Mulia dengan Akhlak yang Baik

Adab dan Akhlak
Admin WIM
12 Nov 2018
Mulia dengan Akhlak yang Baik

Definisi akhlak

Akhlak adalah karakter kuat dalam jiwa seseorang yang timbul darinya perbuatan yang sifatnya kehendak pilihan, entah itu baik ataupun buruk, indah ataupun jelek.  

Karakter dalam jiwa seseorang sangat dipengaruhi oleh didikan baik ataupun buruk terhadapnya. Jika karakter ini dididik untuk mengutamakan kemuliaan dan kebenaran, cinta kebaikan, gemar berbuat baik, dilatih mencintai keindahan dan membenci kejelekan, maka akan keluar dari karakter ini perbuatan- perbuatan yang baik dengan mudah tanpa keterpaksaan. Inilah yang dimaksud dengan akhlak yang baik.

Begitupula jika ia diterlantarkan lalu tidak disentuh dengan didikan yang sesuai,  dan tidak dibantu untuk menumbuhkan unsur-unsur kebaikan yang tersembunyi didalamnya, atau bahkan dididik dengan didikan yang buruk sehingga kejelekan menjadi kegemarannya, kebaikan menjadi kebenciannya, dan pada akhirnya perkataan atau perbuatan tercela timbul darinya tanpa dipaksakan, maka karakter tersebut dinamakan akhlak yang buruk.

Islam adalah agama yang mulia yang mengajak kepada akhlak yang baik dan pembinaanya ditengah-tengah kaum muslimim. Allah تعالى berfirman  :

{وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ }

 “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” ( Qs. Fushilat : 34)

Dan Allah telah memuji nabi-Nya disebabkan karena akhlaknya yang agung.  Allah تعالى berfirman :

{وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ }

 “Dan sesungguhnya, engkau (Muhammad) benar-benar memiliki akhlak yang agung”. (Qs. Al-Qalam : 4)


Urgensi akhlak yang baik

Syariat islam adalah syariat yang sempurna. Diantara wujud kesempurnaan syariat  islam  adalah  ia menekankan pada pembinaan akhlak islami.  Akhlak  yang baik ini tidak ditekankan melainkan karena urgensinya yang sangat besar. Diantaranya adalah :

1. Islam  menjadikan akidah dan akhlak yang baik sebagai satu ikatan yang kuat, sebagaimana yang disabdakan nabi صلى الله عليه وسلم :

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

“Orang mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah ia yang memiliki akhlak terbaik.”(HR. Bukhari Muslim)


2. Nabi صلى الله عليه وسلم mengabarkan bahwa tujuan dari diutusnya beliau dimuka bumi ini  adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.Beliau bersabda :

إِنَّمَا بُعِثْتُ ِلأُتَمِّمَ صَالِحَ اْلأَخْلاَقِ

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik."(HR. Bukhari dan Ahmad)

Artinya akhlak yang mulia itu ibarat bangunan yang telah dibangun oleh para nabi terdahulu. Yang setelah para nabi itu, Rasulullah صلى الله عليه وسلم kemudian diutus untuk menyempurnakannya.

Sebenarnya dalam agama ini masih banyak perkara  lain yang lebih penting daripada akhlak mulia, seperti perkara-perkara akidah dan ibadah. Namun beliau صلى الله عليه وسلم  ingin menjelaskan kepada kita begitu pentingnya akhlak yang baik,  karena akhlak seseorang  sangatlah nampak dan lebih mudah dinilai bila dibandingkan dengan amalannya yang lain. Orang-orang tidak bisa melihat akidah orang lain secara langsung, begitu pula dengan ibadahnya. Mereka hanya dapat melihat akhlaknya, sehingga penilaian orang-orang terhadap islam didasarkan pada perilaku orang islam itu sendiri.


3. Islam begitu mengagungkan akhlak yang baik. Akhlak yang baik bukan sekadar perangai, akan tetapi ia adalah ibadah yang bernilai pahala. Akhlak yang baik memiliki keutamaan yang sangat banyak. Diantaranya adalah  Allah تعالى menjadikannya sebagai jalan untuk memperoleh syurga yang tinggi. 

Allahتعالى berfirman :

{وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ . الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ }

“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. Yaitu orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnyadan mema'afkan kesalahan orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.”  (Qs.Ali Imran : 133-134)

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh sahabat  Abu Hurairah beliau berkata Rasulullahصلى الله عليه وسلم pernah ditanya tentang sesuatu yang paling banyak memasukkan seseorang ke dalam surga, maka beliau pun menjawab:

تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ

"Takwa kepada Allah dan akhlak yang mulia."

