MENGAMBIL IBRAH DARI PERGANTIAN TAHUN

Naskah Khutbah
Asdar
01 Jan 2026
MENGAMBIL IBRAH DARI PERGANTIAN TAHUN

JUMAT, 12 Rajab 1447 H / 02 Januari 2026 M
 Oleh Mukran H. Usman, Lc., M.H.I.

Dep. Dakwah DPD Wahdah Islamiyah Makassar

KHUTBAH PERTAMA

 

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ..

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار

أَيُّهَا النَّاسُ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...

Tidak terasa kita telah memasuki tahun 2026 Masehi, dan tahun Masehi adalah merupakan sebuah kenyataan yang kita jalani dan hidup bersamanya. Dalam banyak hal hidup dan aktiftas kita diatur oleh penetapan tahun masehi, kita sadar maupun tidak sadar. Diantara contohnya adalah tahun dan tanggal yang berada di kartu identitas kita semua berdasarkan tahun dan tanggal masehi, demikian pula dalam penetapan kalender pendidikan, gaji bulanan dan sebagainya yang dalam hal ini merupakan sebuah kenyataan dan kenyataan tersebut telah menyatu dalam aktifitas kehidupan kita.

Maka, bagaimana kita menyikapinya dengan cara yang tidak membuat kita terjatuh ke dalam pelanggaran terhadap agama kita? Dan apa saja langkah-langkah yang seharusnya dilakukan seorang Muslim pada pergantian tahun untuk menjaga agama dan imannya?

Jamaah Jumat yang Allah Muliakan...

Ada 4 hal yang perlu kita pahami dalam menyikapi pergantian tahun, yaitu mengambil Ibrah, skala Prioritas, Kemandirian, dan Memanfaatkan Peluang

Pertama:  Mengambil Ibrah atau pelajaran.

Yang dimaksud dengan mengambil ibrah atau pelajaran adalah; suatu perasaan yang dirasakan manusia di dalam hatinya, yang mendorong kepada keinginan untuk lebih baik lagi di tahun yang yang sebelumnya, baik pada perbuatan dan amal kebajikan yang sifatnya antara hamba kepada Allah ataukah amal kebajikan yang sifatnya antara hamba dengan hamba lainnya. Tentang perbaikan ini Allah berfirman dalam al-Quran:

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ

Artinya: Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (QS. Ar-Ra'd (13) ayat 11)

Ibrah yang lain seperti, yaitu ketika seorang Muslim pada pergantian tahun merasakan usia yang terus terkikis oleh perjalanan tahun-tahun: apa yang telah ia perbuat di dalamnya? Apa yang telah ia sia-siakan? Apa yang telah ia lakukan terhadap tanggung jawab-tanggung jawabnya yang besar dan banyak? Dan apakah ia telah menyiapkan jawaban dari pertanyaan.

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa setiap orang pada hari kiamat akan ditanya, diantara pertanyaan tersebut adalah:

عَنْ عُمُرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ شَبَابِهِ فِيْمَا أَبْلَاهُ

Artinya:  Tentang masa mudanya untuk apa ia habiskan, dan tentang umurnya untuk apa ia gunakan. (HR. Thabrani dan Al Bazzar).

Apabila seorang Muslim menyadari berkurangnya umur dan dekatnya ajal, maka saat itu ia menyadari keburukan amal yang telah ia lakukan dan perbuatan buruk yang telah ia kerjakan. Lalu ia bertobat kepada Allah, memohon ampun kepada-Nya, serta mengevaluasi dirinya di dunia dengan menjauhi keburukan-keburukan yang dahulu ia lakukan dan dosa-dosa yang pernah ia kerjakan.

Kedua; Mendahulukan yang lebih berhak (prioritas).

Seandainya pergantian tahun benar-benar berkaitan dengan Nabi Isa, maka kitalahkaum Muslimin yang lebih berhak dengannya, karena beliau sejatinya termasuk kaum Muslim. Rasulullah ﷺ bersabda:

اَلأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ لِعَلاَّتٍ، أُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى وَدِيْنُهُمْ وَاحِدٌ، وَإِنِّي أَوْلَى النَّاسِ بِعِيْسَـى بْنِ مَرْيَمَ؛ لأَنَّهُ لَمْ يَكُنْ بَيْنِـيْ وَبَيْنَهُ نَبِيٌّ، وَإِنَّهُ نَازِلٌ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوْهُ؛ فَاعْرِفُوْهُ

Artinya: Para Nabi adalah saudara seayah, ibu-ibu mereka berbeda-beda, akan tetapi agama mereka satu. Sesungguhnya aku adalah orang yang paling berhak (dekat) kepada ‘Isa bin Maryam, karena tidak ada Nabi di antaraku dan dia. Dan sesungguhnya dia akan turun, jika kalian melihatnya, maka kenalilah dia! (HR. Muslim).

