BENTENG DARI SEGALA FITNAH

Naskah Khutbah
Asdar
15 Dec 2023
BENTENG DARI SEGALA FITNAH

JUMAT, 24 Jumadilawal 1445 H / 08 Desember 2023 M
 Oleh Luqmanul Hakim Sudahnan, Lc., M.A.

Dep. Dakwah DPD Wahdah Islamiyah Makassar

KHUTBAH PERTAMA

 

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ..

اللهم صلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ،  وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار

أَيُّهَا النَّاسُ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيَ بِتَقْوَى اللِه فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ

Jamaah Jumat yang dimuliakan oleh Allah…

Sesungguhnya anugerah teragung dan terindah yang datang dari Allah Azza wajalla adalah  hidayah, yaitu kenikmatan berupa iman kepada Allah dan Rasul-Nya, yang dikongkritkan dalam bentuk ketundukan lahir dan batin kepada-Nya, dengan melaksanakan ibadah jasmani dan ibadah rohani.

Nikmat ini dikenal dengan istilah hidayatut taufik yang merupakan prerogatif Allah semata, tidak ada selain Allah yang mampu menghadirkannya kepada hamba-hamba-Nya meskipun ia seorang Nabi ataupun Rasul, Allah berfirman:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ

Terjemahnya: “Sesungguhnya engkau (wahai Rasulullah) tidak akan mampu memberikan hidayah (taufik) kepada orang yang engkau kasihi, namun Allah-lah yang dapat member hidayah (taufik) kepada hamba yang dikehendakiNya”. (QS. Al-Qashas ayat 56).

Dan Rasulullah telah menegaskan urgensi dari hidayah jenis ini, beliau sering mengulang dalam khutbahnya kalimat yang luar biasa jika direnungi, beliau mengatakan:

مَنْ يَهْدِي اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ

Artinya: “Barang siapa yang diberi hidayah oleh Allah, maka niscaya tidak akan ada yang dapat menyesatkannya, dan barang siapa yang telah ditetapkan untuk menjadi sesat, maka tidak akan ada yang mampu memberi hidayah”. (HR. Ad-Darimi).

Olehnya sangat penting bagi kita untuk mensyukuri kenikmatan ini, dan menghindari serta senantiasa waspada terhadap hal-hal yang dapat menjadi penyebab dan faktor lenyapnya hidayah dari Allah Azza wajalla.

Jamaah Jumat yang berbahagia…

Tidaklah seorang hamba mengikrarkan keimanan, kecuali akan diuji kejujuran keimanannya tersebut dengan cobaan, ujian dan fitnah, Allah berfirman:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ (2) وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

Terjemahnya: “Apakah manusia itu menduga bahwa mereka dibiarkan saja mengucapkan:(kami telah beriman), sedangkan mereka tidak diuji lagi? [2] Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang jujur imannya dan mengetahui orang-orang yang dusta” (QS. Al-'Ankabut ayat 2-3).

Secara garis besar faktor yang menyebabkan manusia terjerembab dalam kubangan kesesatan ada dua:

Yang pertama  : Syubhat.

Yang kedua     : Syahwat.

Yang dimaksud dengan syubhat adalah kerancuan dalam pemikiran yang berdampak kepada keragu-raguan, atau kesalahan pemahaman atau buruknya persepsi terhadap Al-Qur'an dan Sunnah, sehingga berakibat kepada terjadinya bid'ah, penyimpangan dalam pemikiran dan kesesatan. Allah berfirman,

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ

Terjemahnya: “Dialah yang menurunkan Al-Qur’an kepadamu (wahai Muhammad), di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat (yang sangat jelas maknanya dan hukumnya), itulah pokok-pokok kitab Al-Qur’an, dan yang lain mutasyabihat (yang samar dan diperselisihkan hukumnya). Adapun orang yang dalam hatinya conong pada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyabihat untuk mencari-cari fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya.” (QS Al-Imran ayat 7).

Adapun yang dimaksud dengan syahwat adalah dihiaskan kepada seorang hamba indahnya dunia, berupa harta, kedudukan dan jabatan dan lain sebagainya, sehingga ia lebih mengutamakan indahnya dunia yang fana beserta kenikmatannya dibandingkan keindahan akhirat yang abadi dan kekal, bahkan sampai rela mengorbankan agamanya, Allah berfirman:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

Terjemahnya: “Dihiaskan kepada manusia kecenderungan dan cinta kepada wanita-wanita, anak-anak, harta berupa emas dan perak, kendaraan/tunggangan berupa kuda pilihan, binatang ternak dan hasil sawah dan lading. Itulah kesenangan dunia, dan di sisi Allah ada tempat kembali yang baik (berupa Surga)” (QS. Ali-Imran ayat 14).

