JADI PEMIMPIN JANGAN KHIANAT

Naskah Khutbah
Asdar
15 Jan 2026
JADI PEMIMPIN JANGAN KHIANAT

JUMAT, 26 Rajab 1447 H / 16 Januari 2026 M
 Oleh Dr. Muhammad Ihsan Zainuddin, Lc., M.Si.

Dep. Dakwah DPD Wahdah Islamiyah Makassar

KHUTBAH PERTAMA

 

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ..

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار

أَيُّهَا النَّاسُ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...

Wasiat utama dan puncak para Nabi dan Rasul adalah wasiat tentang takwa. Maka, tidak pernah bosan kita saling mewasiatkan kepada diri sendiri dan kepada jamaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan sebenar-benar takwa. Ketakwaan itulah bekal terbaik ketika kita menghadap Allah pada hari yang tidak bermanfaat harta dan jabatan, kecuali hati yang bersih.

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...

Pada kesempatan khutbah ini, marilah kita merenungkan satu perkara yang sangat berat, namun sering dianggap ringan oleh manusia, yaitu tanggung jawab akhirat seorang pemimpin. Kepemimpinan dalam Islam bukanlah kehormatan semata, bukan pula sekadar kekuasaan dan fasilitas. Ia adalah amanah besar yang kelak akan dipertanyakan satu per satu di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla.

Allah Ta‘ālā berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Terjemahnya: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul, dan jangan pula mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepada kalian, sedang kalian mengetahuinya.” (QS. Al-Anfal (8) ayat 27).

Ayat ini, sebagaimana disebutkan dalam penjelasan para ulama tafsir, mencakup seluruh amanah, baik amanah ibadah, harta, maupun amanah kepemimpinan. Karena setiap jabatan adalah amanah, sekecil apa pun kedudukannya.

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...

Rasulullah ﷺ memberikan peringatan yang sangat tegas tentang kepemimpinan. Dalam sebuah hadits, Rasulullah ﷺ bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Artinya: “Kalian semua adalah pemimpin, dan kalian semua akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. al-Bukhari & Muslim).

Kemudian Nabi ﷺ menyebutkan satu per satu: penguasa, laki-laki di keluarganya, perempuan di rumah suaminya. Ini menunjukkan bahwa pertanggungjawaban kepemimpinan bersifat universal, tidak terbatas pada jabatan formal.

Beliau menyampaikan bahwa setiap pemimpin itu ibarat seorang penggembala yang akan dimintai pertanggungjawaban atas gembalaannya. Maka, seorang ayah adalah pemimpin di rumahnya, seorang ibu pemimpin di rumah suaminya, dan seorang penguasa adalah pemimpin atas rakyatnya. Semua akan ditanya oleh Allah tanpa terkecuali.

Maka marilah kita merenung sejenak… Berapa banyak pemimpin yang di dunia disambut dengan pujian, namun di akhirat justru datang dalam keadaan terhina? Bukan karena kurangnya ibadah ritual, tetapi karena kezalimannya terhadap orang-orang yang dipimpinnya. Ada yang menunda hak rakyat, menutup telinga dari keluhan, mempermainkan hukum, atau memanfaatkan jabatan untuk memperkaya diri dan kelompoknya.

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...

Dalam pandangan Islam, pemimpin yang adil akan mendapatkan kedudukan yang sangat mulia di sisi Allah. Disebutkan dalam hadits bahwa salah satu golongan yang mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat adalah pemimpin yang adil. Ini menunjukkan betapa berat sekaligus mulianya amanah tersebut. Adil bukan hanya dalam hukum, tetapi juga dalam sikap, keputusan, pembagian waktu, dan perhatian.

Rasulullah ﷺ bersabda tentang keutamaan pemimpin yang adil:

إِنَّ الْمُقْسِطِينَ عِنْدَ اللَّهِ عَلَىٰ مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang adil kelak di sisi Allah berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya.” (HR. Muslim).

Keadilan dalam kepemimpinan adalah ibadah besar, bahkan termasuk amalan yang paling tinggi pahalanya.

Namun sebaliknya, pemimpin yang zalim berada di ambang ancaman yang mengerikan. Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa pemimpin yang menipu rakyatnya, yang tidak menasihati dan tidak menginginkan kebaikan bagi mereka, diharamkan dari bau surga. Wal‘iyādzu billāh.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللَّهُ رَعِيَّةً، يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ، إِلَّا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ

Artinya: “Tidaklah seorang hamba yang Allah beri amanah memimpin rakyat, lalu ia meninggal dalam keadaan menipu rakyatnya, kecuali Allah haramkan baginya surga.” (HR. al-Bukhari & Muslim).

Hadits ini, jamaah sekalian, sangat mengguncang hati. Bukan sekadar ancaman azab, tetapi ancaman diharamkan dari surga bagi pemimpin yang berkhianat.

Maka tidak mengherankan, ketika Umar bin al-Khatthab radhiyallahu ‘anhu menjadi khalifah, beliau memikul jabatan itu dengan penuh rasa takut pada Allah. Sehingga beliau pernah mengatakan:

وَاللَّهِ لَوْ عَثَرَتْ بَغْلَةٌ فِي الْعِرَاقِ لَخِفْتُ أَنْ يَسْأَلَنِيَ اللَّهُ عَنْهَا: لِمَ لَمْ تُسَوِّ لَهَا الطَّرِيقَ؟

Artinya: “Demi Allah, seandainya seekor keledai terjatuh di Irak, aku khawatir Allah akan menanyaiku: mengapa engkau tidak meratakan jalan untuknya?”