Kitalah yang lebih berhak terhadap Isa; kita mengingat mukjizat kelahirannya tanpa ayah, sebagaimana Adam diciptakan tanpa ayah dan ibu. Allah Ta‘ala berfirman dalam surah Ali Imran ayat 59:

إِنَّ مَثَلَ عِيسَىٰ عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ ۖ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

Artinya: Sesungguhnya perumpamaan Isa di sisi Allah seperti (penciptaan) Adam; Dia menciptakannya dari tanah, kemudian Dia berfirman kepadanya: ‘Jadilah!’ maka jadilah ia. (QS. Ali-Imran (3) ayat 59).

Kitalah yang lebih berhak terhadap Isa; kita mengingat kezuhudannya, kesabarannya, dan baktinya kepada ibunya; serta keyakinan bahwa beliau tidak disalib, melainkan diangkat oleh Allah kepada-Nya. Dan bahwa beliau sebagaimana sabda Nabi akan turun di akhir zaman untuk memutuskan perkara di antara manusia dengan syariat Al-Qur’an.

Ketiga: Kemandirian.

Seorang Muslim harus teguh dengan jati dirinya, mandiri dalam identitasnya, tidak hanyut mengikuti ketergantungan kepada selainnya, dan tidak melebur dalam kebiasaan serta budaya orang lain. Oleh karena itu, pergantian tahun hendaknya dianggap sebagai hari biasa seperti hari-hari lainnya; tidak ada perbedaan antara hari tersebut dan hari-hari lain kecuali dengan ketakwaan.

Maka kita tidak mengikuti kaum agama apapun dalam hari raya, kebiasaan, dan ritual mereka yang bertentangan dengan Islam. Rasulullah ﷺ tidak menghendaki seorang Muslim menyerupai selainnya. Beliau bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ: فَهُوَ مِنْهُمْ

Artinya: Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka. (HR. Abu Dawud).

Beliau juga bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا

Artinya: Bukan termasuk golongan kami orang yang menyerupai selain kami. (HR. Tirmidzi).

Lalu kebaikan apa lagi yang tersisa bagi orang yang telah dilepaskan darinya oleh Sang Kekasih Terpilih ?

Keempat: Memanfaatkan Peluang.                                      .          

Kita perlu mengetahui bahwa Nabi telah memperingatkan kita dari meniru kaum Nasrani sejak empat belas abad yang lalu, dan beliau mengabarkan bahwa hal itu suatu hari akan terjadi pada umat ini. Dan sungguh hal itu telah terjadi dan kita menyaksikannya hari ini; pergantian tahun merupakan bukti yang paling jelas atas hal tersebut. Ini adalah dalil yang terang tentang kebenaran sabda Rasulullah, dan bukti nyata bahwa beliau tidak berbicara menurut hawa nafsunya.

Seorang mukmin tidak sepatutnya melewatkan satu pun kesempatan untuk berdakwah kepada agama Allah dan untuk mengajak berpegang teguh pada sunnah Rasulullah ﷺ. Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Sa‘id al-Khudri, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

لَتَتْبَعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا شِبْرًا وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ تَبِعْتُمُوهُمْ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ

Artinya: Sungguh kalian akan mengikuti jalan-jalan orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta. Bahkan jika mereka masuk ke lubang biawak, kalian pun akan mengikutinya.

Kami bertanya, “Wahai Rasulullah ﷺ, apakah mereka itu Yahudi dan Nasrani?”

Beliau menjawab, “Siapa lagi kalau bukan mereka?”

Dengan sekali pandang terhadap realitas umat, kita dapat menyaksikan kebenaran hadis Nabi yang mulia ini; karena kita mendapati umat ini telah dicetak oleh budaya meniru tersebut, baik panjang maupun lebarnya, di berbagai bidang. Maka seorang Muslim dapat memanfaatkan bahkan fenomena peniruan buta ini untuk mengajak manusia kepada agama Nabi pilihan, agama yang paling mulia dan paling tinggi.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ.

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لله عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِه، وَأَشهَدُ أَن لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِه، وأَشهدُ أنَّ نَبِيَّنَا مُحمَّدًا عَبدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلى رِضْوَانِه.

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah.

Sebagai intisari dari pada khutbah pada kesempatan yang berbahagia ini, bahwa ada 4 pelajaran penting dalam mengisi lembaran kehidupan kita di tahun 2026, pertama ambil pelajaran dengan menjadikan tahun sebelumnya sebagai bahan Intropeksi diri, kedua ambil dan lakukan hal yang proritas, ketiga jadikan tahun baru sebagai ruang kemandirian dan keempat manfaatkan kesempatan yang masih Allah berikan kepada kita.

Dan yang terakhir jamaah, marilah kita memperbanyak salawat dan salam kepada baginda Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana Allah dan malaikat juga bersalawat kepada beliau.

إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ

اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.


Download PDFnya di https://bit.ly/MengambilHikmahPergantianTahun

Baca Juga