Pentingnya Tauhid Uluhiyah

Aqidah
Admin WIM
28 Oct 2018
Pentingnya Tauhid Uluhiyah

Tauhid merupakan rukun pertama dari rukun iman yaitu beriman kepada Allah Subhanahu wata'ala, asas dan pondasi agama, barometer seluruh amalan, baik amalan lahir maupun amalan batin, sarana penghubung antara hamba dengan Tuhannya, jalan keselamatan menuju keridhoaan-Nya, dan hati seorang hamba apabila telah mengetahui akan pentingnya sesuatu maka terdorong dan untuk mengetahui hakekat yang sebenarnya dan mengetahui apa yang menjadi lawannya. 

Pentingnya tauhid uluhiyyah dapat disimpulkan dalam beberapa point: 

Tujuan diciptakannya jin dan manusia

Allah Subhanahu wata’ala berfirman dalam Q.S.Adz-zariyaat/51:56 : 

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ  

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.

Ibadah yang dimaksud disini adalah mentauhidkan-Nya dan tidak menyekutukan-Nya. 


Tujuan diutusnya para nabi dan rasul. Allah berfirman dalam Q.S.Al-Nahl/16:36:

وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِى ڪُلِّ أُمَّةٍ۬ رَّسُولاً أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُواْ ٱلطَّـٰغُوتَ‌ۖ فَمِنۡهُم مَّنۡ هَدَى ٱللَّهُ وَمِنۡهُم مَّنۡ حَقَّتۡ عَلَيۡهِ ٱلضَّلَـٰلَةُ‌ۚ فَسِيرُواْ فِى ٱلۡأَرۡضِ فَٱنظُرُواْ كَيۡفَ كَانَ عَـٰقِبَةُ ٱلۡمُكَذِّبِينَ    

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut  itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya . Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan rasul-rasul 

 Tauhid merupakan dakwah para rasul, mereka tidak diutus kecuali untuk mentauhidkan Allah Subhanahu wata’ala.


Tauhid uluhiyyah merupakan asas diterimanya semua amal seorang hamba

Allah Subhanahu wata’ala  berfirman dalam Q.S.Al-An’am/6:88 : 

.. وَلَوۡ أَشۡرَكُواْ لَحَبِطَ عَنۡهُم مَّا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ  

"Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan”. 

Sekalipun seorang hamba shalat, puasa dan berjihad atau ibadah lainnya kalau tidak bertauhid kepada Allah ta’āla, maka semua amalnya tidak diterima. 


Tauhid uluhiyyah yang paling pertama ditanya di dalam kubur

Sebagaimana disebutkan dalam hadis Abu Dardā bahwa apabila seseorang telah dikubur maka didatangi oleh dua malaikat yang bertanya tentang “man robbuka, wa mā dīnuka,wa man nabiyyuka (siapa Tuhanmu, apa agamamu, dan siapa nabimu). Maksud dari pertanyaan kedua malaikat “man robbuka adalah “man ma’būdaka (siapa sembahanmu?) yang menanyakan tentang tauhid uluhiyah, karena manusia tidak ditanya tentang tauhid rububiyyah sebab iblis adalah makhluk yang paling kafir masih mengakui tauhid rububiyah. 


Isi al-Quran semuanya tentang tauhid 

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa isi al-Qur’an semuanya adalah tentang tauhid. Maksudnya karena isi Al-Qur’an menjelaskan hal-hal berikut: 

  1. Berita tentang Allah, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, perbuatan-Nya, dan perkataan-Nya. Ini adalah termasuk tauḥīdul ‘ilmi al-khabarī (termasuk di dalamnya tauhid rububiyyah dan asma’ wa shifat). 

  1. Seruan untuk beribadah hanya kepada Allah semata dan tidak mempersekutukan-Nya. Ini adalah tauḥīdul irādā al-ṭalabī (tauhid uluhiyyah). 

  1. Berisi perintah dan larangan serta keharusan untuk taat dan menjauhi larangan. Hal-hal tersebut merupakan huqūqu al-tauḥīd wa mukammilatuhu (hak-hak dan penyempurna tauhid). 

  1. Berita tentang kemuliaan orang yang bertauhid, tentang balasan kemuliaan di dunia dan balasan kemuliaan di akhirat. Ini termasuk jazā’u al-tauḥīd (balasan bagi ahli tauhid). 

