NESTAPA CINTA SEMU NAN PALSU

Naskah Khutbah
Asdar
15 Sep 2022
NESTAPA CINTA SEMU NAN PALSU

JUMAT, 19 Safar 1444 H / 16 September 2022 M

Oleh Muhammad Ode Wahyu, S.H., S.Pd.

Dep. Dakwah DPD Wahdah Islamiyah Makassar

KHUTBAH PERTAMA

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُ..

اللهم صلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ،  وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار

أيها الناس رحمكم الله

Jamaah Jumat yang dimuliakan oleh Allah

            Allah Azza wajalla menjadikan pada manusia rasa cinta untuk dapat hidup dan saling berkasih sayang. Ia merupakan anugrah dari Allah azza wajalla dan nikmat yang patut disyukuri, bukan untuk dikufuri. Jalan untuk menyukurinya adalah dengan mengikuti petunjuk Allah Azza wajalla dalam hal pengamalan cinta itu. Sebab, akhir dari tingkatan cinta adalah penyembahan. Dan bisa menjadi salah satu jalan yang akan berujung pada kekufuran.

Imam Ibnu Qayyim rahimahullah berkata:

وَخَاصِّيَّةُ التَّعَبُّدِ: الْحُبُّ مَعَ الْخُضُوعِ، وَالذُّلِّ لِلْمَحْبُوبِ، فَمَنْ أَحَبَّ مَحْبُوبًا وَخَضَعَ لَهُ فَقَدْ تَعَبَّدَ قَلْبَهُ لَهُ، بَلِ التَّعَبُّدُ آخِرُ مَرَاتِبِ الْحُبِّ، وَيُقَالُ لَهُ التَّتَيُّمُ أَيْضًا، فَإِنَّ أَوَّلَ مَرَاتِبِهِ الْعَلَاقَةُ، وَسُمِّيَتْ عَلَاقَةً لِتَعَلُّقِ الْمُحِبِّ بِالْمَحْبُوبِ.

Artinya : "Karakteristik dari suatu penyembahan adalah rasa cinta yang disertai adanya ketundukan serta penghinaan diri kepada sesuatu yang dicinta. Barangsiapa yang mencintai sesuatu lalu ia tunduk padanya, maka hatinya telah beribadah padanya. Sesungguhnya peribadatan merupakan tingkat terakhir dari rasa cinta. Ia disebut juga sebagai tatayyum. Tingkatan pertama dari rasa cinta itu adalah hubungan. Dinamakan sebagai hubungan karena adanya ketergantungan seseorang yang mencintai kepada yang dicintainya." (ad-Daau wa ad-Dawaau: 194)

Ketika hati seseorang selalu tergantung pada Allah, tunduk dan patuh padanya dengan penuh cinta, maka ia telah melalui jalan cinta yang benar. Namun, jika hati seseorang selalu tergantung pada makhluk, mencintainya dengan penuh ketundukan dan merendahkan diri padanya, sehingga ia berani menentang petunjuk dan syariat Allah, sungguh ia telah membuka jalan-jalan kebinasaan untuk dirinya di akhirat kelak.

Amat bahagilah seorang hamba, jika rasa cintanya berbalas kepada Allah Azza wajalla. Karena, jika Allah telah membalas cinta seorang hamba, maka Allah akan memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Sebagaimana dalam hadits Qudsi, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, Allah Azza wajalla berfirman:

وَلَئِنْ سَأَلَنِيْ لأُعطِيَنَّهُ، وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِيْ لأُعِيْذَنَّهُ

Artinya : "Sungguh, jika ia meminta kepadaku niscaya akan Aku berikan untuknya, dan jika ia meminta perlindungan kepadaKu, niscaya akan Aku lindungi dirinya." (HR. Bukhari)

Jamaah Jumat yang berbahagia.

Berbicara masalah cinta tidak selamanya penuh dengan keindahan. Hati yang tidak dipupuk oleh keimanan dan takwa pada Allah akan mengarahkan pemiliknya pada pelanggaran-pelanggaran syariat dalam perkara cinta dan berujung pada malapetaka.

Cinta antara lawan jenis misalnya. Syariat sebenarnya telah mengatur hubungan cinta antara seorang laki-laki dan perempuan. Syariat juga menutup celah-celah kerusakan sekuat-kuatnya yang bisa saja terjadi karena luapan rasa cinta yang tidak terkontrol.

Diantara syariat yang mengatur dan menjaga cinta untuk tetap berada pada jalur yang benar adalah syariat pernikahan, anjuran berpuasa, menundukkan padangan, larangan bersentuhan antara lelaki dan perempuan yang bukan mahram dan anjuran mengenakan hijab bagi wanita.

Tidak ada aturan dalam islam yang namanya "Pacaran"! Jelas ia adalah pelanggaran secara syar'i.

Ketika seseorang melanggar aturan-aturan dan syariat tersebut, maka justru musibah dan malapetaka jualah yang akan terjadi.

