Sebab Matinya Hati

Buletin
Abu Hasan
15 Nov 2019
Sebab Matinya Hati

Oleh: Azwar Iskandar, S.E.

Hati diibaratkan raja, sedang anggota badan adalah prajuritnya. Bila rajanya baik, maka akan baik pula urusan para prajuritnya. Bila rajanya buruk, buruk pula urusan para prajuritnya. Rasulullah bersabda, “Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik, seluruh tubuh menjadi baik. Jika ia rusak, seluruh tubuh juga menjadi rusak. Ketahuilah (segumpal daging) itu ialah hati” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hati yang sakit atau bahkan mati adalah kondisi yang tentu saja tidak diinginkan. Seorang hamba yang berhati sakit atau mati, hakikatnya adalah hamba yang sedang memiliki hati yang keras. Sementara hati yang keras adalah alamat kecelakaan. Allah berfirman, “Sungguh celaka orang-orang yang berhati keras dari mengingat Allah, mereka itu berada dalam kesesatan yang amat nyata” (QS. Az-Zumar: 22). Syaikh as-Sa'di rahimahullah menerangkan, orang yang berhati keras itu tidak bisa memetik pelajaran dari nasehat-nasehat yang didengarnya, tidak bisa mengambil faedah dari ayat maupun peringatan-peringatan, tidak tertarik meskipun diberi motivasi dan dorongan, tidak merasa takut meskipun ditakut-takuti. Inilah salah satu bentuk hukuman terberat yang menimpa seorang hamba, yang mengakibatkan tidak ada petunjuk dan kebaikan yang disampaikan kepadanya kecuali justru memperburuk keadaannya (Lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 225). Bahkan, Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Tidaklah seorang hamba mendapatkan hukuman yang lebih berat daripada hati yang keras dan jauh dari Allah” (Lihat al-Fawa'id, hal. 95). Sehingga, selayaknya kita sebagai makhluk yang lemah, selalu memohon dan berdoa kepada Rabb penguasa hati, agar hati kita tetap dalam bimbingan-Nya, berada di atas ketaatanketaatan dan ditetapkan di atas agama-Nya.  

Namun, berdoa tentu saja tidak cukup. Doa yang tulus harus diiringi dengan usaha dan mujahadah. Di antara hal yang membantu dalam usaha mulia itu adalah dengan mengenali sebab-sebab yang menjadikan hati kita sakit atau bahkan mati. Apa saja sebabsebab itu?

Pertama, kemusyrikan.

Inilah sebab utama hati menjadi keras. Hak Allah dari hamba-hamba-Nya adalah untuk disembah dengan semurni-murninya penghambaan. Ketika seorang hamba musyrik kepada-Nya, ia telah melanggar hak-Nya. Hati tidak akan bisa selamat kecuali dengan bertauhid kepada Allah semata. Sejauh kualitas ketulusan iman dan kemurnian keyakinan yang dimiliki seorang hamba, sejauh itu pulalah kelapangan dada dan kebersihan hati yang bisa ia raih. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahmahullah berkata, “Kebersihan dan kelapangan hati itu terletak pada keberhasilannya di dalam meraih tujuan diciptakannya, yaitu mengenal Allah, mencintai dan mengagungkan-Nya. Dan kebinasaannya terletak pada hal yang sebaliknya. Maka tidak akan ada kebaikan dan kelapangan sama sekali bagi hati tanpa merealisasikan hal-hal tersebut” (Majmu Fatawa, 18/163).

Kedua, meninggalkan al-Quran.

Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa seorang hamba dikategorikan sebagai orang yang meninggalkan al-Quran (Q.S. Fathir : 30-31) ketika ia : tidak mau mendengar lafadz-lafadznya, tidak mau membaca dan memahaminya, tidak mau mengamalkannya, tidak mau menjadikannya hukum dalam kehidupan, dan tidak mau menjadikannya obat bagi penyakit-penyakit hati dan jasad. Untuk itu, Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu menasihati kita dengan berkata, “Sesungguhnya hati ini adalah laksana bejana, maka isi dan sibukkanlah ia dengan al-Quran dan jangan diisi dan disibukkan dengan selainnya”. Begitu cara kita menghidupkan hati. Jika tidak, hati kita terancam sakit bahkan mati. Wal-'iyadzu billah.

Ketiga, meninggalkan sunnah-sunnah Rasulullah.