  1. Berita tentang orang-orang musyrik, tentang balasan berupa siksa di dunia dan balasan azab di akhirat. Ini termasuk balasan bagi yang menyelisihi hukum tauhid. Dengan demikian, al-Qur’an seluruhnya berisi tentang tauhid, hak-haknya dan balasannya. Selain itu juga berisi tentang kebalikan dari tauhid yaitu syirik, tentang orang-orang musyrik, dan balasan bagi mereka. 
  1. Kewajiban pertama bagi setiap mukallaf dari sisi mempelajari, mengkaji, memahami, mengamalkan dan mendakwahkannya. 

    Tidak seperti yang dikatakan pelaku bid’ah yang mengatakan bahwa: kewajiban pertama adalah berfikir dan ragu. Dalilnya adalah apa yang dikatakan oleh Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam  kepada Muadż bin jabal, wa al-yakun awwalu mā taduhum ilaihi syahādatu lā ilāha illā allahu” yang artinya Hendaklah yang paling pertama engkau serukan adalah persaksian bahwa tiada ilah yang hak selain Allah 
  1. Sesungguhnya mengucapkan kalimat tauhid “lā ilāha illā allāh” adalah pintu pertama seseorang untuk masuk Islam. Seseorang tidak dikatakan masuk Islam kecuali dengan tauhid. Meskipun dia puasa atau menunaikan haji namun jika tidak mengucapkan kalimat ikhlas lā ilāha illā allāh maka dia tidak dapat ditetapkan iman dan islamnya, berdasarkan hadits Rasulullah Shalallahu’alaihi: umirtu an uqātila al-nāsa hattā yaqūlū lā ilāha illā allāhu, Saya diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mengatakan “lā ilāha illā allāhu.  

  1. Sesungguhnya tauhid merupakan asas diterimanya semua amal seorang hamba. Sekalipun seseorang melakukan shalat atau ibadah lainnya,namun jika tidak bertauhid kepada Allah, maka semua amalnya tidak diterima bagaikan debu yang beterbangan, Allah Subhanahu wata’ala  berfirman dalam Q.S.Azzumar/39:65.

    لَئِن أَشرَكتَ لَيَهبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الخَاسِرِينَ

             “Jika kamu mempersekutukan Allah, niscaya akan terhapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” 

Tidak diragukan bahwa syirik merupakan lawan tauhid dan tidak akan berkumpul selamanya. 

  1. Manusia membutuhkan tauhid di atas segala kebutuhan. Tuntutannya di atas segala tuntutan, karena tidak ada kehidupan, kenikmatan dan ketenangan hati kecuali dengan mengenal Rabbnya yang dia sembah dan menciptanya, mengenal nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya dan perbuatan-Nya. 

    Seorang yang bertauhid adalah orang yang hidup dengan kehidupan yang hakiki berbeda dengan orang musyrik. Karena itu Allah Subhanahu wata’ala mengumpamakan orang yang tidak bertauhid dengan mayat, Allah berfirman dalam Q.S. Al-an’am/6:122. 

أَوَمَن كَانَ مَيۡتً۬ا فَأَحۡيَيۡنَـٰهُ وَجَعَلۡنَا لَهُ ۥ نُورً۬ا يَمۡشِى بِهِۦ فِى ٱلنَّاسِ كَمَن مَّثَلُهُ ۥ فِى ٱلظُّلُمَـٰتِ لَيۡسَ بِخَارِجٍ۬ مِّنۡہَا‌ۚ كَذَٲلِكَ زُيِّنَ لِلۡكَـٰفِرِينَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ  

Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan 

Yang dimaksud dengan kehidupan disini adalah kehidupan hati dengan tauhid dan iman. 

  1. Tauhid sebagai ruh dan cahaya. 

    Sebagai pedoman bagi kehidupan hakiki karena tauhid menerangi jalan pengikutnya, mengeluarkan mereka dari kegelapan syirik kepada cahaya iman, Allah berfirman dalam  Q.S.Al-Mu’min/40:15.  

رَفِيعُ ٱلدَّرَجَـٰتِ ذُو ٱلۡعَرۡشِ يُلۡقِى ٱلرُّوحَ مِنۡ أَمۡرِهِۦ عَلَىٰ مَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦ لِيُنذِرَ يَوۡمَ ٱلتَّلَاقِ (١٥ 

"Dialah Yang Maha Tinggi derajat-Nya, Yang mempunyai ’Arsy, Yang mengutus Jibril dengan membawa perintah-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya, supaya dia memperingatkan manusia tentang hari pertemuan  hari kiamat".  


