, maka jangan tunda untuk meminta maaf sebelum Ramadan tiba. Agar ketika bulan suci itu datang, kita memasukinya dengan hati yang lebih bersih, lisan yang lebih terjaga, dan amal yang lebih ringan untuk diangkat ke hadapan Allah ﷻ.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لله عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِه، وَأَشهَدُ أَن لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِه، وأَشهدُ أنَّ نَبِيَّنَا مُحمَّدًا عَبدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلى رِضْوَانِه
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah
Semoga kita senantiasa diberkahi dan dirahmati Allah dan selalu berada dalam perlindungannya.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوْبِنَا غِلاً لِّلَّذِيْنَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَّحِيْمٌ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ.
رَبَّنَا لَا تُزِغۡ قُلُوبَنَا بَعۡدَ إِذۡ هَدَيۡتَنَا وَهَبۡ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحۡمَةًۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡوَهَّابُ .
ربنا تقبل منّا إنك أنت السميع العليم وتب علينا إنك أنت التواب الرحيم.
رَبَّنَا آتِنَا فِيْ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِيْ الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ . وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين
وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الحُمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته.
Download PDFnya di https://bit.ly/MenyambutRamadanDenganAkhlakKarimah