MEMETIK IBRAH DARI SIRAH KALIMULLAH

Naskah Khutbah
Asdar
04 Aug 2022
MEMETIK IBRAH DARI SIRAH KALIMULLAH

JUMAT, 07 Muharam 1444 H / 05 Agustus 2022 M

Oleh Dr. Muhammad Ihsan Zainuddin, Lc., M.S.I.

Dep. Dakwah DPD Wahdah Islamiyah Makassar

KHUTBAH PERTAMA

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُ..

اللهم صلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ،  وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار

أيها الناس رحمكم الله

Kaum muslimin rahimakumullah…

            Bersyukurlah kita semua karena Allah Ta’ala masih memberikan kesempatan dan waktu agar kita lebih memperbaiki diri, memperbaiki catatan amal kita, dan memperbaiki arah perjalanan hidup kita selanjutnya.

Di dalam al-Qur’an, betapa sering Allah mengingatkan kita untuk berpikir lebih dalam tentang perjalanan waktu dan juga perjalanan sejarah. Perjalanan waktu menjadi penting untuk selalu direnungkan, karena waktu adalah modal utama setiap kita di dunia ini dalam perjalanan menuju Allah. Sementara perjalanan sejarah menjadi penting untuk ditafakkuri, karena sejarah manusia akan selalu berulang. Meski dengan tokoh dan setting cerita yang berbeda, kebenaran dan kebatilan pasti akan selalu berperang. Kebenaran pasti akan menang, meski sudah pasti harus melewati berbagai tekanan, intimidasi, bahkan penyiksaan.

Kaum muslimin rahimakumullah…

Saat ini, kita telah berada di awal tahun baru Hijriyah. Tepatnya, kita telah berada di awal bulan Muharram. Dalam untaian sejarah perjuangan para Nabi, pada bulan Muharram ini kita akan terkenang kembali pada perjuangan seorang nabi besar dalam sejarah, yaitu Nabi Musa ‘alaihissalam.

Kisah Nabi Musa sendiri memiliki tempat yang khusus dan istimewa di dalam al-Qur’an. Karena itu, setidaknya penggalan-penggalan kisah Nabi Musa itu disebutkan pada 129 tempat di dalam al-Qur’an. Maka tidaklah mengherankan, jika kita membaca al-Qur’an, sejak awal juz pertama kita sudah akan menemukan nama “Nabi Musa” di sana. Sampai akhirnya kita memasuki juz ke-30, kita akan kembali menemukan nama beliau dalam Surah al-A’la.

Begitulah Allah Ta’ala menempatkan kisah Nabi Musa di dalam al-Qur’an. Tentu saja, tidak sekedar menjadi cerita atau kisah yang hanya mengundang decak kagum. Tetapi yang jauh lebih penting dari itu adalah bagaimana kisah-kisah itu menjadi panduan dan pedoman hidup kita hingga dipanggil oleh Allah Azza wa Jalla.

Kaum muslimin rahimakumullah…

Pada momentum bulan Muharram seperti inilah, tepatnya pada hari ke-10 Muharram, Allah Ta’ala telah menyelamatkan Nabi Musa ‘alaihissalam dan menenggelamkan Fir’aun bersama segenap balatentaranya. Setelah melewati dan melalui episode-episode konflik menghadapi Rezim Fir’aun, pada 10 Muharram, Allah Azza wa Jalla menghancurkan keangkuhan Fir’aun dengan segala kemajuan pembangunan fisik yang berhasil diraihnya. Itulah sebabnya, kisah tersebut telah menjadi salah satu kisah paling heroik dalam sejarah perjuangan menegakkan Tauhid dalam kehidupan umat manusia.

Tentu saja ada banyak ibrah, hikmah dan pelajaran di balik kisah Nabi Musa tersebut yang dapat kita jadikan panduan dalam hidup kita yang singkat ini.

Hikmah pertama, Kehidupan dunia ini memang panggung segala ujian:

Dari kisah Nabi Musa ‘alaihissalam kita semakin meyakini bahwa kehidupan dunia ini memang adalah serial ujian demi ujian dari Allah Ta’ala. Bahkan semakin Allah Ta’ala mencintai seorang hamba, justru semakin besarlah ujian yang Allah berikan padanya.