Sunnah Rasulullah adalah petunjuk setelah al-Qur'an. Keduanya adalah jalan keselamatan. Jauh darinya adalah alamat kesesatan. Syaikh Abdullah bin Hamud al-Farih hafizhahullah berkata, “Jika seorang hamba senantiasa menjaga sunnah dan menjadikannya hal yang paling penting untuk dipegang, akan terasa sulit baginya meremehkan kewajiban atau kurang dalam pelaksanaannya. Lalu ia pun mendapat keutamaan lain, yaitu ia senantiasa mengagungkan syiar-syiar Allah. Sehingga hatinya pun hidup karena ketaatan kepada Allah”.
 
Keempat, tidak atau kurang mengingat mati.
Ingat mati bisa merontokkan hawa nafsu yang menguasai hati yang sakit. Hal ini dapat ditelaah dari peristiwa Fir'aun ketika tenggelam dan menghadapi kematian di depan mata. Ia takluk dan menyatakan beriman kepada Allah, Tuhannya Bani Israil. Dalam al-Qur'an disebutkan (yang artinya), “Hingga bila Fir'aun itu telah hamper tenggelam berkatalah dia, “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)” (Q.S. Yunus: 90). Sa'id bin Jabir radhiyallahu 'anhu berkata, “Jika mengingat mati hilang dari dalam hatiku, maka aku takut hatiku ini menjadi rusak.”
 
Kelima, mengikuti langkah-langkah setan dan hawa nafsu.
Allah berfirman (yang artinya), “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya, dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. al-Jatsiyah: 23).
 
Perhatikanlah, bagaimana sikap tunduk kepada kehendak nafsu menjadi faktor yang menyebabkan hati dikunci mati. Perhatikan dan renungkan pula, bagaimana pengaruh tertutupnya hati itu menjalar ke anggota tubuh lainnya. Coba simak kembali kalimat dalam ayat tersebut : “dan meletakkan tutupan atas penglihatannya?”.
 
Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu berkata, “Sesungguhnya kebajikan itu menyebabkan cahaya di dalam hati, sinar di wajah, kekuatan pada jasmani, melapangkan rizki dan rasa cinta banyak orang. Sedangkan keburukan (dosa) menyebabkan kegelapan di dalam hati, kemuraman pada muka, kelemahan pada jasmani dan benci manusia.”
 
Selain sebab-sebab di atas, terdapat faktor-faktor lain yang menyebabkan hati menjadi keras dan mati yaitu adalah berlebihlebihan dalam makan, tidur, tertawa, berbicara dan bergaul (Lihat al-Fawa'id, hal. 95) Sebaik-baik perkara adalah yang sederhana dan pertengahan. Tatkala Islam mensyariatkan untuk banyak tersenyum, maka Islam juga melarang untuk banyak tertawa, karena segala sesuatu yang kebanyakan dan melampaui batas akan membuat hati menjadi mati.
 
Sebagaimana banyak makan dan banyak tidur bisa mematikan hati dan melemahkan tubuh, maka demikian pula banyak tertawa bisa mematikan hati dan melemahkan tubuh. Rasulullah bersabda, “Janganlah kalian banyak tertawa, karena banyak tertawa akan mematikan hati.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah, dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami' no. 7435). Untuk itu, senantiasa menjaga lisan agar tidak berlebihlebihan baik dalam berbicara, tertawa maupun lainnya, adalah sebuah keniscayaan. “Sesungguhnya ada seorang hamba berbicara dengan suatu kalimat; tidak diucapkan kecuali untuk membuat tertawa orang-orang yang hadir di majelis, maka ia terhempas (ke dalam jurang jahannam yang dalamnya) lebih jauh (dari jarak) antara langit dan bumi. Dan sungguh terpelesetnya lisan, lebih berat daripada seseorang terpeleset kakinya”, kata Nabi kita dalam sebuah haditsnya.
 
Sebagai kesimpulan, menjaga hati agar tetap hidup dan tidak mati adalah sebuah kewajiban. Menjaganya sebagai tempat bersemayamnya iman adalah jalan keselamatan. Apa jadinya hidup ini jika hati tidak dihuni iman? Iman itulah yang menunjukkan jalan terang untuk melintasi jejak-jejak kehidupan agar tetap berada di atas koridor-Nya.
 
Mari menjaga hati, jangan biarkan ia mati. Doa kepada ilahi adalah mutlak dalam aksi. Mengenali sebab-sebab ia mati adalah usaha untuk disiasati. Dengan begitu, semoga saja ia selalu hidup dan tidak mati.
 
Disadur dari Majalah SEDEKAH Plus edisi 49.