Bersama Membangun Qudwah Hasanah

Naskah Khutbah
Admin WIM
21 Jul 2022
Bersama Membangun Qudwah Hasanah

KHUTBAH PERTAMA


إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُ..

اللهم صلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا 

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ،  وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار

أيها الناس رحمكم الله

Jamaah Jumat yang berbahagia 

Allah ‘azza wa jalla berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًا

 

Terjemahnya:

Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam qudwah yang baik bagimu, yaitu bagi orang-orang yang mengharap kepada Allah dan kedatangan hari akhir sedang dia banyak menyebut Allah. (QS. Al Ahzab ayat 21)

Qudwah atau suri tauladan yang baik adalah nilai-nilai yang dibawa oleh pendahulu kita dari kalangan Nabi dan Rasul Allah serta orang-orang yang meniti jalan mereka. Jalan yang telah dilukiskan kembali oleh Allah melalui Kalam-Nya Al-Quran, berisi kisah-kisah heroik, pengorbanan, cinta dan kasih sayang, tanggung jawab, pendidikan dan beribu nilai yang tak sanggup diucapkan dengan kata maupun dituliskan dengan tinta, kecuali bagi orang yang hanya berharap kepada rahmat Allah ‘azza wa jalla, merindu yang membuncah akan pertemuannya dengan Sang Kekasih yang senantiasa ia sebut nama-nama-Nya yang Maha Indah, maka hati orang yang seperti ini hakikatnya sanggup menjadi wadah dari nilai-nilai qudwah mereka.  

Al Quran dan hadis sarat akan kisah-kisah para Nabi dan Rasul Allah serta kaum sholihin, bahkan tidak jarang beberapa dari kisah tersebut diulang beberapa kali untuk mengisyaratkan pentingnya qudwah hasanah. Qudwah hasanah demikian urgen sebab ia dapat menjadi barometer kejayaan sebuah umat ketika mereka menerapkan nilai-nilai luhur tersebut. Sebagaimana ungkapan Imam Darul Hijrah Malik bin Anas rahimahullah yang masyhur:

لَنْ يُصْلِحَ آخِرَ هَذِهِ الأُمَّةِ إِلاَّ مَا أَصْلَحَ أَوَّلَهَا.

Terjemahnya:

Tidak akan berjaya akhir dari umat ini kecuali dengan cara kejayaan para pendahulu mereka. (Iqtidha al-Sirath al-Mustaqim 2/243).


Jamaah Jumat yang berbahagia

Usia muda dengan berbagai macam karunia yang Allah berikan adalah masa yang tak tergantikan oleh apapun juga. Sebuah bangsa dan negara bahkan dapat diperhitungkan dalam beberapa tahun ke depan disebabkan jumlah pemuda yang mereka miliki. Oleh karena kekuatan dan kemampuan fisik, pikiran, serta umur yang mereka miliki, dengan itu semua sebuah peradaban baru dapat tercipta. Karenanya Islam meletakkan perhatian yang sangat besar kepada para pemuda. Hal ini sangat jelas tergambar melalui sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتِكَ قَبْلَ مَوْتِكَ.

Terjemahnya:

Manfaatkanlah lima hal sebelum datang lima perkara; masa mudamu sebelum tiba masa tuamu, masa sehatmu sebelum tiba masa sakitmu, masa kayamu sebelum masa fakirmu, masa lapangmu sebelum masa sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu. (HR. Al-Nasai) 

Jamaah Jumat yang berbahagia

Amirul mukminin fil hadits, Ibnu Syihab Al-Zuhry rahimahullah suatu ketika menasihati para pemuda zamannya untuk tidak merasa minder karena usia mereka yang masih belia tatkala menuntut ilmu, beliau mengisahkan “bahwasanya semasa pemerintahan ‘Umar bin Khattab radiyallahu ‘anhu, ada kalanya beliau menghadapi persoalan yang pelik dan sangat mendesak untuk diselesaikan saat itu juga, maka beliau segera mengumpulkan para pemuda untuk meminta pendapat mereka” dengan mengharapkan ketajaman akal yang dimiliki para pemuda.

Seorang ulama besar ternama dari kalangan tabi’in, Abu Ishaq Al-Sabi’iy rahimahullah pernah berwasiat kepada para pemuda yang sering hadir dalam majelis ilmu beliau: “Wahai para pemuda, manfaatkanlah masa muda dan kekuatan kalian, sungguh demi Allah, sangat jarang saya melewati sebuah malam melainkan saya hiasi ia dengan bacaan 1000 ayat Al Quran, dan satu raka’at tahajjudku sepanjang lantunan surah Al-Baqarah.” (Musnad Ibn al-Ja’d nomor 404).