Di antara sekian banyak nabi dan rasul, Nabi Musa ‘alaihissalam adalah nabi pilihan Allah yang dikategorikan sebagai Ulul ‘Azmi. Tetapi lihatlah betapa rentetan ujian dalam kehidupan beliau terbentang bahkan sejak sebelum beliau dilahirkan, hingga akhirnya beliau kemudian dipanggil oleh Allah Ta’ala.

Kita semua tahu, bahwa menjelang kelahiran Nabi Musa, Fir’aun yang karena mimpi lalu galau dengan kekuasaannya, kemudian mengeluarkan perintah untuk membunuh semua bayi laki-laki Bani Israil, termasuk Musa kecil.

Tapi beliau kemudian diselamatkan oleh Allah Azza wa Jalla, namun juga dengan cara yang penuh resiko, yaitu dihanyutkan melalui arus sungai. Kita semua dapat membayangkan: bagaimana jika seorang bayi kecil dihanyutkan seorang diri di atas sungai? Betapa besar resiko yang mengintainya.

Bahkan saat wafatnya pun, para ulama menjelaskan bahwa beliau wafat pada fase “Tih”, yaitu ketika Bani Israil dibuat luntang-lantung tak tentu arah dan tujuan selama 40 tahun di tengah gurun, karena kebodohan dan pembangkangan yang mereka lakukan. Imam al-Qurthuby rahimahullah mengatakan:

وَرُوِيَ عَنِ ابْنِ عَبَاسٍ أَنَّ مُوْسَى وَهَارُوْنَ مَاتَا فِي التِّيْهِ

Artinya: “Dan diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, bahwasanya Nabi Musa dan Harun meninggal dunia dalam (fase) ‘Tih’ ini.”

Allah Ta’ala mengatakan:

وَفَتَنَّاكَ فُتُونًا

Artinya: “Dan Kami telah mengujimu (wahai Musa) dengan berbagai ujian”. (QS. Thaha ayat 40)

Bahkan, sebagian ulama menjelaskan bahwa dibandingkan dengan tekanan dan intimidasi yang dialami dan diterima oleh Nabi Musa dari Firaun, maka ujian yang diterima oleh Nabi Musa dari kaumnya sendiri, Bani Israil yang keras kepala, justru jauh lebih berat!

Itulah sebabnya, Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:

يَرْحَمُ اللهُ مُوسَى، لَقَدْ أُوْذِيَ بِأَكْثَرَ مِنْ هَذَا فَصَبَرَ

Artinya: “Semoga Allah merahmati Musa! Sungguh beliau telah diuji dengan (ujian) yang lebih banyak dari ini, namun beliau tetap bersabar.” (Muttafaqun ‘alaih).

Kaum muslimin rahimakumullah…

Bersabar. Itulah kata kunci menghadapi panggung ujian bernama dunia ini. Dan inilah hikmah kedua dari kisah Nabi Musa ‘alaihissalam.

Apa rahasia sukses seorang Nabi Musa menghadapi dan melewati ujian demi ujian itu? Bersabar. Bersabar yang dilandasi oleh keimanan dan keyakinan yang kuat pada semua janji Allah bagi hamba-hambaNya yang tunduk dan patuh padaNya.

Bersabar dengan model seperti ini hanya bisa lahir dari hati yang kuat, dari jiwa yang dipenuhi dengan kebulatan tekad dan iman. Itulah sebabnya Nabi Musa dimasukkan dalam barisan Ulul Azmi. Ulul Azmi artinya orang-orang yang memiliki azam dan tekad yang bulat.

Allah Azza wa Jalla mengatakan:

قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ اسْتَعِينُوا بِاللَّهِ وَاصْبِرُوا إِنَّ الْأَرْضَ لِلَّهِ يُورِثُهَا مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

Artinya: “Musa berkata kepada kaumnya: ‘Mohonlah kalian pertolongan kepada Allah, dan bersabarlah. Sesungguhnya bumi ini milik Allah, yang akan diwariskanNya kepada siapa saja yang Dia kehendaki dari hamba-hambaNya. Namun akhir yang baik selalu menjadi milik orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-A’raf ayat 128)

