Muhasabah Akhir Tahun

Muhasabah
Super Admin
23 Dec 2018
Muhasabah Akhir Tahun

Alhamdulillah Washolatu Wassalamu Ala Rasulillah Wa 'Ala Alihi Washohbihi Wa Man Wa Lah. Amma Ba'du.

Para pembaca web wahdah yang berbahagia.

Kita sekarang berada dipenghujung bulan Desember, bulan yang akan menjadi penutup hari-hari kita di tahun 2018 Masehi ini.

Begitu banyak kejadian yang telah berlalu, musim silih berganti, teman-teman kita satu persatu mengakhiri masa lajangnya, saudara yang sudah mulai dikaruniai buah hati, adek-adek kelas kita yang sudah mengenakan toga wisuda, tetangga-tetangga kita yang sakit,  karib kerabat yang telah meninggal dunia dan seterusnya.

Itulah dunia, di mana semuanya adalah fana tidak ada yang abadi, bagaikan fatamorgana yang semakin kita mendekat maka akan semakin jelas bahwa keberadaannya sebenarnya tiada.

Para pembaca sekalian yang dirahmati Allah, Muhasabah atau introspeksi diri sangatlah penting oleh karenanya Allah Subhanahu Wata'ala dalam ayat yang sangat banyak menjelaskan pentingnya muhasabah.

Diantaranya firman Allah Subhanahu Wata'ala berfirman

 أنْ تَقولَ نَفسٌ يا حَسْرتى عَلى ما فَرطتُ في جَنْبِ اللهِ وإنْ كُنْتُ لَمِنَ الساخِرين

 "Agar jangan ada orang yang mengatakan, ‘Alangkah besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah, dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah)." [Q.S. Az-Zumar 56]


Allah Subhanahu Wata'ala juga berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. [Q.S. Al-Hasyr 18]


Al-Imam Ibnu Katsir Rahimahullah mengatakan dalam tafsirnya tentang makna firman Allah ini :

أي حاسبوا أنفسَكم قبل أن تحاسبوا وانظروا ماذا ادخرتُم لأنفسِـكم من الأعمالِ الصالحةِ ليومِ معادِكم وعرضِـكم على ربِكم ، واعلموا أنه عالمٌ بجميعِ أعمالِكم وأحوالِكم ، لا تخفى عليهِ منكم خافيه

"Hisablah amal kalian sebelum dihisab (di akhirat), dan lihatlah apa yang telah kalian siapkan untuk diri-diri kalian berupa amalan-amalan sholih pada hari kembali kalian nanti dikehadirat Rabb kalian. Dan ketahuilah Dia Maha Mengetahui seluruh amalan kalian dan keadaan kalian, tidak luput atas-Nya hal yang paling kecil sekalipun."


Dahulu Ahnaf bin Qais Rahimahullah mendatangi lentera dan meletakkan jari jemarinya dimulut dan mengatakan kepada dirinya sendiri :

يا حُنيف ، ما حمَلَكَ على ما صنعتَ يومَ كذا ؟ ما حمَلَكَ على ما صنعتَ يومَ كذا ؟

"Wahai Khunaif (Nama Kecilnya) apa yang membuatmu melakukan hal ini dan itu hari ini? apa yang membuatmu melakukan hal ini dan itu hari ini?".


Imam Hasan Al-Bashri Rahimahullah mengatakan :

إن المؤمنَ واللهِ ما تراهُ إلا يلومُ نفسهُ على كلِّ حالاته ، يستقصرها في كل ما يفعل ، فيندمُ ويلومُ نفسَهُ ، وإنّ الفاجرَ ليمضي قُدُمـاً لا يعاتبُ نفسَه

"Sesungguhnya seorang mukmin, demi Allah, tidaklah engkau melihatnya kecuali mencela dirinya sendiri atas keadannya, dan merasa kurang atas amalan yang dikerjakannya, sehingga dia menyesal dan menghina dirinya, adapun orang yang fajir hanya menganggap (kesalahan, dosa dan aib) berlalu begitu saja dan tidak merasa bersalah terhadap dirinya."


