Mengulang Kembali Kejayaan Ummat Terdahulu di Negeri ‘Zamrud Katulistiwa’

Sejarah
Super Admin
03 Oct 2019
Mengulang Kembali Kejayaan Ummat Terdahulu di Negeri ‘Zamrud Katulistiwa’

Dalam bukunya yang berjudul, “Pendidikan Islam; Kompilasi Pemikiran Pendidikan” Dr. Adian Husaini mengatakan bahwa akar permasalahan yang menjadi sebab terjadinya krisis di negeri ini adalah gagalnya pendidikan kita. Karena dari proses pendidikan inilah para pemimpin, politisi, pengambil kebijakan, guru, dan pekerja dihasilkan. Imam Al Ghazali mengatakan bahwa kemunduran dan kehancuran Islam berawal dari kerusakan ulama yang berakar pada kerusakan ilmu (pendidikan)  (Adian Husain, hal. xvi: 2018)

Dalam teori pembangunan pun dijabarkan bahwa bentuk pembangunan ada dua jenis, yakni pertama adalah pembangunan fisik yang teraplikasikan dalam pembangunan infrastruktur seperti jalan raya dan fasilitas umum lainnya. Kedua, pembangunan non fisik yakni pembangunan manusia melalui pendidikan yang telah diatur dalam perundang-undangan dan sistem yang sedemikian rupa baik melalui pendidikan formal, informal maupun nonformal. Di awal masa pembangunan Jepang, pembangunan manusia melalui pendidikan lebih dikedepankan daripada pembangunan fisik. Terbukti saat peristiwa pengeboman kota Heroshima dan Nagasaki pada perang dunia II, Hirohito pertama kali menanyakan apakah masih ada guru yang tersisa. Yang demikian karena Hirohito tahu bahwa guru adalah kunci pendidikan dan dengan pendidikanlah kemajuan akan dengan mudah dicapai.

Demikian halnya dalam Islam sebagai agama rahmatan lil alamin, pendidikan adalah perintah pertama yang diturunkan Allah ke muka bumi. “Bacalah!, dengan menyebut nama Tuhan mu yang t elah menciptakan” (T.Q.S. Al-Alaq: 1). Perintah ini menjadi isyarat bahwa dari membacalah (pendidikan) titik permulaan meraih kejayaaan ummat harus dimulai.

Berbicara mengenai pendidikan, tentu tidak terlepas dari yang namanya kurikulum yang secara harfiah berarti “lintasan atau jalan”. Secara umum bermakna seluruh aktivitas pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan itu sendiri. Ada perbedaan mendasar yang cukup tajam antara kurikulum yang diterapkan di sekolah –sekolah hari ini dengan kurikulum yang diterapkan oleh manusia terbaik sepanjang masa 1400 tahun yang lalu. Hal ini terlihat dari lulusan yang dihasilkan oleh masing-masing kurikulum. Halaqah yang dibina oleh nabi terbukti oleh sejarah mampu membangun paradaban yang kuat. Kita semua tahu bagaimana terbelakangnya bangsa Arab tatkala Islam belum datang, setelah Islam datang dengan membawa sistem pendidikan dari langit, bangsa Arab menjelma menjadi kekuatan besar bahkan sempat menguasai ¾ bumi. Begitu dahsyatnya sistem pendidikan qur’ani. Lantas bagaimana potret pendidikan hari ini di bangsa yang memiliki jumlah penduduk muslim terbesar di muka bumi.

Dalam beberapa literatur dijelaskan bahwa dewasa ini, sistem pendidikan kita berkiblat pada barat yang notabenenya menyusupkan paham positivisme, materialisme kepada para pelajar. Sebuah paham yang menepis/tidak mengakui segala sesuatu yang bersifat non-material, tidak mempercayai adanya Tuhan atau dunia adikodrati (supranatural) dan tentu saja hal ini bertentangan dengan paham keagamaan yang salah satu rukunnya adalah mengimani perkara gaib (malaikat, alam kubur, roh). Ujung dari paham ini adalah atheisme.

Contoh sederhananya adalah teori-teori tentang asal muasal terbentuknya alam semesta. Salah satu teori menyebutkan bahwa alam semesta terbentuk secara tiba-tiba, di teori lain dijelaskan bahwa alam semesta ini terbentuk karena adanya ledakan yang sangat besar. Tak satupun teori dalam pelajaran sains yang menyebutkan bahwa alam semesta terbentuk karena ada Allah yang Maha Pencipta yang menciptakan alam raya untuk beribadah kepada-Nya. Contoh lain adalah ketika terjadi bencana alam seperti tsunami, gempa, longsor, likuifaksi. Beberapa media yang menjadi rujukan khalayak menjelaskan bahwa bencana alam terjadi karena adanya pergeseran lempeng tektonik, pencairan tanah dan sebab-sebab lain yang lebih ilmiah dan bersifat material. Jarang ditemukan media (kecuali media Islam) yang menjelakan bahwa bencana alam terjadi atas kehendak Allah untuk menegur manusia yang semakin lalai dari mengingat Allah dan agar manusia segera bertobat.

