BEKAL UTAMA MENGHADAPI KETIDAKPASTIAN HIDUP

Naskah Khutbah
Asdar
09 Jan 2026
BEKAL UTAMA MENGHADAPI KETIDAKPASTIAN HIDUP

JUMAT, 19 Rajab 1447 H / 09 Januari 2026 M
 Oleh Rachmat Badani, Lc., M.A.

Dep. Dakwah DPD Wahdah Islamiyah Makassar

KHUTBAH PERTAMA

 

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ..

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار

أَيُّهَا النَّاسُ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...

Hadirin sekalian, marilah kita senantiasa bersyukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah memberikan kita nikmat iman, kesehatan, dan kesempatan untuk kembali bertemu dalam ibadah yang mulia ini. Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan sebenar-benar takwa, yaitu melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Semoga dengan ketakwaan, kita termasuk dalam golongan orang-orang yang beruntung di dunia dan akhirat. Salawat dan salam semoga senantiasa terhaturkan kepada baginda Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan para sahabatnya serta kepada setiap pengikutnya yang konsisten menjalankan syariatnya.

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...

Jika kita jujur melihat realitas kehidupan hari ini, kita akan mendapati bahwa ketidakpastian menjadi warna utama kehidupan manusia. Harga kebutuhan pokok yang tidak stabil, kondisi ekonomi yang mudah berubah, lapangan pekerjaan yang semakin sempit, serta berbagai persoalan keluarga, sosial bahkan musibah yang datang silih berganti tanpa bisa diprediksi. Tidak sedikit manusia yang hari ini merasa aman, esok hari diuji dengan kesulitan. Hari ini sehat, esok hari diuji dengan sakit. Hari ini lapang, esok hari diuji dengan kesempitan.

Bahkan, kemajuan teknologi dan informasi yang seharusnya memberi kemudahan, pada kenyataannya justru sering menambah kecemasan. Manusia semakin banyak tahu, tetapi justru semakin gelisah. Semakin banyak pilihan, tetapi semakin bingung menentukan arah hidup. Inilah realitas zaman yang sedang kita hadapi bersama.

Dalam kondisi seperti ini, muncul pertanyaan mendasar: bekal apa yang paling kokoh untuk menghadapi kehidupan yang tidak menentu ini? Apakah harta, jabatan, relasi, atau kecerdasan semata? Jawaban Islam sangat jelas dan tegas: bekal terbaik seorang hamba adalah taqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Allah berfirman:

وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰى

Terjemahnya: Berbekallah karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. (QS. Al-Baqarah: 197).

Oleh karena itu, pada kesempatan khutbah Jum’at ini, marilah kita bersama-sama merenungkan kembali hakikat taqwa, bukan sekadar sebagai slogan di mimbar, tetapi sebagai pegangan hidup nyata yang menenangkan hati, menuntun langkah, dan menjamin pertolongan Allah di tengah berbagai ketidakpastian hidup.

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...

Islam tidak menutup mata terhadap kenyataan bahwa hidup di dunia ini tidak pernah benar-benar stabil. Sejak awal, al-Qur’an telah mengingatkan bahwa kehidupan dunia adalah tempat ujian, bukan tempat kepastian dan kenyamanan yang abadi. Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ

Terjemahnya: Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang sabar. (QS. Al-Baqarah: 155).

Ayat ini menegaskan bahwa ketidakpastian hidup bukanlah tanda kebencian Allah, melainkan sunnatullah dalam membentuk kualitas keimanan hamba-Nya. Setiap manusia pasti diuji, tetapi yang membedakan hanyalah bagaimana cara ia menghadapi ujian tersebut. Di sinilah taqwa menempati posisi yang sangat strategis. Taqwa bukan hanya rasa takut kepada Allah, tetapi kesadaran penuh untuk menjalani hidup sesuai dengan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya dalam segala kondisi baik saat lapang maupun sempit, saat mudah maupun sulit.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menanamkan prinsip taqwa ini sejak dini kepada umatnya. Dalam sebuah hadis yang sangat masyhur, beliau bersabda:

اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

Terjemahnya: Bertaqwalah kepada Allah di mana pun engkau berada, iringilah keburukan dengan kebaikan niscaya ia akan menghapusnya, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik. (HR. Tirmidzi).

Hadis ini menunjukkan bahwa taqwa tidak dibatasi oleh tempat, waktu, atau situasi. Taqwa harus hadir di kantor dan pasar, di rumah dan di jalan, dalam keputusan-keputusan besar maupun perkara-perkara kecil. Justru di saat kondisi tidak menentu, taqwa itulah yang menjadi seharusnya kompas moral dan spiritual seorang mukmin.

