UNTUKMU YANG BERGELAR AKTIVIS DAKWAH

Muhasabah
Abu Hasan
10 Jan 2020
UNTUKMU YANG BERGELAR AKTIVIS DAKWAH

Oleh: Irna Nurafni, S.H.

Editor: Ustaz Muhammad Istiqomah, Lc.

Jalan dakwah adalah jalan para nabi dan rasul pilihan Allah. Jalan yang penuh rintangan, melelahkan, dan akan menuntut banyak hal dari kita. Waktu, tenaga, pikiran, bahkan harta kita. Jalan dakwah ini adalah salah satu rute yang tidak mampu dilalui oleh semua orang. Bahkan, orang yang sudah berada di atas jalan ini pun keluar dan memilih rute lain.

Jalan dakwah yang di tempuh oleh para nabi dan rasul Allah yang kemudian dilanjutkan oleh generasi sahabat, tabi’in, tabiut tabi’in, hingga generasi sekarang ini akan selalu kita temui berbagai macam hambatan dan cobaan di sepanjang jalan. Dengan berbagai macam hambatan dan cobaan itulah, banyak orang yang tak mampu bersabar hingga di penghujung jalan.

Hambatan dan cobaan yang kita rasakan di jalan dakwah sekarang ini, tidak sebanding dengan hambatan dan cobaan yang dirasakan dan dilalui oleh para nabi dan rasul, serta generasi-generasi setelahnya. Berbagai macam hinaan, cacian, dilontarkan ke mereka para penggerak dakwah yang ingin menegakkan kalimat Allah, namun mereka tidak mudah goyah dan menyerah, apalagi memilih rute jalan yang lain. Bagaimana dengan mereka yang yang di kejar, di cari-cari untuk dibunuh, di caci dan dihina oleh kaumnya sendiri, dilempari batu, namun mereka tidak goyah dan tidak gentar sama sekali? tapi justru semua itu membuat mereka semakin yakin dan percaya, bahwa kebenaran akan mengalahkan kebathilan, mereka semakin yakin bahwa kemenangan sudah diambang pintu.

Bagaimana dengan kondisi kita hari ini? Sudah berapa banyak cacian dan hinaan yang telah kita dengar dan rasakan? Ujian dan cobaan apa yang telah mereka rasakan dahulu, dan kita juga merasakannya? Apakah karena sedikitnya orang yang mendengarkan apa yang kita sampaikan membuat kita menyerah? Bagaimana dengan Nabi Nuh yang telah berdakwah selama 950 tahun, namun yang mendengarkan dakwahnya bisa di hitung jari. Bagaimana dengan Nabi Isa yang yang dicari-cari kaumnya untuk dibunuh? Bagaimana dengan Nabi Ibrahim yang di bakar hidup-hidup? Sudah sampaikah ujian dan cobaan yang kita rasakan sekarang ini di tingkat itu? Lalu bagaimana dengan Rasullullah Muhammad bin Abdullah yang dihina, dicaci, dilempari batu oleh penduduk Thaif, di katakan gila, dukun, dan tukang sihir kepadanya? Apakah semua itu telah kita dapatkan dan rasakan? Ujian demi ujian, tantangan demi tantangan yang kita temui dan rasakan sekarang ini belum sebanding dengan apa yang mereka rasakan. Kondisi kita sekarang ini hanyalah pandai mengeluh, risau, bahkan memilih mundur dan keluar dari jalan dakwah ini dan memilih rute yang lain.

Wahai, untukmu sang aktivis dakwah yang gundah gulana di jalan dakwah ini, apa yang engkau risaukan? Sedangkan engkau telah berada di jalan yang benar. Apa yang engkau takutkan? Sedangkan Allah akan selalu bersamamu. Apakah engkau lelah? Bukankah ini adalah salah satu kewajiban kita? Bukankah mencegah pada kemungkaran dan mengajak pada kebaikan, adalah hal yang di lakukan oleh para nabi dan rasul, serta generasi-generasi sebelum kita sekarang ini?

 “Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan dan berkata “sungguh aku termasuk orang-orang muslim” (QS. Fushshilat:33)

Lalu apa masalahnya? Sehingga engkau masih mengeluh? Ketika semuanya karena Allah, maka kerisauan, ketakutan, lelah, dan capek itu tak akan mampu menggoyahkan langkahmu.

Allah itu Maha Adil, Maha Melihat, sekecil apapun kebaikan yang engkau lakukan, itu akan di balas Allah, karena Allah sebaik-baik pemberi balasan. 

“Segala yang baik yang kamu kerjakan Allah Mengetahuinya.” (Q.S. al-Baqarah:197 )

“Sungguh, Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S al-Taubah:120)

Islam akan tetap jaya, ada atau tanpa adanya kita. Tapi apakah kita tidak ingin nama kita juga tercatat sebagai hamba Allah, sebagai khalifah Allah di muka bumi ini yang juga ikut berperan dan berusaha untuk menjayakan agama ini? tidak malukah ketika suatu hari nanti kita di tanya, apa yang telah kita persembahkan untuk Islam? Jihad dalam bentuk apa yang telah kita persembahkan? Harta, waktu, tenaga, atau jiwa? Q.S. Al-Hujurat:15  

“Sesungguhnya, orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan RasulNya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar” 

Wahai, untukmu yang bergelar ativis dakwah yang gundah gulana di jalan ini...

Sampai kapan hidup berleha-leha itu kita jadikan prinsip hidup? Sampai kapan kita pura-pura tuli dan buta dengan begitu banyak kemaksiatan yang terpampang nyata di hadapan kita? Mau sampai kapan kita tidur nyenyak, sedangkan umat Islam semakin mengalami kemunduran dari segala arah?

Wahai, tahukah engkau. Jalan ini memang berat dan penuh dengan lika-liku. Maka dari itu, Allah memilihmu untuk melanjutkan perjuangan, untuk melanjutkan estafet dakwah. Mengapa engkau? Karena Allah tau engkau kuat, Allah tau engkau mampu, dan karena Allah juga tau pundak mana yang kuat mampu menanggung serta memikul amanah dakwah ini.

Ketika engkau mulai lelah, letih, capek, bacalah kembali kisah para generasi terdahulu dalam jalan dakwah ini yang terjal, namun tak menggyahkan mereka, bagaimana mereka melangkah, bersemangat. Dan lihatlah saudara teman seperjuanganmu yang tetap ceria dan bersemangat, walau sebenarnya mereka juga merasakan apa yang engkau rasakan, bahkan lebih dari apa yang engkau rasakan, namun mereka tau bahwa semua ini akan terbayarkan, sehingga rasa penat dan lelah itu, seakan tak pernah mereka temui.

Wahai, untukmu sang aktivis dakwah yang gundah gulana di jalan ini, bersabarlah. Bersabar bersabarlah. Banyak ummat yang sedang menunggu kehadiranmu di tengah-tengah mereka untuk engkau ajak dan tuntun ke arah yang lebih baik dan benar. Sudah cukup engkau menutup diri dan berada pada ruang baper dan mondar-mandir pada area gundah gulana. Karena Allah telah memilihmu.     

Salah seorang pernah berkata kepada gurunya “Aku lelah di jalan ini”. Sang guru pun kembali menasehati dan memotivasi, “Dakwah jalan yang panjang nan berliku, penuh dengan rintangan, kita butuh terminal-terminal untuk membaharui iman, dan terminal itu ada di sepanjang jalan, shalat, tilawah al-Qur’an, do’a dan munajat yang panjang”.