Buletin Jumat Wahdah: Pintu-Pintu Rezeki

Buletin
Abu Hasan
08 Nov 2019
Buletin Jumat Wahdah: Pintu-Pintu Rezeki

Oleh: Azwar Iskandar


Rezeki bagaikan hujan yang turun ke bumi. Hujan, terkadang turun di daerah pegunungan, tetapi tidak turun di padang sahara. Hujan, terkadang turun di daerah pedesaan, tetapi tidak turun di tengah kota. Juga, hujan bisa membawa rahmat, tetapi terkadang bisa mendatangkan laknat. Begitulah. Ia turun sesuai kehendak Rabb-Nya.

Walaupun pada hakikatnya, rezeki merupakan sesuatu yang telah ditakdirkan, akan tetapi seorang hamba diwajibkan untuk mencari sebab-sebab untuk mendapatkannya, tidak berpangku tangan untuk menunggunya. Islam mengajarkan pemeluknya untuk selalu bertawakal. Ya, tawakal dalam makna yang sesungguhnya yaitu mengambil upaya (berusaha) untuk mendapatkan sesuatu melalui sebab-sebabnya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, (artinya) “Jika saja kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Allah akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberikan rezeki kepada seekor burung yang di pagi hari ia keluar dari sarangnya dalam keadaan perut kosong kelaparan dan pulang dengan perut yang penuh kekenyangan.” (HR. Ahmad, Nasai, Tirmidzi. Imam Tirmidzi mengatakan hadits ini hadits hasan shahih).

Olehnya, ada beberapa jalan yang diberikan oleh Allah untuk membuka pintu-pintu rezeki dari arah yang diridhai-Nya. Diantaranya:

Pertama, Memperbanyak Istighfar.

Allah berfirman, (artinya) “Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat. Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebunkebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12).

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata menjelaskan ayat di atas, “Jika kalian telah bertaubat pada Allah, telah beristigfar dan taat pada-Nya, Dia akan melimpahkan rezeki yang banyak kepada kalian, lalu menyirami kalian dengan keberkahan dari langit, menumbuhkan keberkahan dari tanah, menghidupkan sawah ladang, lalu memberikanmu harta dan anak, lalu Dia akan memberikan kepada kalian surga yang memiliki beraneka ragam buah di dalamnya.” (Tafsir Ibnu Katsir, Juz 8, hal: 233).

Kedua, Memperbanyak Doa.

Hendaknya setiap usaha yang dilakukan oleh setiap hamba dibarengi dengan doa. Ini menunjukkan kelemahannya di hadapan Allah. Allah sangat murka terhadap orangorang yang enggan meminta kepada-Nya. Bahkan Dia mengkategorikan orang-orang seperti itu dengan orang yang sombong. Ayat-ayat atau pun hadits yang menyebutkan anjuran untuk berdoa sangatlah banyak.

Ketiga, Bertakwa Kepada Allah.

Jika kesusahan hidup melanda diri kita, maka hal yang pertama harus kita lakukan adalah mengintropeksi diri sejauh mana hubungan kita dengan Allah. Sejauh mana ketakwaan kita terhadap Allah. Allah berfirman (artinya), “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3).

Keempat, Menyambung Tali Persaudaraan (Silaturahmi).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, (artinya) “Barangsiapa yang ingin Allah lapangkan rezekinya atau diakhirkan kematiannya maka hendaknya ia menyambung silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kelima, Infak Fi Sabilillah.

Allah berfirman, (artinya) "Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya." (QS. Saba’ : 39). Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Yaitu apapun yang kau infakkan di dalam hal yang diperintahkan kepadamu atau yang diperbolehkan, maka Dia (Allah) akan memberikan ganti kepadamu di dunia dan memberikan pahala dan balasan di akhirat kelak.”

Dalam sebuah hadits qudsi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah berfirman, (artinya) "Wahai Anak Adam, berinfaklah maka Aku akan berinfak kepadamu." (HR. Muslim).

Keenam, Menikah.

Allah berfirman, (artinya) “Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nuur: 32).

Di antara tafsiran Surat An-Nur ayat 32 di atas adalah bahwa jika kalian itu miskin maka Allah yang akan mencukupi rezeki kalian. Boleh jadi Allah mencukupinya dengan memberi sifat qana’ah (selalu merasa cukup) dan boleh jadi pula Allah mengumpulkan dua rezeki sekaligus (Lihat An-Nukat wal ‘Uyun). Jika miskin saja, Allah akan cukupi rezekinya, bagaimana lagi jika yang bujang sudah berkecukupan dan kaya? Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu berkata, “Carilah kaya (hidup berkecukupan) dengan menikah”.

Kelima, Menafkahi Penuntut Ilmu Syar’i.

Dalam hadits riwayat Tirmidzi dan Hakim dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu bahwasanya ia berkata, “Dahulu ada dua orang saudara pada masa Rasulullah Salah seorang darinya mendatangi Nabi dan (saudaranya) yang lain bekerja. Lalu saudaranya yang bekerja itu mengadu kepada Nabi. Kesibukan saudaranya dalam menuntut ilmu agama, membiarkannya sendirian mencari penghidupan (bekerja). Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun bersabda, (artinya) “Mudah-mudahan engkau diberi rezeki dengan sebab dia."

Dalam hadits yang mulia ini, Nabi menjelaskan kepada orang yang mengadu kepadanya bahwa ia tidak semestinya mengungkit-ungkit nafkahnya kepada saudaranya, dengan anggapan bahwa rezeki itu datang karena dia bekerja. Padahal ia tidak tahu bahwasanya Allah membukakan pintu rezeki untuknya karena sebab nafkah yang ia berikan kepada suadaranya yang menuntut ilmu agama secara sepenuhnya.

Dan masih banyak lagi pintu-pintu rezeki yang lain, seperti hijrah, jihad, bersyukur, istiqamah, serta haji dan umrah, yang tidak dapat di sampaikan secara lebih rinci dalam lembar yang terbatas ini. Semoga Allah memberikan taufik dan bimbingan-Nya kepada kita semua untuk mencari dan membuka pintu-pintunya.

Amin.