Ini bukan ucapan seorang Nabi, tetapi seorang khalifah yang sangat takut akan hisab Allah.

Karena itu, Hasan Al-Bashri rahimahullāh berkata:

إِنَّ الْوَالِيَ الْعَادِلَ يُصْلِحُ اللَّهُ بِهِ الْبِلَادَ وَيُؤْمِنُ بِهِ الْعِبَادَ

“Sesungguhnya dengan pemimpin yang adil, Allah memperbaiki negeri dan memberi rasa aman kepada para hamba.”

Namun beliau juga berkata dengan nada peringatan:

إِنَّ شَرَّ الرِّعَاءِ الْحُطَمَةُ

“Seburuk-buruk pemimpin adalah yang menghancurkan (rakyatnya).”

Itulah para pemimpin yang keras, zalim, dan tidak peduli dengan penderitaan orang-orang yang dipimpinnya.

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...

Kepemimpinan tidak hanya milik presiden, gubernur, atau pejabat tinggi. Setiap kita adalah pemimpin sesuai kadar dan lingkupnya. Ketua RT, kepala sekolah, pimpinan perusahaan, bahkan pemimpin dalam keluarga—semuanya akan berdiri sendiri di hadapan Allah, tanpa pengawal, tanpa jabatan, tanpa gelar.

Oleh karena itu, pemimpin yang beriman akan selalu takut jika keputusannya melukai hati orang yang lemah. Ia gelisah bila amanah tidak tertunaikan. Ia lebih memilih sederhana dalam hidup, namun tenang di akhirat, daripada mewah di dunia tetapi menanggung hisab yang panjang.

Marilah kita bertanya pada diri kita masing-masing:

Apakah kita telah adil terhadap orang-orang yang berada di bawah tanggung jawab kita?

Apakah kita menggunakan kekuasaan untuk melayani atau untuk dilayani?

Apakah keputusan kita mendekatkan manusia kepada keadilan atau justru kepada kezaliman?

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...

Setiap kita adalah pemimpin: di rumah, di pekerjaan, di masyarakat. Setiap keputusan kita, setiap kelalaian kita, akan ditanya oleh Allah. Jabatan bukanlah kebanggaan di akhirat, tetapi beban hisab.

Betapa banyak orang di dunia dipuji karena jabatannya, namun di akhirat menyesal karena amanahnya. Dan betapa banyak orang di dunia hidup sederhana, tetapi di akhirat dimuliakan karena keadilannya.

Kesadaran akan akhirat adalah rem terkuat bagi seorang pemimpin. Ketika iman melemah dan akhirat dilupakan, maka kekuasaan berubah menjadi alat penindasan. Namun ketika pemimpin selalu ingat kubur, hisab, dan hari pembalasan, maka kekuasaan akan menjadi sarana ibadah dan ladang pahala.

Jabatan bukan jaminan kemuliaan, justru bisa menjadi sebab kebinasaan jika tidak disertai iman, keadilan, dan rasa takut kepada Allah. Setiap keputusan akan dicatat, setiap kelalaian akan dimintai jawaban.

Oleh karena itu, marilah kita memohon kepada Allah agar diberikan pemimpin-pemimpin yang takut kepada-Nya, yang lembut kepada rakyat, yang adil dalam keputusan, dan yang menjadikan jabatan sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ.

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لله عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِه، وَأَشهَدُ أَن لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِه، وأَشهدُ أنَّ نَبِيَّنَا مُحمَّدًا عَبدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلى رِضْوَانِه.

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah.

Sekali lagi saya wasiatkan kepada diri sendiri dan kepada jamaah sekalian untuk bertakwa kepada Allah. Takwa adalah pengawas batin yang paling kuat bagi seorang pemimpin.

Sekali lagi, kepemimpinan dalam Islam adalah amanah besar yang akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Pemimpin yang adil akan dimuliakan, sedangkan pemimpin yang zalim terancam azab yang pedih. Setiap kita, sesuai kapasitasnya, akan berdiri di hadapan Allah untuk menjawab amanah tersebut.

Jangan lupa dan jangan berhenti untuk meringankan beban saudara-saudara kita yang menjadi korban bencana di Sumatera dan di manapun. Kita sebagai bagian dari umat ini memiliki tanggung jawab berjamaah: membantu korban bencana — secara materi (donasi, bahan pokok, pakaian, obat-obatan), tenaga (relawan, distribusi bantuan), dan doa.

Rasulullah ﷺ mengajarkan:

وَاللَّهُ في عَوْنِ العَبْدِ ما كانَ العَبْدُ في عَوْنِ أَخِيهِ

“Allah akan menolong hamba selama ia menolong saudaranya.” (HR. Muslim)

Jangan lupakan juga Gaza dan Palestina. Jihad membebaskan bumi al-Quds dan Masjidil Aqsha masih terus berlanjut dan berlangsung di sana. Maka pastikan, kita selalu dan selalu menjadi bagian sekecil apapun itu dalam perjuangan jihad yang agung itu.

إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ

اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.


Download PDFnya di https://bit.ly/PemimpinJanganKhianat

Baca Juga