Sayangnya, tidak sedikit manusia yang ketika menghadapi ketidakpastian hidup justru menjauh dari taqwa. Ketika diuji dengan kesempitan ekonomi, ia tergoda mengambil yang haram. Ketika diuji dengan kekuasaan dan jabatan, ia tergelincir pada kezaliman. Ketika diuji dengan kecemasan masa depan, ia lupa bahwa rezeki, ajal, dan takdir berada di tangan Allah, bukan di tangan manusia. Padahal Allah Subhanahu wa Ta‘ala telah mengingatkan:

وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ ۗاِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

Terjemahnya: Barang siapa bertawakal kepada Allah, maka cukuplah Allah baginya. Sesungguhnya Allahlah yang menuntaskan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah membuat ketentuan bagi setiap sesuatu. (QS. At-Thalaq: 3).

Tawakal yang benar tidak mungkin lahir kecuali dari taqwa yang kokoh. Semakin kuat taqwa seseorang, semakin tenang hatinya menghadapi masa depan. Bukan karena ia mengetahui apa yang akan terjadi, tetapi karena ia yakin siapa yang mengatur segala sesuatu. Oleh sebab itu, jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah, sebelum kita sibuk memikirkan cara mengamankan dunia, memperkuat rencana hidup, dan menyiapkan berbagai strategi menghadapi masa depan, marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing: sudahkah taqwa benar-benar menjadi bekal utama dalam hidup kita? Inilah yang akan kita renungkan lebih jauh pada khutbah ini, agar taqwa tidak berhenti sebagai nasihat yang sering kita dengar, tetapi menjadi kekuatan nyata yang membimbing hidup kita di tengah ketidakpastian zaman.

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...

Inti ajaran Islam dalam menghadapi kehidupan yang penuh ketidakpastian ini bermuara pada satu prinsip besar, yaitu taqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Sebab, taqwa bukan hanya bekal menuju akhirat, tetapi juga kunci keselamatan dan ketenangan hidup di dunia. Mengapa taqwa adalah bekal utama dari ketidakpastian hidup manusia?

Pertama, taqwa melahirkan ketenangan hati di tengah kegelisahan hidup. Orang yang bertaqwa memahami bahwa segala sesuatu berada dalam pengaturan Allah. Ia yakin bahwa apa yang menimpanya tidak pernah lepas dari hikmah dan keadilan-Nya. Karena itu, hatinya tidak mudah panik ketika diuji, dan tidak sombong ketika diberi nikmat.

Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman:

الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ

Terjemahnya: Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang. (QS. Ar-Ra‘d: 28).

Ketenangan ini bukan lahir dari kepastian dunia, melainkan dari keyakinan yang kokoh kepada Rabb yang Maha Mengatur segala urusan. Ia hadir karena seorang hamba mengenal Tuhannya, mempercayai takdir-Nya, dan yakin bahwa tidak ada satu pun yang terjadi tanpa ilmu dan kehendak Allah. Inilah ketenangan sejati yang tidak bisa dibeli dengan harta, tidak diberikan oleh jabatan, dan tidak dihasilkan oleh popularitas. Sebab, harta bisa habis, jabatan bisa hilang, dan popularitas bisa pudar, sementara ketenangan yang lahir dari iman dan taqwa akan tetap menetap di hati orang-orang yang bergantung penuh kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala.

Kedua, taqwa menjadi sebab datangnya solusi ketika jalan terasa buntu. Banyak manusia merasa hidupnya mentok, usahanya sempit, dan masa depannya gelap. Namun Allah menjanjikan bahwa taqwa akan membuka jalan yang tidak pernah disangka-sangka. Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman:

وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Terjemahnya: Barang siapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar, dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga. (QS. At-Thalaq: 2-3).

Perhatikan, jamaah sekalian. Dalam ayat tersebut Allah tidak mengatakan “akan menghilangkan masalah”, tetapi “akan memberikan jalan keluar”. Artinya, masalah bisa saja tetap ada, dan sebesar apapun masalah itu Allah akan memberi kemampuan, arah, dan solusi untuk menghadapinya. Inilah kekuatan taqwa dalam kehidupan nyata.

Ketiga, taqwa menjaga manusia dari keputusan keliru saat berada dalam tekanan. Dalam kondisi sulit, banyak orang tergelincir: yang halal ditinggalkan, yang haram diambil; kejujuran dikorbankan demi keuntungan sesaat; prinsip agama ditawar demi kenyamanan dunia. Padahal Allah telah memperingatkan:

وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ عَلٰٓى اَلَّا تَعْدِلُوْا ۗاِعْدِلُوْاۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰى

Terjemahnya: Dan janganlah kebencian suatu kaum mendorong kalian untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. (QS. Al-Ma’idah: 8).

Ayat ini menunjukkan bahwa taqwa berfungsi sebagai rem moral dalam kehidupan seorang mukmin. Taqwa menahan seseorang agar tetap lurus, meskipun situasi menekan, peluang untuk menyimpang terbuka lebar, dan godaan terasa sangat kuat. Ketika nafsu mendorong untuk mengambil jalan pintas, taqwa mengingatkan akan batas-batas Allah. Ketika keuntungan tampak di depan mata, taqwa menghadirkan kesadaran bahwa Allah Maha Melihat. Dengan taqwa, seorang hamba memilih yang benar meskipun berat, dan meninggalkan yang salah meskipun tampak menguntungkan, karena ia lebih mengutamakan keridhaan Allah daripada kepuasan sesaat.

