Jangan Mengeluh “Jika hidup penuh keluhan, maka dimana letak syukur kita atas nikmat-Nya?”

Muhasabah
Super Admin
16 Jul 2019
Jangan Mengeluh  “Jika hidup penuh keluhan,  maka dimana letak syukur kita atas nikmat-Nya?”

Apa yang akan kita lakukan jika ujian silih berganti menyapa? Atau hidup semakin sulit dan berat terasa? Atau masalah kian hari semakin menumpuk?

Mengeluh? Mengumpat? Menghardik? Atau menyerah?

Jangan! Karena hidup adalah anugrah yang Allah berikan. Di dalamnya ada cinta dan kasih sayang-Nya, hanya saja terkadang kita keliru memaknai dan memahami bukti cinta dan sayang yang datang dari-Nya. Padahal jika kita mencari siapakah yang paling besar cinta dan sayang, pastilah jawabannya adalah Allah. Dia-lah yang Maha Cinta dan sumber segala cinta. Dia-lah yang memberi dan menitipkan cinta dalam dada setiap hamba. Hanya saja terkadang tidak sesuai dengan harapan dan keinginan kita.

Cinta dan kasih sayang Allah bisa datang dalam bentuk apapun yang selalu penuh kebaikan. Bahkan cinta dan kasih sayang-Nya bisa berupa ujian, masalah dan cobaan yang terus menghampiri. Bisa juga hidup yang terasa sulit hingga kita ingin menyerah dan berhenti. Tapi sekali lagi perlu kita yakinkan diri bahwa apapun yang datang dari Allah, itulah yang terbaik. Terbaik menurut-Nya dan bukan menurut kita. Kenapa? Mari kita simak firman-Nya yang tegas namun lembut.

وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“… boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Ayat ini merupakan kaidah yang agung, kaidah yang memiliki hubungan erat dengan salah satu prinsip keimanan, yaitu iman kepada qadha dan qadar.

Musibah-musibah yang menimpa manusia semuanya telah dicatat oleh Allah lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi. Dan meletakkan ayat di atas sebagai pedoman hidup kita akan membuat hati menjadi tenang, nyaman dan jauh dari keresahan.

Ayat ini juga menjelaskan kepada kita bahwa Allah itu selalu tahu mana yang terbaik untuk kita, untuk hamba-Nya. Karena setiap kita datang dari Allah, maka sangat wajar jika Allah-lah yang paling tahu mana yang terbaik untuk kita dan mana yang tidak baik.

Sama halnya dengan ujian, cobaan dan masalah yang silih berganti menghampiri hidup yang kita jalani. Mungkin kita merasa berat dan tidak baik untuk kita. Mungkin kita meminta kepada-Nya untuk dihilangkan dari kehidupan kita, padahal menurut Allah, itulah yang terbaik. Itulah yang menjadikan kita semakin dewasa dan mendapatkan karakter untuk menapaki hari selanjutnya.

Mungkin saja kita meminta untuk dihilangkan dari diri, padahal Allah menganggap itulah yang terbaik untuk kita saat ini. Itulah yang harus kita lakoni dan jalani sehingga kelak jika ada masalah yang serupa atau lebih berat dari sebelumnya kita sudah siap, kita sudah mampu dan sudah bisa melewatinya. Kita mungkin berkata “kenapa harus saya, ya Allah?”, maka Allah menjawabnya dalam surat cinta yang abadi.


لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”  (QS. Al-Baqarah: 286)

Nah, sudah sangat jelas bagaimana solusi dan pemaparan Allah. Allah tahu bahwa semua ujian, coba dan masalah yang menghampiri sesuai dengan kesanggupan kita. Maka jika kita bertanya dan berkata “kenapa harus saya, ya Allah?”, maka Allah menjawab, “karena kamu mampu! Kamu bisa!”.

Jadi apa yang harus kita lakukan? Jalani semuanya. Nikmati prosesnya dan minta sama Allah untuk dimudahkan dan dimampukan. Jangan meminta untuk dihilangkan dari diri, tapi mintalah kesanggupan dan kemampuan untuk menghadapinya.

Tapi susah? Berat? Tidak yakin?

Jangan mengeluh! Cari solusi. Cari seribu alasan untuk menghadapi dan menyelesaikannya. Sertakan Allah di dalamnya. Lalu lihat bagaimana nikmat yang Allah guyurkan pada diri kita setiap harinya.

Katakan pada diri, “kenapa saya harus mengeluh sementara nikmat Allah begitu banyak?”

Lihat diri kita dan nikmat yang Allah berikan. Apakah ada nikmat yang bisa kita hitung? Sama sekali tidak dan tidak akan pernah. Apakah ada nikmat yang mampu kita balas? Sama sekali tidak. Adakah nikmat yang bisa kita bayar? Sama sekali tidak. Lalu mengapa kita harus mengeluh?

 Dibanding masalah, ujian dan cobaan yang kita dapatkan dengan nikmat yang Allah berikan. Manakah yang lebih besar? Tentunya nikmat Allah lebih besar lagi. Lalu bagaimana mungkin kita bisa mengeluh?


فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar-Rahman: 55)

Jika sudah melihat diri sendiri, selanjutnya lihatlah orang lain.

Apakah hanya kita yang punya masalah? Hanya kita yang punya ujian dan cobaan? Hanya kita yang memiliki hidup yang berat dan susah? Ternyata tidak. Di luar sana, orang-orang juga memiliki ujian dan cobaan. Apakah mereka masih bisa tersenyum? Apakah mereka masih bisa menyambung dan melanjutkan hidupnya? Apakah mereka berhenti dan berlari dengan keputusasaan? Tidak! Mereka menghadapi dan menyelesaikannya. Lalu bagaimana mungkin kita bisa dengan mudahnya mengeluh?

Bukankah kita sadar dan paham betul bahwa selagi napas masih ada dan kehidupan masih berjalan, maka selama itu ujian, cobaan dan masalah akan menghampiri? Dari itu, jangan mengeluh dan berlari meninggalkan. Karena semua hadir untuk kita selesaikan dan hadapi. Tapi ingat, sertakan Allah di dalamnya dan minta kemudahan dan kemampuan. Karena dengan-Nya, solusi dan jalan keluar akan diberikan.

Jangan mengeluh. Nikmati proses dan pembelajaran yang Allah berikan, lalu katakan pada ujian, cobaan dan masalah bahwa kita punya Allah yang Mahabesar. Lalu belajarlah dari orang-orang di luar sana yang memiliki ujian dan cobaan yang lebih besar dari kita, tapi ia masih bisa tersenyum dan optimis menjalani hidup.

“Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah shallallahu’alahi wasallam bersabda: “Lihatlah orang-orang yang berada di bawah kalian, dan janganlah melihat orang yang berada di atas kalian karena hal itu lebih pantas agar kalian tidak menganggap rendah nikmat Allah yang telah dianugerahkan kepada kalian.” (HR. Al-Bukhari no. 6490 dan Muslim no. 2963)


Penulis: Muhammad Ramli