Pacaran, adalah salah satu contoh pelanggaran aturan-aturan syariat dalam hal cinta. Lihatlah, betapa banyak kerusakan yang terjadi akibat pacaran itu?

Bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahram, padahal Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

لَأنْ يُطعَنَ فِي رَأْسِ رَجُلٍ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيْدٍ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لَا تَحِلُّ لَهُ

Artinya : "Sesungguhnya ditusukan jarum dari besi pada kepala seseorang lebih baik baginya daripada ia bersentuhan dengan seorang wanita yang tidak halal baginya." (HR. Thabarani).

Tidak hanya bersentuhan, hal-hal yang lebih parah dari itupun dilakukan bahkan hingga terjadinya perzinahan tatkala seseorang menjalin hubungan atas nama “pacaran”. Pacaran adalah pintu kerusakan dan malapetaka, di dunia sebelum di akhirat.

Betapa banyak wanita-wanita yang hamil di luar nikah bermula karenanya. Betapa banyak wanita-wanita yang mengaborsi dan menggugurkan kandungannya karenanya. Betapa banyak nyawa-nyawa melayang yang bermula darinya, Betapa banyak kasus-kasus pernikahan dalam kondisi hamil diluar nikah?

Sungguh perbedaan pendapat mengenai sah atau tidaknya pernikahan dalam kondisi hamil harusnya sudah menjadi hukuman dan tekanan batin bagi pelakunya.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah.

Kasus yang baru-baru ini viral harusnya menjadikan kita sebagai pelajaran yang sangat berharga untuk kita. Kasus seorang wanita yang dimutilasi oleh pacarnya sendiri hanya karena wanita tersebut menolak permintaan kekasihnya untuk melakukan hubungan seksual.

Sungguh, peristiwa yang sangat memilukan sekaligus memalukan, menyayat hati, dan meletupkan emosi setiap orang yang mendengarnya. Betapa nyawa begitu mudah dihilangkan olehnya, padahal Islam sangat menjaga nyawa seorang manusia. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ

Artinya : "Sungguh hancurnya dunia ini lebih ringan di sisi Allah daripada terbununya seorang muslim." (HR. Bukhari)

Lalu alasan apalagi yang dibuat-buat untuk membenarkan perbuatan tercela dan nista itu?

Kepada setiap bapak, setiap lelaki dan kepada setiap mereka yang memiliki tanggung jawab untuk menjaga anak-anak perempuannya atau saudari-saudarinya, jangan biarkan mereka pergi dengan laki-laki yang bukan mahramnya, dengan alasan apapun itu.

Sungguh fitnah terbesar bagi seorang lelaki adalah Wanita. Maka jangan merasa aman membiarkan seorang wanita pergi dengan seorang lelaki yang bukan mahramnya, sekalipun ia adalah seorang ulama dan ahli ibadah. Karena setinggi apapun ilmu seorang lelaki, sekuat apapun ibadahnya, ia tetaplah seorang manusia yang lemah terhadap ujian wanita.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

ما تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أضَرَّ علَى الرِّجالِ مِنَ النِّساءِ

Artinya : “Aku tidak meninggalkan fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki selain daripada wanita." (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketika sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam ini terucap, ia tidak terucap di hadapan ahli ibadah atau para ulama saja, tapi di hadapan para sahabat-sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam yang telah terjamin keimanannya, yang paling dalam ilmunya dan paling baik hatinya.

Imam Ibnu al-Jauzi rahimahullah dalam kitab Talbis Iblisnya menyebutkan kisah seorang laki-laki ahli ibadah yang dititipkan padanya seorang wanita.  Ketiga saudaranya hendak pergi ke suatu tempat dan bingung hendak dititip kemana saudarinya itu. Maka mereka bersepakat untuk menitipkannya pada seorang laki-laki yang dikenal sebagai ahli ibadah. Mereka merasa sangat percaya padanya.  Namun nahas, kisah itu berakhir tragis. Wanita tersebut dibunuh setelah melakukan perzinahan dan hamil hingga melahirkan seorang anak. Pelakunya adalah sang ahli ibadah itu, dialah yang menghamilinya lalu membunuhnya agar perbuatannya tidak diketahui orang. Ahli ibadah itupun akhirnya diberitakan meninggal dalam keadaan kafir. (Talbis Iblis: 49-51)

Sungguh fitnah wanita bagi laki-laki sangatlah besar!

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah.

Jika seperti itu keadaaanya pada ahli ibadah, maka bagaimana dengan orang-orang yang ibadahnya pada Allah Azza wajalla masih dipertanyakan? Adakah mereka lebih mampu menjaga dirinya daripada sahabat Nabi, ahli ibadah dan ulama? Apakah orang-orang yang masih dipertanyakan ibadahnya lebih takut kepada Allah daripada mereka?

