Ada Rindu di Makkah

Hikmah dan Kisah
Super Admin
27 Oct 2019
Ada Rindu di Makkah

Menginjakkan kaki di kota suci, bukan hanya meninggalkan jejak bagaimana cuaca dan suasana itu terasa. Melanglang buana di penjuru Masjidil haram tak hanya meninggalkan jejak arsitektur masjid dan luasnya bangunan berbilang hektar. Menyusuri bukit-bukit pasir dan gunung batu di kota yang dicintai Allah tak hanya menyisakan kesan wah di hati.  

Di sana ada segunung rindu yang merekah. Di sana ada air mata haru yang tak tertahan. Di sana ada ketakjuban yang menguat. Di sana ada rasa cinta yang terus tumbuh.  

Menyaksikan sendiri saksi-saksi keteladanan yang pernah dilakoni oleh ayah para nabi, Ibrahim 'alaihissalam dan keluarganya, menguatkan rindu dan cinta kepadanya. Bagaimana Hajar dan bayinya ke kota ini, lembah yang gersang nan tandus, tak ada air dan pepohonan serta tak berpenghuni. Namun karena perintah Allah, Nabi Ibrahim tak ada kerisauan untuk tetap membawa keluarganya ke tanah ini. Di tanah inilah, Hajar dan Ismail memulai kehidupan. Tanah inilah yang menjadi saksi atas mustajabnya doa Nabi Ibrahim, "Ya Rabb kami! sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, wahai Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (Ibrâhîm/ 14: 37)

Berdiri dan tawaf di Ka'bah, sebagai ibadah yang dianjurkan untuk banyak dikerjakan di Masjidil

Haram, menguatkan ruh akan perjuangan dan pembuktian cinta mereka kepada Rabb-Nya. Sungguh keyakinan mereka akan cinta kasih Allah, bahwa Allah tak akan menyia-nyiakannya, bahwa setiap perintah-Nya tak ada yang sia-sia. Bahwa manusia adalah hamba, layaknya prajurit yang patuh kepada sang komandan. Maka bagaimana diri ini, sudah hilangkah keangkuhan diri pada-Nya. Sudah ikhlaskah tiap puing-puing perjuangan itu dilakukan, sebagai bukti cinta kepada Rabb, layaknya Ibrahim. Atau benih-benih kesombongan itu masih ada. Ataukah kemalasan itu masih mendera hingga entah kapan bisa bersimpuh sempurna kepada

Allah.  

Safa dan Marwah pun sama. Letih berjalan bolak-balik sejatinya akan menguatkan kerinduan kepada ibunda Hajar. Bagaimana ikhlasnya beliau, ditinggal oleh sang imam tercinta di lembah tandus itu, dengan perbekalan yang sedikit, dengan segeriba korma dan sedikit air. Safa dan Marwah menjadi saksi akan perjuangan seorang istri untuk taat kepada suami dan kepada Allah. "Kalau begitu, Allah tidak akan menyia-nyiakan kami.” katanya saat Nabi Ibrahim suaminya mengiyakan bahwa dibawanya mereka berdua ke baitullah adalah perintah ilahi. Safa Marwah menjadi saksi akan perjuangan ibu memenuhi kebutuhan diri dan bayinya yang tengah kehausan. Maka wajarlah perjalanan Safa-Marwah diabadikan dengan sa'i. Meski perjuangan ibunda Hajar tentu tak sepadan dengan perjuangan kaum muslimin hari ini. Tempat sa'i yang sekarang begitu dingin di setiap jengkalnya, dibandingkan teriknya kala ibunda Hajar mencari air. Maka, semoga setiap jiwa bisa mengambil hikmah dan pelajaran.  