Allah berfirman dalam Q.S. Asy-syuura/42:52-53. 

وَكَذَٲلِكَ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ رُوحً۬ا مِّنۡ أَمۡرِنَا‌ۚ مَا كُنتَ تَدۡرِى مَا ٱلۡكِتَـٰبُ وَلَا ٱلۡإِيمَـٰنُ وَلَـٰكِن جَعَلۡنَـٰهُ نُورً۬ا نَّہۡدِى بِهِۦ مَن نَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِنَا‌ۚ وَإِنَّكَ لَتَہۡدِىٓ إِلَىٰ صِرَٲطٍ۬ مُّسۡتَقِيمٍ۬ .صِرَٲطِ ٱللَّهِ ٱلَّذِى لَهُ ۥ مَا فِى ٱلسَّمَـٰوَٲتِ  

وَمَا فِى ٱلۡأَرۡضِ‌ۗ أَلَآ إِلَى ٱللَّهِ تَصِيرُ ٱلۡأُمُورُ  

Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu [al-Qur’an] dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab [Al Qur’an] dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (52)[Yaitu] jalan Allah yang kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa kepada Allah-lah kembali semua urusan. (53).” 

Maka, tidak ada ruh kecuali apa yang dibawa oleh Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam  dan tidak ada cahaya kecuali dengan mencari penerang dibawah petunjuknya. 

  1. Tauhid adalah ibadah yang tidak dapat ditinggalkan oleh seorang hamba walau sekejap.

    Dibutuhkan pada siang dan malam, saat hidup dan kematian, bahkan tauhid harus selalu menyertainya dalam semua kondisi. Berbeda dengan ibadah yang lain seperti sholat, puasa dan lainnya yang harus dilaksanakan pada waktunya masing-masing, jika seorang hamba telah melaksanakannya, dia tidak dituntut lagi hingga datang waktu berikutnya. Hal tersebut ditunjukkan oleh firman Allah Subhanahu wata’ala  Q.S. Al-An’ām/6:162. 

(قُلۡ إِنَّ صَلَاتِى وَنُسُكِى وَمَحۡيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِينَ (١٦٢


Katakanlah: "Sesungguhnya shalat, ibadat, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, "

Maka kehidupan seluruhnya, malam maupun siang, saat safar maupun menetap, sehat atau sakit harus diarahkan kepada Allah semata. 

  1. Tauhid merupakan perkara yang harus dibawa seorang muslim di akhir kehidupannya di dunia ini. 

    Selamat bagi mereka yang mengakhiri hidupnya dengan kalimat tauhid dan ikhlas, karena hal tersebut mendatangkan pahala yang sangat besar dan akhir kehidupan yang baik. Abu Daud meriwayatkan dari Muadz ra dari Rasulullah saw beliau bersabda: 

مَنْ كَانَ آخٍرُ كَلَامِهِ مِنَ الدُّنْيا : لا إِلهَ الا اللهُ ، دَخَلَ الجنةَ " 

"Siapa yang akhir ucapannya di dunia : laa ilaaha illallah, dia masuk syurga 

Betapa banyak kaum muslimin yang tidak dapat  mengatakan laa ilaaha illallah ketika ajalnya tiba, padahal ketika sehat mereka dapat mengucapkannya. Hal tersebut mungkin karena kemaksiatannya atau masih ada unsur kesyirikan padanya. Adapun pemilik tauhid yang murni, maka Allah akan memudahkan mereka untuk mengucapkannya dan lunakkan lisannya ,serta teguhkan mereka dengan ucapan yang meneguhkan dalam kehidupan dunia dan akhirat. 

Maka wajib bagi setiap muslim untuk memohon kepada Rabb-Nya agar kehidupannya diakhiri dengan ucapan yang baik dan berkah ini, kalimat Tauhid agar dia mendapatkan kesuksesan dengan pahala yang besar. 


Sumber bacaan 

- Al-Madinah International University, Tauhid al-Rububiyyah wa al-Uluhiyyah GAQD 5143 disadur secara bebas hal 189-190 

- Tauhid ,urgensi dan manfaatnya  oleh syekh DR.Umar bin Su’ud al-‘Ied 


Penulis: Nuraeni Novira, S.Pd.I., M.Pd.I (Ummu Ibn) 

Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab (STIBA) Makassar