Sifat Tsiqah Kepada Allah

Aqidah
Super Admin
13 Mar 2019
Sifat Tsiqah Kepada Allah

Semakin jauh suatu zaman dari zaman para nabinya maka semakin menurun kualitas keimanan manusia secara umum pada zaman tersebut. Apatah lagi ketika manusia berada di penghujung zaman, maka ujian, fitnah, dan cobaan akan semakin besar. Oleh karenanya, kaum muslimin pada hari ini sangat membutuhkan sifat tsiqah kepada Allah Subhanahu wata'ala.

Apa itu tsiqah kepada Allah Subhanahu Wata'ala?

Tsiqah kepada Allah adalah meyakini segala sesuatu berada di dalam genggaman Allah Subhanahu Wata'ala.

Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wata'ala :


قُلْ إِنَّ الأَمْرَ كُلَّهُ لِلَّه

"Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya segala urusan itu di tangan Allah.”. [Q.S. Ali Imran : 154]


Dialah Dzat Yang Maha Mengatur segala sesuatu. Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wata'ala :


إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

"Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu." [Q.S.Ya-Sin 82]


Dan Dialah Allah yang memberikan kekuasaan bagi siapa saja yang dikehendaki, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wata'ala :


قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ اسْتَعِينُوا بِاللَّهِ وَاصْبِرُوا ۖ إِنَّ الْأَرْضَ لِلَّهِ يُورِثُهَا مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۖ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

"Musa berkata kepada kaumnya, “Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah. Sesungguhnya bumi (ini) milik Allah; diwariskan-Nya kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan (yang baik) adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” [Q.S. Al-A'raf 128]


Maka hendaknya manusia tidak menyombongkan diri ketika mendapatkan amanah dan titipan kekuasaan di pundaknya karena pada hakikatnya itu adalah beban yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak.


Dan tsiqah kepada Allah, dengan meyakini segala perkara juga akan kembali kepada Allah, sebagai firman-Nya :


يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۗ وَإِلَى اللَّهِ تُرْجَعُ الْأُمُورُ

"Dia (Allah) mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka. Dan hanya kepada Allah dikembalikan segala urusan." [Q.S. Al-Hajj 76]


Tsiqah kepada Allah dengan meyakini, Dialah Allah yang memiliki bala tentara yang berada di langit dan juga di bumi, sebagaimana Firman Allah Subhanahu Wata'ala :


وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا

"Dan milik Allah bala tentara langit dan bumi. Dan Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana." [Q.S. Al-Fath 7]


Tsiqah kepada Allah, bahwa Dialah Dzat yang Mahaperkasa lagi kuat, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wata'ala :


اللَّهُ لَطِيفٌ بِعِبَادِهِ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ ۖ وَهُوَ الْقَوِيُّ الْعَزِيزُ

"Allah Mahalembut terhadap hamba-hamba-Nya; Dia memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan Dia Mahakuat, Mahaperkasa." [Q.S. Asy-Syura 19]


Tsiqah kepada Allah, karena Dialah Dzat yang Mahaperkasa untuk memaksa kepada semua makhluk :


قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ قُلِ اللَّهُ ۚ قُلْ أَفَاتَّخَذْتُمْ مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ لَا يَمْلِكُونَ لِأَنْفُسِهِمْ نَفْعًا وَلَا ضَرًّا ۚ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الْأَعْمَىٰ وَالْبَصِيرُ أَمْ هَلْ تَسْتَوِي الظُّلُمَاتُ وَالنُّورُ ۗ أَمْ جَعَلُوا لِلَّهِ شُرَكَاءَ خَلَقُوا كَخَلْقِهِ فَتَشَابَهَ الْخَلْقُ عَلَيْهِمْ ۚ قُلِ اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ

"Katakanlah (Muhammad), “Siapakah Tuhan langit dan bumi?” Katakanlah, “Allah.” Katakanlah, “Pantaskah kamu mengambil pelindung-pelindung selain Allah, padahal mereka tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak mudarat bagi dirinya sendiri?” Katakanlah, “Samakah orang yang buta dengan yang dapat melihat? Atau samakah yang gelap dengan yang terang? Apakah mereka menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?” Katakanlah, “Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia Tuhan Yang Maha Esa, Mahaperkasa.” [Q.S Ar-Ra'd 16]


Jika kita mengetahui bahwa hanya Allah-lah yang mampu untuk mengatur segala sesuatu, yang Maha Memiliki pasukan di langit dan di bumi, yang Mahamampu untuk menentukan takdir, kembali kepadanya segala urusan dan Dialah yang Mahamampu memberikan Rahmat dan juga azab. Masihkah kita ragu dengan Kemahakuasaan-Nya?

