Saya Masih Terbata-bata Membaca Al-Qur'an

Muhasabah
Super Admin
29 Sep 2019
Saya Masih Terbata-bata Membaca Al-Qur'an

Alhamdulillah wassholatu wassalamu ala Rasulillah wa ala aaliihi washohbihi wa man walah, amma ba'du.


Masih banyak diantara umat Islam pada dekade ini terbata-bata ketika melantunkan ayat suci Alquran. Lisan terasa kaku dan berat ketika akan membuka mushaf, perasaan dalam hati yang serasa ada dosa ketika salah melafazkan kalamullah yang mulia ini.


Bahkan yang sangat disayangkan adalah ada beberapa kaum muslimin yang selama bertahun-tahun belum membaca Alquran karena kesulitan membaca katanya, atau adapula yang seumur hidupnya belum pernah sama sekali membaca Alquran dikarenakan belum belajar, malu karena sudah dewasa dan seterusnya. Ahllaul musta'an.


Dan akhirnya semua ini menjadi halangan karena masih terbata-bata dalam membaca Alquran dan atau masih belum bisa membaca Alquran.


Tidak bisa dipungkiri bahwasanya kekurangan kaum muslimin yang terjadi adalah kurangnya perhatian mereka terhadap kitabullah, dan kita juga pasti biasa mendapati anak muda sampai orang dewasa yang tidak bisa membaca Alquran.


Maka sikap kita ketika melihat fenomena seperti ini adalah bagaimana mengembalikan semangat mereka dalam membaca Alquran. Dengan terus memberikan kontribusi, dukungan, dan dorongan kepada mereka.


Bukankah sebaik-baik orang adalah yang membaca dan mengajarkan Alquran? Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam :


خيركم من تعلم القرآن وعلمه


"Sebaik-baik kalian adalah yang membaca dan mengajarkan Alquran."


Para pembaca yang dirahmati Allah.


Yang pertama harus kita tanamkan adalah bahwasanya membaca Alquran itu mudah. Tidak ada kesukaran yang ada di dalamnya, sebagaimana Firman Allah subhanahu wata'ala :


وَلَقَدۡ یَسَّرۡنَا ٱلۡقُرۡءَانَ لِلذِّكۡرِ فَهَلۡ مِن مُّدَّكِرࣲ


"Dan sungguh, telah Kami mudahkan Alquran untuk diingat, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?" [Q.S. Al-Qamar 17]


Dan sekali lagi bahwasanya Allah subhanahu wata'ala tidak mungkin menjadikan sebuah ibadah yang dicintai-Nya sulit untuk dikerjakan.


Sebagaimana Firman Allah Subhanahu wata'ala :


وَجَـٰهِدُوا۟ فِی ٱللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِۦۚ هُوَ ٱجۡتَبَىٰكُمۡ وَمَا جَعَلَ عَلَیۡكُمۡ فِی ٱلدِّینِ مِنۡ حَرَجࣲۚ


"Dan berjuanglah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu, dan Dia tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama." [Q.S. Al-Hajj: 78]


Al Imam Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat ini mengatakan :"Berjuang dengan harta, lisan, dan jiwa."


Membaca Alquran tentu saja merupakan diantara amalan yang sangat luar biasa pahalanya disisi Allah, bahkan seseorang yang mahir terhadap Alquran kedudukannya bisa sampai pada derajat malaikat yang mulia.


Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :


الذي يقرأ القرآن وهو ماهر فيه مع السفرة الكرام البررة والذي يقرأ القرآن ويتتعتع فيه له أجران


"Orang yang membaca Alquran dan dia mahir maka dia (kedudukannya) bersama para malaikat yang mulia dan orang yang membaca Alquran dengan terbata-bata maka dia mendapatkan dua pahala". (H.R. Muslim 798)


Apa maksudnya orang yang terbata-bata mendapatkan dua pahala?


Maksudnya adalah pahala dari membaca Alquran itu sendiri dan pahala masyaqqoh (kesulitan) yang ia dapatkan ketika membaca Alquran.


Seseorang yang belum terbiasa membaca Alquran, terkadang lisannya sulit ketika mengucapkan beberapa huruf yang mungkin tidak ada dalam bahasa keseharian orang tersebut, dan tentu saja ini akan menimbulkan kesulitan. Maka yang demikian ini boleh berharap pahala dari Allah subhanahu wata'ala agar dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang diganjar dua pahala.


Akan tetapi jika membaca Alquran kemudian kesalahan dalam pengucapan lafazh tersebut sampai kepada pergantian makna maka wajib untuk diluruskan dan dibenahi. Sampai dia benar dalam pengucapan dalam membaca Alquran.


Dan alhamdulillah pada zaman ini tempat-tempat untuk belajar Alquran sangatlah banyak, dan ini merupakan kesempatan untuk memperbaiki bacaan Alqurannya.


===================================

Oleh :

Yoshi Putra Pratama

Editor: 
Ustadz Muhammad Istiqamah, Lc.