Jika kita menilik kembali sejarah peradaban Islam, kemenangan demi kemenangan yang diraih oleh kaum muslimin bukan karena mereka pintar secara akademik semata, melainkan juga karena kedekatan mereka kepada Allah Azza wa Jalla sangat intim. Ibadah-ibadah mereka sangat terjaga sehingga itulah yang mengundang turunnya pertolongan Allah. Semua karena sistem pendidikan yang Nabi terapkan adalah sistem pendidikan qur’ani yang memadukan semua jenis kecerdasan.

“Dan sesungguhnya telah tetap janji Kami kepada hamba-hamba Kami yang menjadi Rasul, (yaitu) sesungguhnya mereka itulah yang pasti mendapat pertolongan. Dan sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang” (T.Q.S. Ash-Shaffat: 171-173).

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi…. (T.Q.S. An-Nur: 55).

Dalam contoh yang lain, perbedaan yang cukup signifikan antara pendidikan nabi dengan pendidikan sekarang adalah dilihat dari alumni yang dihasilkan. Para alumni dari madrasah nabi memiliki kualitas sebagai ahli ilmu dan ahli militer (dai sekaligus jenderal). Sebut saja Khalid bin Walid, Abu Ubaidillah, Ali bin Ali Thalib dan sahabat-sahabat lainnya. Selain sebagai pemimpin pasukan dalam peperangan mereka juga merupakan ahli ilmu.

Lantas bagaimana kita sebagai pemuda yang menghirup udara milenial? Apakah kita mampu menyusuri jejak kejayaan yang telah ditorehkan oleh para sahabat? Sementara kunci kejayaan (pendidikan) kita saat ini sangat berbeda dengan para sahabat?

Sebagian kita mungkin tidak asing lagi dengan satu kata yang sangat lekat dengan kita hari ini. yaitu ‘DAKWAH DAN TARBIYAH’.

Dalam pandangan penulis, dakwah dan tarbiyah adalah representasi dari kurikulum nabi dan potret kehidupan para sahabat. Di sinilah jiwa militan dan intelektual pendakwah di dibangun, diasah, dan digenjot agar mampu menjadi pelita minimal di lingkungannya masing-masing. Konsep dakwah memang tidak diajarkan dalam kurikulum pendidikan negara yang terbaru (K13 revisi). Meski demikian dakwah adalah sebuah mata pelajaran wajib di sekolah kehidupan. Sebuah sekolah yang tidak pernah terakdreditasi oleh BAN-PT, sekolah yang tidak memberikan selembar ijazah kepada alumninya, sebuah sekolah yang abstrak/non -material dalam pandangan paham materialisme. Namun ia adalah sekolah yang mengajarkan banyak hikmah bagi siswa-siswanya dan mempersiapkan mereka untuk menjadi mujahid akhir zaman. Di dalamnya pundi-pundi kebaikan dan amal jariyah di tanam. Sekolah yang menurut penulis adalah nama lain dari halaqah tarbiyah yang juga pernah ditempuh oleh ummat terdahulu.

Berdasarkan pengalaman empiris penulis, di halaqah tarbiyah diajarkan konspe meraih kejayaan ummat terdahulu yakni Ilmu, amal, dakwah dan sabar. Sebagai seorang muslim wajib hukumnya untuk menuntut ilmu, ilmu yang sesuai dengan Alquran dan sunnah berdasarkan pemahaman salafussalih. Ilmu tersebut kemudian diamalkan dengan berpatokan pada konsep ittibaurrasul. Kemudian ilmu tersebut diajarkan/didakwahkan kepada orang-orang di sekitar lalu bersabar dalam mendakwahkannnya. Bisa jadi selama proses berdakwah akan banyak cobaan yang menimpa misalnya penolakan, celaan bahkan sampai tuduhan. Disinilah konsep kesabaran harus benar-benar terterapkan dengan apik dan penuh ketulusan. Dan inilah yang dilakukan oleh ummat terdahulu ketika menapaki tangga demi tangga kejayaan.

Ketika konsep ini dijalankan dengan konsisten, bukan tidak mungkin kejayaan ummat terdahulu akan terulang di negeri kita. Kejayaan yang dimaksud adalah terbebasnya kita dari sistem yang sangat jauh dari konsep quran dan sunnah. Utamanya adalah konsep pendidikan yang bermuara pada paham materialisme seperti penjabaran sebelumnya. Dan tentunya menjayakan dakwah ahlusunnahwaljamaah di negeri ‘Zamrud Katulistiwa’. Biidznillah.

==========================================
Oleh:
Surahmi (Mahasiswi Universitas Negeri Makassar)
Editor:
Ustadzah Armida, Lc (Dosen STIBA Makassar)