Oleh karenanya sifat tsiqah kepada Allah ini adalah seseuatu yang wajib bagi kita semua.  

Kita melihat nabi Musa 'Alaihissalam ketika Fir'aun dan bala tentaranya datang dan mengumpulkan seluruh tipu muslihatnya dan sifat kedengkiannya kepada dakwahnya nabi Musa maka Allah menjadikannya hina di hadapan manusia.

Bahkan saat itu para pengikut nabi Musa mengatakan :


فَلَمَّا تَرَاءَى الْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَابُ مُوسَىٰ إِنَّا لَمُدْرَكُونَ

"Maka ketika kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa, “Kita benar-benar akan tersusul.” [Q.S. Asy-Syu'ara 61]


قَالَ كَلَّا ۖ إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ

"Dia (Musa) menjawab, “Sekali-kali tidak akan (tersusul); sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” [Q.S. Asy-Syu'ara 62]


فَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ أَنِ اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْبَحْرَ ۖ فَانْفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيمِِ وَأَزْلَفْنَا ثَمَّ الْآخَرِينَ وَأَنْجَيْنَا مُوسَىٰ وَمَنْ مَعَهُ أَجْمَعِينَ

"Lalu Kami wahyukan kepada Musa, “Pukullah laut itu dengan tongkatmu.” Maka terbelahlah lautan itu, dan setiap belahan seperti gunung yang besar. Dan di sanalah Kami dekatkan golongan yang lain. Dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang bersamanya." [Q.S. Asy-Syu'ara 63-65]


Bahkan ketika Rasulullah dan para sahabatnya dikepung di perang Hudaibiyah, orang-orang yang beriman mengatakan, sebagaimana yang diabadikan oleh Allah dalam Alquran :


الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

"(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang ketika ada orang-orang mengatakan kepadanya, “Orang-orang (Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,” ternyata (ucapan) itu menambah (kuat) iman mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung.” [Q.S. Ali 'Imran 173]

Apa yang mereka dapatkan berikutnya, setelah mereka tsiqah kepada Rabb mereka, dan yakin dengan pertolongan Allah :


فَانْقَلَبُوا بِنِعْمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ لَمْ يَمْسَسْهُمْ سُوءٌ وَاتَّبَعُوا رِضْوَانَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَظِيمٍ

"Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak ditimpa suatu bencana dan mereka mengikuti keridhaan Allah. Allah mempunyai karunia yang besar." [Q.S. Ali 'Imran 174]

Keyakinan kaum muslimin tidak akan dimenangkan, Allah tidak akan menolong, Allah membiarkan kaum muslimin terhina, kalah selama-lamanya. Ini merupakan pemikiran yang berbahaya dan tidak selayaknya seorang muslim memiliki pemikiran yang seperti itu.

Allah Subhanahu Wata'ala berfirman :


مَنْ كَانَ يَظُنُّ أَنْ لَنْ يَنْصُرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ فَلْيَمْدُدْ بِسَبَبٍ إِلَى السَّمَاءِ ثُمَّ لْيَقْطَعْ فَلْيَنْظُرْ هَلْ يُذْهِبَنَّ كَيْدُهُ مَا يَغِيظُ

"Barangsiapa menyangka bahwa Allah tidak akan menolongnya (Muhammad) di dunia dan di akhirat, maka hendaklah dia merentangkan tali ke langit-langit, lalu menggantung (diri), kemudian pikirkanlah apakah tipu dayanya itu dapat melenyapkan apa yang menyakitkan hatinya." [Q.S. Al-Hajj 15]


Dan hendaknya kita tetap ber-husnudzan kepada Allah bahkan ini hal yang wajib dan tetap optimis dengan arah perjuangan menebar risalah Islam ke seluruh penjuru dunia.


Allah Subhanahu Wata'ala berfirman :


إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَادُ يَوْمَ لَا يَنْفَعُ الظَّالِمِينَ مَعْذِرَتُهُمْ ۖ وَلَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوءُ الدَّارِ

"Sesungguhnya Kami akan menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari tampilnya para saksi (hari Kiamat), (yaitu) hari ketika permintaan maaf tidak berguna bagi orang-orang zhalim dan mereka mendapat laknat dan tempat tinggal yang buruk." [Q.S. Ghafir 51-52]


_______

Yoshi Putra Pratama

(Mahasiswa UIM-KSA)