Kesabaran seorang mukmin tentu mempunyai karakter yang berbeda dengan kesabaran manusia-manusia lain. Kesabaran seorang mukmin itu didasarkan pada tawakkal yang bulat pada Allah. Allah Ta’ala mengatakan:

وَقَالَ مُوسَى يَا قَوْمِ إِنْ كُنْتُمْ آمَنْتُمْ بِاللَّهِ فَعَلَيْهِ تَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُسْلِمِينَ

Artinya: “Dan Musa berkata: ‘Wahai kaumku! Jika kalian memang beriman kepada Allah, maka (hendaknya) hanya padaNya sajalah kalian bertawakkal jika kalian memang berserah diri (pada Allah).” (QS. Yunus ayat 84).

Kaum muslimin rahimakumullah…

Hikmah ketiga dari kisah hidup Nabi Musa ‘alaihissalam adalah bahwa seorang mukmin adalah manusia yang selalu optimis dan tak kenal putus asa.

Seberat apapun ujian yang mendera, sepekat apapun gulita yang menyelimuti, sekeras apapun gelombang menghantam, setipis apapun peluang keberhasilan, sesempit apapun celah untuk selamat; haram hukumnya bagi seorang mukmin untuk berputus asa dan kehilangan harapan!

Mengapa? Karena kisah hidup Nabi Musa ‘alaihissalam telah mengajarkan kepada kita bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah Azza wa Jalla. Bahwa jalan keluar dari Allah Ta’ala seringkali di luar dugaan manusia, jauh melampaui batas-batas perhitungan manusia yang paling teliti sekalipun.

Kita semua mengetahui betul bagaimana seorang Musa yang mulanya hendak dibunuh oleh Fir’aun, justru menjadi anak angkat yang hidup aman dan damai dalam istana Fir’aun.

Kita semua tahu bagaimana kondisi Nabi Musa ‘alaihissalam bersama Bani Israil saat berada di tepian laut, sementara Fir’aun dengan pasukannya terus mengejar dan semakin dekat. Benar-benar tidak ada lagi harapan dan jalan untuk lari. Tetapi tiba-tiba, Allah Azza wa Jalla membelah lautan itu dan dapat dilalui oleh Nabi Musa bersama kaumnya.

Allah Ta’ala berfirman:

﴿فَلَمَّا تَرآءَا الْجَمْعٰنِ قَالَ اَصْحٰبُ مُوْسٰٓى اِنَّا لَمُدْرَكُوْنَ (61)  قَالَ كَلَّا اِنَّ مَعِيَ رَبِّيْ سَيَهْدِيْنِ (62)  فَاَوْحَيْنَآ اِلٰى مُوْسٰٓى اَنِ اضْرِبْ بِّعَصَاكَ الْبَحْرَ فَانْفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيْمِ (63)  

Artinya: “Maka ketika kedua rombongan itu saling melihat, para pengikut Nabi Musa pun berkata: ‘Kita pasti benar-benar akan tersusul’. (Namun Musa) berkata: ‘Sekali-kali tidak akan (tersusul), sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberiku petunjuk.’  Lalu Kami wahyukan kepada Musa: ‘Pukulkanlah tongkatmu ke laut!’. Maka terbelahlah lautan itu (hingga) setiap belahannya seperti gunung yang besar.” (QS. As Syu’ara ayat 61-63).

Kemudian setelah itu, Allah Ta’ala mengatakan:

وَاَزْلَفْنَا ثَمَّ الْاٰخَرِيْنَ (64) وَاَنْجَيْنَا مُوْسٰى وَمَنْ مَّعَهُۥاَجْمَعِيْنَ (65)  ثُمَّ اَغْرَقْنَا الْاٰخَرِيْنَ (66)  اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيَةً وَمَا كَانَ اَكْثَرُهُمْ مُّؤْمِنِيْنَ (67)  وَاِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيْزُ الرَّحِيْمُ ࣖ  (68)

Artinya: “Lalu Kami dekatkan (rombongan fir’aun) ke sana, dan Kami selamatkan Musa dan  seluruh orang yang bersamanya. Kemudian Kami tenggelamkan rombongan yang lain itu (rombongan fir’aun). Sesungguhnya dalam itu semua terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu, Dialah Yang Mahaperkasa, lagi Maha Penyayang.” (QS. As Syu’ara ayat 64-68).