Ibnul Mubarak (181 H) rahimahullah suatu ketika berpesan: 

“Kalian akan berada dalam kebaikan selama ilmu dituntut sejak usia dini, dan ketika ilmu telah berada di tangan para pemuda maka mereka para tetua akan mencemburu andai saja mereka belajar lebih awal.” (al-‘Ilm karya Zuhair bin Harb nomor 155).

Jamaah Jumat yang berbahagia

Seiring berjalannya zaman dan berputarnya roda kehidupan, nilai-nilai qudwah terus terkikis oleh bejatnya godaan dunia. Bahkan bisa dikatakan ada tangan-tangan manusia syaithan yang secara sengaja ingin mengaburkan pandangan para pemuda hingga mereka hilang arah. Sayangnya, tidak sedikit dari mereka yang tergilas bahkan berubah menjadi pawang-pawang syaithan selanjutnya untuk menghapus nilai qudwah hasanah dan mengubahnya menjadi qudwah sayyi’ah atau suri tauladan yang buruk. Kisah tauladan para salaf akhirnya hanya dianggap sebagai dongeng semata untuk menina bobokan anak ingusan. 

Hilangnya qudwah hasanah sendiri adalah musibah dan bencana terbesar yang menimpa umat di akhir zaman ini. Dan hal itu telah terjadi bahkan menimpa para pemuda dan pemudi yang kelak akan diproyeksikan menjadi wajah baru dari masa depan dunia ini. Menggelincirkan segelintir dari kalangan pemuda, itu berarti telah merusak sebagian dari masa depan yang seyogyanya dapat tercipta indah, aman dan bermartabat.

Jamaah Jumat yang berbahagia

Lihatlah, berapa banyak pemuda muslim dan muslimah yang telah kehilangan jati diri dan identitas mereka hari ini?

Berapa banyak pemuda muslim dan muslimah yang pikirannya telah diracun oleh belenggu materialisme yang menjadikan dunia sebagai segala-galanya?

Berapa banyak pemuda muslim dan muslimah yang tingkah laku bahkan kebiasaannya telah terkontaminasi oleh perasaan takjub dan bangga akan musuh-musuh Islam dan muslimin?

Bahkan berapa banyak pemuda muslim dan muslimah yang lebih rida dengan musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya, takut akan syariat Islam, anti terhadap pemeluknya yang mencoba istikamah di atasnya?


Maka bukan sebuah hal yang mengherankan jika di antara mereka ada yang merasa begitu bangga memiliki nama yang sama dengan nama idola mereka, atau merasa amat terhormat dengan kehidupan modis duniawi ala model kesayangan mereka. 

Bukan hal yang mengherankan jika di antara mereka ada yang merasa nikmat dengan banyaknya waktu yang terbuang sia-sia demi kepuasan dan kelezatan syahwat mereka, atau mereka yang merasa sangat bahagia setelah menanggalkan syariat dari tubuhnya, bahkan rela menjual Islam dan hidayah dari hatinya demi pengakuan manusia, wal ‘iyaadzu billah.    

Jamaah Jumat yang berbahagia…

Hukum sebab-akibat selalu berlaku kapanpun dan dimanapun, tak terkecuali musibah yang menimpa umat ini. Tentu saja para pemuda tak pantas dikambing hitamkan begitu saja, karena ada begitu banyak sebab yang melatar belakanginya. Bahkan boleh jadi kelalaian diri dan ketidaksungguhan para ulama dan mu’allimin dalam mengarahkan dan membimbing para pemuda, jusru mengambil bagian terbesar dari sebab munculnya musibah ini. 

Olehnya, untuk menangani dan mengobati luka yang semakin parah ini, maka dibutuhkan kesungguhan untuk mengulang kembali nilai-nilai qudwah yang telah dituliskan oleh para ulama salaf lalu menghadirkannya dengan metode yang lebih dekat seakan para pemuda merasa hidup bersama tokoh-tokoh generasi muda pendahulu umat ini, yang telah tertempa secara langsung melalui taujihaat serta arahan Nabawiyyah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan harapan, di saat yang sama semoga mereka yang memiliki maqam alim ulama dan para pendidik kian tercerahkan dengannya, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melahirkan generasi muda Islam yang berjaya bahkan sampai beratus-ratus tahun setelah wafatnya. 