Jamarat yang luas terbentang dan tinggi menjulang, dengan pengaturan sedemikian rupa agar jutaan kaum muslimin bisa melempar jumroh dengan aman, menjadi saksi bagaimana Nabi Ibrahim 'alaihissalam merealisasikan mimpinya yang tak lain adalah wahyu, agar anak yang dinanti bertahun-tahun disembelih. Lagi dan lagi teladan ketaatan seorang hamba beliau lakonkan. Tak ketinggalan kemuliaan hati dan kebeningan jiwa Nabi Ismail 'alaihissalam yang jua membuktikan cintanya, mendorong ayahnya agar melaksanakan mimpinya. Maka melempar jumroh, sejatinya tak hanya berlalu dengan perjalanan melelahkan, dengan hiburan tenda-tenda Mina yang berbaris, namun penuh dengan dzikir dan munajat kepada-Nya sebagaimana tujuan syariat manasik itu diperintahkan.  

Menyusuri tepian jalan, menengok kanan kiri kota Mekkah yang kini penuh dengan bangunan tinggi. Hotel berbintang tak berbilang. Sepanjang perjalanan di jantung kota Mekkah, hotel inilah yang menghiasi, sebagai fasilitas bagi para jamaah yang ingin memupuk keimanan disini. Semoga pemandangan ini tak membuat lupa, akan perjuangan Nabi, mengeluarkan kaumnya dari gelapnya kekafiran menuju terangnya mentauhidkan Allah. Di setiap sudut kota inilah para sahabat berjuang, mempertahankan keimanan, meski cercaan hingga siksaan menimpa. Oh kiranya dimanakah paman Utsman bin Affan pernah diselubungi tikar dari daun korma, lalu diasapi dari bawahnya. Oh kiranya dimanakah sang mujahidah pertama dalam Islam, Sumayyah menemui ajalnya setelah ditikam Abu Jahal. Mungkin saja di atas kaki berpijak inilah tempatnya.  

Cuaca Mekkah yang menyengat di musim panas, sungguh bisa membakar kulit bagi penduduk tropis. Jangankan siang, malam pun terasa menyengat. Jangankan pasir dan bebatuan, udara pun serasa membakar. Subhanallah teringat lagi perjuangan sahabat sejati Rasulullah. Sosok yang mendapatkan siksaan Quraisy hingga mereka menjemput ajalnya. Oh kiranya di padang pasir manakah Bilal bin Rabah disiksa dan tetap berucap "Ahad, Ahad" menguatkan diri beliau. Beliau, sang muadzin Rasulullah, dikalungi tali dilehernya, lalu dibawa berlari-lari di bukit Mekkah, hingga lehernya membilur karena jeratan tali. Beliau ditelentangkan di atas padang pasir Mekkah dan diletakkan batu besar di atas dadanya. Tak berbeda jauh dengan Khabbab bin Al-Aratt, yang dicengkeram rambutnya lalu ditarik dengan tarikan keras dan ditelentangkan di tanah hingga pasir menyengat, lalu diletakkan sebuah batu di atas tubuhnya, hingga tidak mampu berdiri lagi. Tak sanggup rasanya membayangkan, panas menyengat ini sudah menguji keimanan, bagaimana lagi dengan siksa demi siksa yang ditimpakan di atas pasir panas itu. Maka ujian cuaca sejatinya tak ada artinya.

Kota yang dicintai Allah ini penuh cerita pilu para Assabiqunal awwalun. Terpaan ujian ketakutan, pukulan dan siksaan bukan cerita di negeri dongeng, namun nyata memburu nyawa siapapun dari mereka yang tak ingin Islam ini tersebar. Maka sepantasnyalah melirik sanubari, bagaimana kekokohan hati dalam menghadang ujian keistiqomahan. Sudahkan ia setegar karang, atau ia masih mudah melempem karena ujian sebesar dzarrah.  

Diri memang sudah tak bisa bertemu dengan Rasul dan para sahabatnya. Terbentang waktu yang terlampau jauh. Kota Mekkah ini, yang menjadi pijakan pertama dakwah beliau. Dari sinilah Islam bermula. Dari sinilah agama yang dicintai ini berkiprah. Dan Makkah ini menjadi obat kerinduan bagi mereka yang mencintai Allah dan Rasul-Nya. Semoga kelak Allah mempertemukan jiwa kita dengan mereka yang terkasih, para nabi dan rasul-Nya.


========================
Oleh: Fitri Wahyuni
Editor: ustadz Muhammad Istiqamah, Lc.