Jamaah sekalian yang berbahagia!

Demikianlah Allah Azza wa Jalla mengajarkan begitu banyak panduan hidup untuk kita, melalui kisah Nabi Musa ‘alaihissalam. Semoga hidup kita selalu dipandu oleh petunjuk dan wahyu Allah Azza wa Jalla hingga kita meninggalkan dunia ini.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِمَا مِنَ العِلْمِ وَالْحِكْمَةِ، أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ، إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ للهِ عَلَىْ إِحْسَاْنِهِ ، وَالْشُّكْرُ لَهُ عَلَىْ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَاْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَاْ إِلَهَ إِلَّاْ اللهُ تَعْظِيْمَاً لِشَأْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْدَّاْعِيْ إِلَىْ رِضْوَاْنِهِ صَلَّى اللهُ عَلِيْهِ وَعَلَىْ آلِهِ وَأَصْحَاْبِهِ وَإِخوَانِهِ

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah!

Sebagai ungkapan rasa syukurnya kepada Allah Ta’ala atas keselamatan kaumnya dari kejaran Fir’aun, Nabi Musa ‘alaihissalam pun berpuasa pada hari ke-10 bulan Muharram itu. Dan jejak beliau, kemudian diikuti oleh Nabi kita, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendorong dan memotivasi kita, umatnya, untuk melakukan ibadah tersebut.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dinyatakan:

سُئِلَ صلى الله عليه وسلم عن صَوْمِ يومِ عاشُوراءَ؟ فقالَ: يُكَفِّرُ السَّنةَ الماضيَةَ

Artinya: “(Rasulullah) Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang Puasa Asyura’ (yaitu puasa pada tanggal 10 Muharram), maka beliau menjawab: ‘(Puasa Asyura’) itu akan menghapuskan dosa selama 1 tahun yang lalu.” (HR. Muslim)

Dalam kesempatan lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya:

أرأَيْتَ رجُلاً يَصُوْمُ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ؟ قال: ذَاكَ صَوْمُ سَنَةٍ

Artinya: “Bagaimana menurut Engkau dengan orang yang berpuasa pada Hari Asyura’?” Lalu beliau menjawab: “Itu seperti berpuasa selama 1 tahun.” (HR. Ibnu Hibban dan dishahihkan oleh al-Albani)

Itulah sebabnya, generasi Salaf terdahulu sangat bersemangat untuk melaksanakan Puasa Asyura’ ini. Di antara mereka bahkan ada yang tetap melaksanakan puasa sunnah yang satu ini, meskipun sedang menempuh safar atau perjalanan jauh; sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, juga al-Zuhri dan Imam Ahmad bin Hanbal rahimahumullah.

Tidak hanya itu, bahkan sebagian Sahabat Nabi dari kalangan wanita mendorong anak-anak mereka untuk berpuasa pada hari tersebut, sebagaimana yang diriwayatkan oleh ar-Rubayyi’ binti Mu’awwidz bin ‘Afra’ radhiyallahu ‘anha.

Maka, jamaah yang dimuliakan Allah, mari memanfaatkan momentum Puasa Asyura ini dengan sebaik-baiknya, karena boleh jadi ia akan menjadi salah satu amalan terbaik kita di sisi Allah Azza wa Jalla.

Semoga Allah menerima segala amal ibadah kita, menyempurnakan segala kekurangan dan keinsafan di dalamnya, serta menghapuskan segala dosa dan kekhilafan kita, Allahumma aamiin yaa mujiibas saa’iliin...

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤىِٕكَتَهُۥ یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّۚ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمًا

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ . وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ،فِي العَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ،يَا سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً  إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

رَبَّنَا تَقَبَّل مِنَّا وَقِيَامَنَا وَسَائِرَ أَعمَالِنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

اللَّهُمَّ أَعِزَّالْإِسْلَامَا وَ لْمُسلِمِين وأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَ المُشْرِكِينَ وَأَعدَاءَكَ يَا عَزِيزٌ يَا قَهَّارٌ يَا رَبَّ العَالَمِينَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ


Download PDFnya di https://bit.ly/IbrahSirahKalimullah