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَنَفَعَنِي وَإِيَاكُمْ بِمَا فِيهِمَا مِنَ العِلْمِ وَالْحِكْمَةِ، أَقُوْلُ قًوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ، إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.


KHUTBAH KEDUA


الْحَمْدُ للهِ عَلَىْ إِحْسَاْنِهِ ، وَالْشُّكْرُ لَهُ عَلَىْ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَاْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَاْ إِلَهَ إِلَّاْ اللهُ تَعْظِيْمَاً لِشَأْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْدَّاْعِيْ إِلَىْ رِضْوَاْنِهِ صَلَّى اللهُ عَلِيْهِ وَعَلَىْ آلِهِ وَأَصْحَاْبِهِ وَإِخوَانِهِ

Kaum muslimin, jamaah salat Jumat yang dirahmati Allah Azza wajalla.

Beberapa penelitian menyebutkan bahwa untuk menentukan jumlah sahabat radiyallahu ‘anhum ajma’in secara pasti adalah merupakan suatu hal yang sulit. Hal itu dikarenakan tersebarnya mereka di perkotaan, perkampungan bahkan di belahan dunia lainnya selain jazirah arab saat itu. Ditambah pengakuan Ka’ab bin Malik radiyallahu ‘anhu dalam kisah peperangan tabuk pada tahun 9 hijriyah:

“Dan jumlah kaum muslimin yang akan berangkat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangatlah banyak, sayangnya tak ada kitab yang digunakan untuk menuliskan nama-nama mereka saat itu”. (Muttafaq ‘Alaih)

Meski demikian, secara umum jumlah mereka tentu saja tidak kurang dari seratus ribu orang. Jabir radiyallahu ‘anhu pernah menggambarkan jumlah yang sangat banyak ini dalam peristiwa haji wada’: Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengendarai (Al-Qahwaa) untanya, beliau berhenti di Baidaa’, maka nampaklah di kedua mataku jumlah manusia yang sangat banyak baik di depan, kanan, kiri maupun di belakang beliau. (HR. Muslim)  

Jamaah sekalian, tahukah kita bahwa dari jumlah yang sangat banyak ini rupanya sebagian besar mereka justru masih berusia sangat belia dan muda, namun mereka telah berjuang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di saat para pemuka dan tetua suku Quraisy memusuhi dan menghina Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan risalah yang beliau bawa. 

Mereka adalah para pemuda generasi terbaik, tidakkah kita takjub terhadap ‘Ali radiyallahu ‘anhu yang rela mengorbankan jiwanya yang masih berusia 23 tahun untuk menggantikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di atas tempat tidurnya ketika beliau melaksanakan hijrah bersama Abu Bakr? atau kepada ‘Abdullah bin ‘Umar radiyallahu ‘anhuma yang terbakar tekad dan semangatnya untuk ikut berperang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada peperangan uhud, sedang usianya belum genap 15 tahun? atau kepada Zubair bin ‘Awwam radiyallahu ‘anhu yang digelar sebagai hawaariy atau penolong Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam padahal usianya belum genap 20 tahun? atau kepada Dzatunnitaqain Asmaa bintu Abi Bakr radiyallahu ‘anhuma yang memeluk Islam di usianya yang ke-14 tahun dan berperan penting dalam kesuksesan hijrah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam? 

Jamaah Jumat yang berbahagia

Mari bahu membahu melahirkan kembali generasi pemuda yang cemerlang, untuk menuntun masa depan bangsa dan negara Indonesia. Siapapun kita, dan apapun tugas yang kita emban, maka jangan pernah merasa hilang tanggung jawab apalagi bersikap apatis dengan generasi yang akan datang.

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤىِٕكَتَهُۥ یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّۚ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمًا

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ . وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ،فِي العَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ،يَا سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً  إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

رَبَّنَا تَقَبَّل مِنَّا وَقِيَامَنَا وَسَائِرَ أَعمَالِنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

اللَّهُمَّ أَعِزَّالْإِسْلَامَا وَ لْمُسلِمِين وأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَ المُشْرِكِينَ وَأَعدَاءَكَ يَا عَزِيزٌ يَا قَهَّارٌ يَا رَبَّ العَالَمِينَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ


Penulis:  Rachmat Badani, Lc., M.A.

Download PDFnya di https://bit.ly/MenjadiQudwah