Ibnul Qoyyim Rahimahullah mengatakan :

ومن تأملَ أحوالَ الصحابةِ رضي الله عنهُم وجدَهم في غايةِ العملِ معَ غايةِ الخوف ، ونحن جمعنا بين التقصير ، بل بين التفريطِ والأمن

"Barangsiapa yang melihat keadaan para sahabat Radhiyallahu 'anhum bahwa keseriusan mereka berada pada puncak amal dan puncak rasa takut kepada Allah. Adapun kita telah mengumpulkan antara kedua kekurangan, bahkan meninggalkan (bermudah-mudahan dalam ibadah) dan merasa aman (dari siksa Allah)."

Itulah yang diucapkan Al Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah pada zaman beliau. Lalu bagaimana ketika beliau melihat rusaknya manusia pada zaman kita ini. Wallahul musta'an.


MUHASABAH ADA TIGA JENIS


Pertama : Sebelum Kita Beramal

Ya, kita muhasabah diri kita sebelum kita melakukan sebuah amalan apapun itu. Dengan mempertimbangkan terlebih dahulu kemudian kita baru melaksanakannya. Apakah perbuatan yang akan kita lakukan tersebut bermanfaat bagi dunia kita dan/atau akhirat kita, atau malah tidak mendatangkan manfaat sama sekali bahkan terkadang berujung kepada sesuatu yang diharamkan. Waliyyadzu billah

Sehingga ketika apa yang akan kita kerjakan dimulai dengan muhasavah maka semuanya akan berpijak pada tuntunan agama islam yang Hanif ini.


Kedua : Setelah Kita Beramal

Muhasabah diri setelah beramal sangatlah penting, karena hal itu bisa menerawang apa ada yang kurang dari amalan kita. Misalnya kurangnya kita dalam ikhlas dan muataba'ah, atau meninggalkan amalan yang seharusnya dikerjakan seperti dzikir harian, meninggalkan sholat berjama'ah, lupa belum membaca al-Qur'an, sunnah-sunnah rawatib dan seterusnya.

Jenis yang kedua ini dapat menyempurnakan kekurangan yang ada pada amalan kita dan berusaha tidak mengulanginya di waktu yang akan datang.


Ketiga : Muhasabah pada Amalan Mubah

Masya Allah, saking lengkapnya agama Islam pada amalan mubah pun kita harus tetap me-muhasabah amalan tersebut. Kenapa kita melakukanya? Jawabannya adalah apa ketika kita mengerjakan amalan mubah tadi, hanya sebatas karena manusiawi saja atau menginginkan pahala Allah di akhirat kelak. Atau malah bisa menjadi kerugian kita di akhirat kelak yang berujung pada penyesalan.


FAIDAH-FAIDAH MUHASABAH

1. Mengetahui aib dan kekurangan diri, karena barangsiapa yang tidak tahu aibnya, maka dia tidak akan bisa berubah.

2. Bertaubat serta menyesal karena telah menyia-nyiakan waktu dan kesempatannya.

3. Merasa diri rendah dihadapan Allah, Rabb Semesta Alam.

4. Mengetahui betapa luasnya Rahmat Allah dan ampunan-Nya, sehingga para hamba tidak menjadi putus asa.

5. Menjadikan diri zuhud, lebih mawas diri, meninggalkan sifat ujub dan takabbur.

6. Akan lebih semangat dalam ketaatan dan berhati-hati dalam meremehkan dosa.

7. Mengembalikan hak-hak orang lain dan menggati apa yang pernah dirusak


Demikianlah pembahasan tentang muhasabah kali ini, walaupun hanya secuil dan ringkas, kami berharap semoga bisa menjadi amal jariyah dan bermanfaat bagi diri kami secara khusus dan kaum muslimin secara umum.


____

Yoshi Putra Pratama (Mahasiswa UIM KSA)