Sungguh aneh, sebagian orang tua hari ini justru merasa bangga jika anak perempuannya keluar bersama laki-laki yang bukan mahramnya. Sebagian mereka pula membiarkan anaknya keluar dengan pakaian minim yang mempertontonkan auratnya. Memfasilitasi anaknya dengan pakaian-pakaian yang tidak dibenarkan syariat atas nama kebebasan, modern, gaul dan berkemajuan. Padahal, apa yang mereka lakukan tidak lain hanyalah kembali pada perbuatan masa jahiliah dan mengesahkan diri mereka sebagai seorang dayyuts, yaitu seorang laki-laki yang memudahkan anggota keluarganya dalam keburukan, membiarkannya tanpa ada rasa ghirah/cemburu terhadapnya.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam:

ثلاثةٌ لا يَدْخُلُوْنَ الجَنَّةَ: العَاقُّ لِوَالِدَيْهِ، وَالدَّيُّوْثُ، وَالرَّجِلَةُ مِنَ النِّسَاءِ

Artinya : "Tiga golongan yang tidak akan masuk surga, seorang yang durhaka pada kedua orang tuanya, seorang dayyuts dan wanita yang menyerupai laki-laki." (HR. An-Nasa’i)

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah.

Pacaran merupakan tipu daya setan yang bersembunyi di balik kata-kata cinta yang indah. Ia merupakan perangkap setan, yang saat ini seolah menjadi suatu perbuatan yang halal dan dibolehkan.

Sebagian mereka menganggap ini adalah sarana untuk saling mengenal. Tapi ini adalah satu kedustaan. Sebab, seorang yang berpacaran tidak akan memperlihatakan sisi buruk, aib dan kekurangannya di hadapan kekasihnya selama berpacaran. Sungguh Islam telah memberikan solusi yang tepat bagi seseorang yang jujur ingin menjaga kehormatan dan kesucian dirinya, yaitu ta'aruf.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah.

Tidak ada jalan yang baik untuk menyalurkan rasa cinta kecuali sesuai jalan yang diatur oleh syariat. Kita patut bersedih, sebab jalan-jalan perzinahan sangat begitu dimudahkan saat ini. Adapun jalan untuk menjaga kehormatan dengan pernikahan justru dipersulit dengan berbagai alasan, persyaratan dan kebiasan-kebiasaan yang sebenarnya Islam tidak mewajibkan itu. Maka teramat penting bagi setiap kaum muslimin untuk memahami dan kembali kepada syariat yang sangat agung ini, guna meminimalisir bahkan menghilangkan hingga ke akar-akarnya perbuatan dan tindakan keji ini. Semoga Allah menjaga kita dan segenap kaum muslimin dari perbuatan nista ini, Aamiin…

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِمَا مِنَ العِلْمِ وَالْحِكْمَةِ، أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ، إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.


KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ للهِ عَلَىْ إِحْسَاْنِهِ ، وَالْشُّكْرُ لَهُ عَلَىْ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَاْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَاْ إِلَهَ إِلَّاْ اللهُ تَعْظِيْمَاً لِشَأْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْدَّاْعِيْ إِلَىْ رِضْوَاْنِهِ صَلَّى اللهُ عَلِيْهِ وَعَلَىْ آلِهِ وَأَصْحَاْبِهِ وَإِخوَانِهِ

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah!

Sesuatu yang harus kita pahami bersama adalah ketika pintu-pintu ibadah dan ketaatan ditutup, maka yang akan terbuka adalah pintu-pintu kemaksiatan dan kerusakan. Pernikahan sebagai contohnya. Jika jalan-jalannya dipersulit, maka dua insan akan mencari jalan lain untuk menyalurkan rasa cinta mereka. Akhirnya, mereka tidak terkontrol melakukan pelanggaran-pelanggaran syariat.

Jika hal ini terus berkelanjutan, maka perzinahan akan terus tersebar dan musibah akan menimpa satu negeri. Zainab binti Jahsy radhiyallahu 'anha pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam:

يا رَسولَ اللَّهِ، أَنَهْلِكُ وفينَا الصَّالِحُونَ؟

"Wahai Rasul Allah, apakah kami akan diazab sedang di sekitar kami ada orang-orang saleh?

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

نَعَمْ؛ إذَا كَثُرَ الخَبَثُ

"Ya, jika kemaksiatan telah tersebar." (HR. Bukhari)

Semoga Allah menjauhkan kita semua dari azab itu, Allahumma aamiin yaa mujiibas saa’iliin...

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤىِٕكَتَهُۥ یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّۚ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمًا

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ . وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ،فِي العَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ،يَا سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً  إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

رَبَّنَا تَقَبَّل مِنَّا وَقِيَامَنَا وَسَائِرَ أَعمَالِنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ المُسْلِمِيْنَ وأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَ المُشْرِكِينَ وَأَعدَاءَكَ يَا عَزِيزٌ يَا قَهَّارٌ يَا رَبَّ العَالَمِينَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Download PDF-nya di https://bit.ly/NESTAPACINTASEMU