Itulah dua jenis ujian yang dapat menyelewengkan seorang hamba dari jalan yang lurus, maka sangat penting bagi kita untuk mencari solusi agar terhindar dari jeratan fitnah tersebut, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah memberikan resep Ampuh bagi dua fitnah ini, beliau mengatakan:

فِتْنَةُ الشُّبْهَاتِ تُدْفَعُ بِالْيَقِيْنِ وَفِتْنَةُ الشَّهَوَاتِ تُدْفَعُ بِالصَّبْرِ

Artinya: “Ujian syubhat dilenyapkan dengan keyakinan, dan ujian syahwat dilenyapkan dengan sabar”.

Inilah dua solusi yang disarankan oleh ulama kita, demi keselamatan kita dari dua ujian yang telah kita jelaskan diatas. Solusi pertama adalah yakin.

Yakin secara bahasa adalah antonim dari ragu-ragu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ فَلْيُلْقِ الشَّكَّ وَلْيَبْنِ عَلَى الْيَقِينِ 

Terjemahnya: “Jika salah seorang diantara kalian ragu di dalam shalatnya, maka hendaknya ia menghilangkan keraguannya dan hendaknya ia melanjutkan shalatnya diatas keyakinan”. (HR. Ahmad).

Adapun makna secara istilah, makna yakin tidak lepas dari dua hal; yaitu ilmu dan iman. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengutip perkataan Junaid dalam mendefinisikan yakin, beliau mengatakan:

اِسْتِقْرَارُ الْعِلْمِ الَّذِي لَا يَنْقَلِبُ وَلَا يُحَوِّلُ وَلَا يَتَغَيَّرُ فِي الْقَلْبِ

Terjemahnya: "Menetapnya ilmu yang kokoh di dalam hati, yang tidak akan berubah dan bergeser sedikitpun."

Adapun makna yang kedua adalah iman, hal ini sebagaimana dikatakan oleh Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu anhu:

اليَقِيْنَ الإِيْمَانُ كُلُّهُ

Terjemahnya: “Yakin adalah keimanan seluruhnya” (HR. Al-Bukhari).

Oleh karena itu, sebagian akademisi, seperti Prof. Dr Khalid al-Durais menetapkan bahwa sifat yakin tidak akan dikecap oleh seorang hamba sampai ia dapat mengumpulkan dua hal; yang pertama: Ilmu, dan yang kedua: Amal saleh, perpaduan antara ilmu dan amal saleh inilah yang diharapkan dapat menghadirkan ketakwaan bagi hamba, sehingga terbentuk sifat yakin pada dirinya, sebagaimana yang dikatakan oleh Atha’ rahimahullah:

عَلَى قَدْرِ قُرْبِهِمْ مِنَ التَّقْوَى أَدْرَكُوا مِنَ الْيَقِيْنِ

Terjemahnya: “Sesuai dengan kadar ketakwaan, seseorang akan mencapai sifat yakin.”

Inilah makna yakin, yang merupakan solusi dari ujian yang disebutkan oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah untuk syubhat, sebab sejatinya ujian ini tidak muncul kecuali dari orang yang dangkal keilmuannya sehingga hatinya senantiasa diliputi oleh was-was dan keraguan yang dihunjamkan oleh syetan ke dalam dadanya, maka dengan ilmu syar'i yang bersumber dari wahyu, akan dapat meyingkirkan penyakit ini, apalagi jika dimantapkan dalam bentuk amalan, tentunya akan melahirkan keimanan yang kokoh bagi seorang hamba.

Jamaah Jumat yang dimuliakan oleh Allah…

Adapun solusi yang kedua adalah sabar.

Sabar secara bahasa adalah menahan diri, adapun makna secara istilah adalah menahan diri dalam tiga hal; dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, dalam menjauhi laranganNya, dan dalam menghadapi cobaan dan bencana (takdir buruk).

Inilah solusi bagi hamba dalam menghadapi ujian syahwat, dikarenakan syahwat senantiasa menyeret seorang hamba untuk melanggar syariat dan ketentuan Allah demi untuk memenuhi tuntutan nafsunya, maka kesabaran adalah solusi untuk memadamkannya.