Keempat, taqwa mendatangkan keberkahan, meskipun secara kasat mata terlihat sederhana. Tidak semua orang bertaqwa hidup bergelimang harta, tetapi hidupnya penuh keberkahan. Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman:

وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ

Terjemahnya: Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, niscaya Kami akan bukakan bagi mereka keberkahan dari langit dan bumi. (QS. Al-A‘raf: 96).

Keberkahan inilah yang sering hilang dari kehidupan manusia modern hari ini. Kita menyaksikan banyak orang yang hartanya melimpah, tetapi hidupnya terasa sempit dan tidak pernah cukup. Fasilitas semakin lengkap, teknologi semakin canggih, namun hati justru semakin gelisah dan mudah resah. Pencapaian demi pencapaian diraih, jabatan demi jabatan diduduki, tetapi batin tetap merasa kosong dan lelah. Semua itu terjadi karena kehidupan dibangun di atas ukuran materi semata, sementara taqwa tidak lagi dijadikan fondasi hidup. Ketika taqwa ditinggalkan, harta tidak lagi menenangkan, keberhasilan tidak lagi membahagiakan, dan kemajuan justru melahirkan kegelisahan. Sebaliknya, ketika taqwa hadir dalam kehidupan, sedikit terasa cukup, sulit terasa ringan, dan ujian terasa bermakna karena dijalani bersama keyakinan kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala.

Maka jelaslah bagi kita, jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah, bahwa taqwa bukan sekadar nasihat rutin dalam khutbah, tetapi kebutuhan mendesak umat hari ini. Di tengah hidup yang tidak pasti, dunia yang berubah cepat, dan godaan yang semakin terbuka, tidak ada bekal yang lebih aman dan lebih kuat selain taqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ.

 

 

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لله عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِه، وَأَشهَدُ أَن لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِه، وأَشهدُ أنَّ نَبِيَّنَا مُحمَّدًا عَبدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلى رِضْوَانِه.

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah.

Marilah kita tingkatkan ketaqwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala dengan sebenar-benar taqwa. Taqwa bukan hanya diucapkan, tetapi dibuktikan dalam sikap dan pilihan hidup, terutama ketika kita berada dalam situasi yang tidak pasti. Di antara aplikasi praktis taqwa yang paling utama dalam menghadapi ketidakpastian hidup adalah:

Pertama, menjaga kehalalan dalam setiap ikhtiar. Ketika kondisi ekonomi sulit, jangan sampai kita mencari solusi dengan cara yang diharamkan. Karena Allah menjanjikan rezeki yang cukup bagi orang yang bertaqwa.

Kedua, memperbanyak tawakal setelah ikhtiar, bukan menggantungkan harapan sepenuhnya kepada manusia atau perhitungan semata. Tawakal bukan berarti pasrah tanpa usaha, tetapi menyerahkan hasil sepenuhnya kepada Allah setelah berusaha secara maksimal.

Ketiga, menjaga shalat dan doa di tengah kesibukan dan kecemasan. Karena shalat adalah penguat hati dan penopang iman ketika pikiran terasa sempit dan masa depan terasa gelap. Shalat adalah tali keselamatan terkuat seorang hamba dengan Rabbnya, maka jangan sampai tali ini putus dalam hidup kita.

Keempat, bersikap jujur dan adil dalam setiap keadaan, meskipun kejujuran terasa berat dan keadilan tampak merugikan. Ketahuilah, tidak ada ketenangan hidup yang lahir dari kebohongan dan kezaliman. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa ke surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Inilah bentuk nyata taqwa yang menjadi solusi hidup di tengah ketidakpastian: menjaga yang halal, bertawakal, menegakkan shalat, dan memelihara kejujuran. Barang siapa menjadikan taqwa sebagai bekalnya, maka Allah akan mencukupkannya, menenangkannya, dan menolongnya dengan cara yang tidak pernah ia duga.

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah.

Pada akhir khutbah ini, izinkan kami untuk mengingatkan diri pribadi dan kepada para jamaah sekalian untuk memperbanyak dua buah ibadah kepada Allah pada hari jum’at. Pertama, mari memperbanyak doa kita kepada Allah, karena telah diriwayatkan dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa pada hari jumat terdapat satu waktu yang singkat, tidaklah seorang muslim memanjatkan doa kepada Allah pada waktu tersebut melainkan doanya pasti akan diijabah. Kedua, mari memperbanyak salawat dan salam kita kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana firman Allah.

إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ

اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.


Download PDFnya di https://bit.ly/BekalUtamaMenghadapiHidup

Baca Juga