Dan beliau juga ditanya tentang sesuatu yang paling banyak memasukkan orang ke dalam neraka, maka beliau menjawab:

الْفَمُ وَالْفَرْجُ ّ

"Mulut dan kemaluan." (HR. Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Hibban)

Beliau juga bersabda :

إنَّ مِن أحبِّكم إليَّ وأقربِكُم منِّي مجلسًا يومَ القيامةِ أحاسنَكُم أخلاقًا ، وإنَّ مِن أبغضِكُم إليَّ وأبعدِكُم منِّي يومَ القيامةِ الثَّرثارونَ والمتشدِّقونَ والمتفَيهِقونَ، قالوا : يا رسولَ اللَّهِ، قد علِمنا الثَّرثارينَ والمتشدِّقينَ فما المتفَيهقونَ ؟ قالَ : المتَكَبِّرونَ .

"Sesungguhnya di antara orang yang paling aku cintai dan yang tempat duduknya lebih dekat kepadaku pada hari kiamat ialah orang yang akhlaknya paling bagus. Dan sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh tempat duduknya dariku pada hari kiamat ialah orang yang paling banyak bicara (kata-kata tidak bermanfaat)." Para shahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling banyak bicara itu?" Nabi menjawab: "Yaitu orang-orang yang sombong." (HR. Tirmidzi)

Dalam hadits yang lain nabi صلى الله عليه وسلم bersabda

مَا مِنْ شَيْءٍ يُوضَعُ فِي المِيزَانِ أَثْقَلُ مِنْ حُسْنِ الخُلُقِ، وَإِنَّ صَاحِبَ حُسْنِ الخُلُقِ لَيَبْلُغُ بِهِ دَرَجَةَ صَاحِبِ الصَّوْمِ وَالصَّلَاةِ

"Tidak ada sesuatu yang diletakkan pada timbangan hari kiamat yang lebih berat daripada akhlak yang mulia, dan sesungguhnya orang yang berakhlak mulia bisa mencapai derajat orang yang berpuasa dan shalat." (HR. Tirmidzi )


4. Ibadah-ibadah dalam Islam sangat erat kaitannya dengan akhlak. Setiap ibadah yang dilaksanakan, tidak akan bernilai jika tidak terekspresikan dalam akhlak yang utama. Shalat misalnya, Allah تعالى berfirman:

{وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ }

“ dan laksanakanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar”. (Qs. Al Ankabut: 45)

Demikian juga dengan puasa yang dapat mengantarkan kepada takwa yang merupakan akhlak yang paling agung. Allah  تعالى berfirman :

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ }

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (Qs. Al Baqarah : 183)

Puasa juga berbuahkan adab dan  sopan santun, ketenangan dan ketentraman hati, sifat memaafkan orang lain, dan kemauan berpaling dari orang-orang jahil. Nabi bersabda :

وَ اِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ اَحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفُثْ وَ لاَ يَصْخَبْ فَاِنْ سَابَّهُ اَحَدٌ اَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ اِنّى امْرُؤٌ صَائِمٌ

“Apabila salah seorang diantara kalian berpuasa pada suatu hari, maka janganlah berkata keji dan jangan berteriak-teriak. Jika ada seseorang yang mencaci makinya atau menyerangnya maka hendaklah ia mengatakan, ”Sesungguhnya saya sedang berpuasa”.” (HR.Bukhari )


Zakat juga demikian, ia dapat membersihkan hati, menyucikan dan membebaskan jiwa dari penyakit bakhil, kikir, dan egois. Allahتعالى berfirman:

{خُذْ مِنْأَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ }

“Ambillah zakat dari harta mereka guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. ( Qs. At Taubah : 103)


Sedangkan haji adalah lapangan untuk membersihkan dan menyucikan diri dari segala penyakit iridan dengki.  Allah تعالى berfirman :

{الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلا رَفَثَ وَلا فُسُوقَ وَلا جِدَالَ فِي الْحَجِّ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الألْبَابِ }

“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi. Barang siapa mengerjakan ibadah haji dalam bulan itu, maka janganlah dia berkata jorok, berbuat maksiat dan bertengkar dalam melakukan ibadah haji. Segala kebaikan yang kamu kerjakan, Allah mengetahuinya. Berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang berakal.”  (Qs. Al Baqarah : 197)

Rasulullah صلى الله عليه وسلم juga menerangkan dalam haditsnya dengan bersabda:

مَنْ حَجَّ لِلَّهِ عَزَّوَزَلَّ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