Jika seorang hamba dapat membentengi diri dengan dua sifat ini, dan menghiasi dirinya dengan ilmu syar'i dan kesabaran, maka ia dapat mencapai derajat yang tinggi dalam agama, sebagaimana firman Allah:

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ 

Terjemahnya: “Dan kami jadikan mereka Imam-Imam (pemimpin/ulama dalam agama) yang memberi petunjuk dengan perintah kami ketika mereka bersabar, dan mereka yakin dengan ayat-ayat kami” (QS. As-Sajadah ayat 24).

Dan ini selaras dengan untaian nasihat fenomenal dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dimana beliau mengatakan:

بِالصَّبْرِ وَالْيَقِيْن ِتُنَالُ الإِمَامَةُ فِي الدِّيْن

Artinya: “Dengan sifat sabar dan yakin, maka akan diperoleh tingkatan ulama (imamah) dalam agama”.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَنَفَعَنِي وَإِيَاكُمْ بِمَا فِيهِمَا مِنَ العِلْمِ وَالْحِكْمَةِ، قُلْتُ مَا سَمِعْتُمْ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ، إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ للهِ عَلَىْ إِحْسَاْنِهِ ، وَالْشُّكْرُ لَهُ عَلَىْ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَاْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَاْ إِلَهَ إِلَّاْ اللهُ تَعْظِيْمَاً لِشَأْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْدَّاْعِيْ إِلَىْ رِضْوَاْنِهِ صَلَّى اللهُ عَلِيْهِ وَعَلَىْ آلِهِ وَأَصْحَاْبِهِ وَإِخوَانِهِ

فَيَا اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا االلهَ تَعَالىَ وَذَرُوا الْفَوَاحِشَ مَاظَهَرَ وَمَا بَطَنْ، وَحَافِظُوْا عَلىَ الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ.

 

Jamaah Jumat yang berbahagia…

Di antara benteng yang sangat kokoh dari ujian tersebut adalah doa kepada Allah Azza wajalla. Sesungguhnya syubhat dan syahwat yang menyerang hati manusia, dan tergelincirnya manusia ke dalam kubangan tersebut karena kelemahan hatinya, oleh karena itu memohon dan berdoa kepada Allah agar diberikan keteguhan dan dilindungi dari hal tersebut, merupakan salah satu benteng yang kokoh dari rongrongan syubhat dan syahwat, sebab hati seorang hamba berada dalam kekuasaan Allah Azza wajalla, sebagaimana yang diceritakan oleh Anas bin Malik:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ: " يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ " . قَالَ: فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللهِ، آمَنَّا بِكَ وَبِمَا جِئْتَ بِهِ، فَهَلْ تَخَافُ عَلَيْنَا ؟ قَالَ: فَقَالَ: " نَعَمْ، إِنَّ الْقُلُوبَ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ يُقَلِّبُهَا

Artinya:  “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sering berdoa dengan mengucapkan, “Wahai Zat yang membolak-balikan hati, teguhkanlah hatiku diatas agama-Mu. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, kami telah beriman kepadamu, apakah engkau mengkhawatirkan kami akan tersesat? Maka Rasulullah menjawab,”ya, sesungguhnya hati manusia berada dalam dua jari Allah Azza wajalla, Dia membolak-balikkannya.” HR. Ahmad.

Semoga Allah mengaruniakan kita keyakinan yang teguh dan kesabaran yang kokoh yang   yang menjadi benteng kita dari segala keburukan dan kemungkaran, aamiin...

اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِىْ يَاَ يُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
 اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ . وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ،فِي العَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ،يَا سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.
 اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ المُسْلِمِيْنَ وأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَ المُشْرِكِينَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَكَ أَعدَاءَ الدِّيْنَ يَا عَزِيزٌ يَا قَهَّارٌ يَا رَبَّ العَالَمِينَ

اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا المُستَضْعَفِيْنَ فِي غَزَّة، اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُجَاهِدِيْنَ فِي فِلِسْطِيْنَ
 اَللَّهُمَّ أَيِّدْهُمْ بِتَأْيِيْدِكَ، وَاحْفَظْهُمْ بِحِفْظِكَ، يَا قَوِيُّ يَا عَزِيزٌ

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً  إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

رَبَّنَا تَقَبَّل مِنَّا وَقِيَامَنَا وَسَائِرَ أَعمَالِنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ


Download PDFnya di https://bit.ly/BentengSegalaFitnah

Baca Juga