“Barangsiapa melakukan haji ikhlas karena Allah Subhanahu Wata’ala tanpa berbuat keji dan kefasikan, maka ia kembali tanpa dosa sebagaimana waktu ia dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Bukhari dan Muslim)


5. Akhlak adalah pondasi pertahanan suatu umat. Akhlak sangat mempengaruhi musnah atau eksisnya suatu kaum. Itu karena jatuhnya akhlak kaum tersebut menandakan jatuhnya pula eksistensinya. Allahتعالى berkata  :

{وَإِذَا أَرَدْنَا أَن نُّهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُواْ فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا  }

“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” ( Qs. Al Isra : 16)


Pembagian akhlak

Dilihat dari sifatnya, akhlak yang mulia terbagi menjadi 2 yaitu:

1. Akhlak yang sifatnya fitrah. Akhlak ini adalah akhlak yang  ada secara langsung dalam jiwa seseorang karena merupakan pemberian dari Allahتعالى. Sehingga ada sesorang yang sejak lahirnya telah memiliki akhlak mulia dan budi pekerti yang baik dalam dirinya.Dalam sebuah haditsRasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda kepada Asyajj ‘Abdul Qais:

إن فيك خَلتين يحبهما الله الحِلْم والأناة

“Sesungguhnya dalam dirimu ada dua sifat yang Allah sukai; sifat santun dan tidak tergesa-gesa”.

Ia bersabda :

يا رسول الله , أهما خلقان تخلقت ما , أم جبلني الله عليهما

”Wahai Rasulullah, Apakah kedua akhlaq tersebut merupakan hasil usahaku, atau Allah-kah yang telah menetapkan keduanya padaku?”

Beliau menjawab:

بل جبلك الله عليهما

“Allahlah yang telah mengaruniakan keduanya padamu”.

Kemudian ia berkata:

الحمد لله الذي جبلني على خلقين يحبهما ورسوله

”Segala puji bagi Allah yang telah memberiku dua akhlaq yangdicintai oleh-Nya dan oleh Rasul-Nya”.(HR. Ahmad,Abu Daud, Ibnu Majah)

2. Akhlak yang sifatnya diupayakan. Akhlak ini didapatkan melalui latihan dan kebiasaan. Karena tanpa dilatih akhlak ini sulit untuk terwujud. Akhlak inilah yang dimiliki oleh sebagian besar manusia. Sahabat Abu Sa’id Al-Khudry berkata :

أن أناسًامن الأنصار سألوا رسولَ الله صلى الله عليه وسلم فلم يسأله أحد منهم إلا أعطاه حتى نفد ما عنده، فقال لهم حين نفد كلُّ شيء أَنفَق بيديه: " ما يكن عندي من خيرٍ لا أَدَّخِرْهُ عنكم، وإنه مَن يَستعف يُعِفّه الله، ومَن يتصبر يُصَبِّرْهُ الله، ومَن يَستغْنِ يُغْنِه الله، ولن تُعطَوا عطاءً خيرًا وأوسع مِن الصَّبْر

“Sebagian orang Ansar meminta kepada Rasulullah صلى اللهعليه وسلم . Tidak ada seorang pun dari mereka yang meminta kepadanya kecuali beliau pun memberinya. Sampai ketika telah habis semua yang ada pada beliau, beliau bersabda: Apapun kebaikan yang ada padaku, maka aku tidak akan menyembunyikannya dari kalian. Barang siapa menjaga kehormatan diri, maka Allah akan menjaga kehormatan dirinya. Barang siapa yang bersabar, maka Allah akan membuatnya sabar. Barangsiapa yang merasa cukup, maka Allah akan mencukupinya. Seseorang tidak diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas dari pada kesabaran.”(HR. Muslim )


Tidak dapat dipungkiri bahwa mengubah perilaku yang telah tertanam dalam diri seseorang merupakan perkara yang sulit. Namun meskipun sulit, bukan berarti mengubahnya adalah sesuatu yang mustahil. Ada banyak cara dan sebab  yang dapat ditempuh untuk mengupayakan akhlak yang baik itu, diantaranya :

1. Akidah yang lurus.

Pada umumnya perilaku seseorang adalah buah dari permikirannya, keyakinan dan agama yang dianutnya. Perilaku buruk tidak timbul dari seseorang kecuali disebabkan karena adanya cacat dalam akidahnya. Bukankah nabi صلى الله عليه وسلمberkata : “Orang mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah ia yang memiliki akhlak terbaik.”Artinya, jika akidah seseorang itu lurus, maka akan baik pula akhlaknya. Sehingga akidah  yang benar akan mengantarkan seseorang kepada kejujuran, kedermawanan, kesopanan, keberanian, dan akhlak mulia lainnya, serta menjauhkannya dari akhlak yang buruk.

2. Doa.

Doa sangat bermanfaat bagi hamba yang ingin menghiasi dirinya dengan akhlak yang baik. Oleh karena itulah nabi صلى الله عليه وسلم banyak meminta kepada Allah تعالى agar beliau dikaruniakan akhlak yang baik. Diatara doa pembuka shalat beliau adalah :

إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ. اللَّهُمَّ اهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَعْمَالِ وَأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَقِنِي سَيِّئَ الْأَعْمَالِ وَسَيِّئَ الْأَخْلَاقِ لَا يَقِي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ

"Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah Rabb semesta alam tiada sekutu bagi-Nya, dan demikianlah aku diperintahkan dan aku bagian dari orang Islam, Ya Allah berilah aku amalan yang terbaik dan akhlak yang paling mulia, tiada yang bisa memberi yang terbaik selain Engkau, dan lindungilah aku dari amalan dan akhlak yang buruk, tidak ada yang bisa melindungiku dari hal yang buruk selain Engkau".( HR. An Nasa'i)

Doa Rasulullah صلى الله عليه وسلمyang lainnya adalah :

اللهم جنبني منكرات الأخلاق، والأهواء، والأعمال، والأدواء

“(Ya Allah.. Aku berlindung kepada-Mu dari berbagai kemungkaran akhlak, amal maupun hawa nafsu)." (HR. Tirmidzi)

Rasulullah صلى الله عليه وسلم juga sering berdoa dengan bersabda:

اللهُمَّ أَحْسَنْتَ خَلْقِيْ، فَأَحْسِنْ خُلُقِيْ

“Ya Allah .. Engkau telah memuliakan penciptaanku, maka muliakanlah akhlakku.” ( HR. Ahmad )

3. Berusaha dengan sungguh-sungguh.

Itu karena akhlak yang mulia adalah hidayah dari Allah yang dapat didapatkan seseorang dengan jalan usaha yang sungguh-sungguh. Allahتعالى berfirman:

{وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ  }

“Dan orang-orang yang bersungguh-sunguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” ( Qs. Al Ankabut : 69)

Perlu diingat bahwa kesungguhan untuk mendapatkan akhlak yang mulia ini tidak diusahakan sekali atau 2 kali saja, bahkan ia diusahakan sepanjang hidup. Karena ia adalah satu bentuk ibadah. Bukankah  Allah تعالى berkata :

{وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ  }

“dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” (Qs. Al Hijr: 99)

4.Introspeksi diri.

Dengan memprotes diri saat ia melakukan perbuatan yang tercela, akan mengantarkan jiwa untuk tidak ingin kembali pada keburukan itu. Dengan mengingat bahwa kebaikan akan mendatangkan pahala, dan keburukan akan mendapatkan ganjaran.

5.Tidak putus asa dalam memperbaiki diri.

Adalah keliru jika seseorang mengira bahwa saat dirinya diuji dengan perilaku yang buruk, akan mustahil baginya untuk meninggalkan dan  menghilangkan sifat tersebut. Seorang muslim  tidak pantas merelakan keburukan bersemayam dalam dirinya, sehingga tidak ada usaha yang ia lakukan untuk menghilangkannya. Seorang muslim hendaknya menguatkan keinginannya, lalu mengusahakan dengan sebaik-baiknya perbaikan dirinya dan menghilangkan aibnya. Itu karena  ada banyak orang yang kemudian berubah keadaanya, jiwanya menjadi mulia, dan berkurang aibnya disebabkan karena usahanya dalam melatih diri, kesungguhannya dan usaha kerasnya untuk memperbaiki diri.


Sumber :

1.Minhaajul muslim, Syaikh Abu Bakr Jabir Al-Jaza’iri.

2.Hadza huwal Islam, Sr. Adil Asy-Syiddiy, Dr. Ahmad Al Mazyad.

3.Majallah Al-Buhuts Al-Islamiyah, Ar Riaasahal ‘Ammah li IdaaratialBuhutsal ‘Ilmiyyahwal Ifta’ wadDa’wahwal Irsyad.

4.Al Asbaab Almufidah fii Iktisaabi Al Akhlaak AlHamiidah, Muhammad bin Ibrahim Alhamd.

(dengan perubahan)



Oleh : Andi Indra Puteri, Lc

Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab (STIBA) Makassar